Mozaik Peradaban Islam

Kesultanan Ustmaniyah Menaklukan Konstantinopel (5): Istanbul dan Perubahan Gelombang Sejarah

in Monumental

“Konstantinopel berganti nama menjadi Istanbul dan dijadikan ibu kota. Mengetahui Ustmaniyah berjaya, kekuatan-kekuatan Eropa mengubah rute perdagangannya ke Atlantik. Sebuah babak baru kolonialisme Eropa dimulai.”

–O–

Istanbul, ibu kota Turki hari ini. Photo: Polly Hayes

Sultan Mehmed II mengubah nama Konstantinopel menjadi Istanbul, dan untuk pembangunannya kembali setelah penaklukan, Mehmed memandang bahwa jejak-jejak masa lalu kota ini tidak perlu dihancurkan. Sebaliknya, dia berusaha menjadikan masa lalu sebagai inspirasi untuk menciptakan makna baru, bangunan-bangunan lama dia alih-fungsikan ke fungsi-fungsi baru. Hagia Sophia hanya salah satu dari enam gereja yang diubah menjadi masjid.[1]

Untuk mengubah struktur kehidupan bermasyarakatnya, Mehmed memerintahkan agar bangunan-bangunan utama kota dialih-fungsikan untuk kepentingan pelaksanaan tradisi Islam. Sebagai contoh, Sheikh Akşemseddin dikatakan telah “menemukan” makam Abu Ayyub al-Anshari, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang meninggal dalam usaha penaklukan Konstantinopel di era Kekhalifahan Umayyah. Makamnya kemudian dipugar dan bangunan di sebelahnya dijadikan masjid. Posisinya berada di luar dinding kota di dekat Golden Horn. Bangunan tersebut dalam versi Turkinya disebut Eyüp. Hal tersebut sangat penting untuk dilakukan, sebab ini menjadi semacam legitimasi penaklukan Konstantinopel atas nama Islam. Mehmed juga memerintahkan pembangunan sebuah istana di pusat kota di situs Forum Bizantium Tauri, di mana Bayezid Square dan Universitas Istanbul berdiri pada hari ini.[2]

Pembangunan dan alih fungsi besar-besaran struktur kota ini mengisyaratkan bahwa Istanbul akan dijadikan ibu kota Kesultanan Ustmaniyah (Ottoman), menggantikan Edirne. Pada saat yang bersamaan itu juga menjadi pernyataan dari Mehmed, bahwa dia adalah pewaris sah Kesultanan Ottoman dan sebagai penguasa Muslim terkemuka. Pada tahun 1459, di sebuah situs bekas pusat peradaban Bizantium, diletakkan batu pertama untuk pembangunan istana yang indah yang disebut Eski Saray (Tempat Lama). Pada tahun 1463, masjid dengan nama Sultan Mehmed II mulai didirikan.[3] Masjid tersebut kini disebut dengan nama Masjid al-Fatih. al-Fatih artinya adalah “penakluk”, sebuah gelar yang disematkan kepada Mehmed II karena telah berhasil menaklukan Konstantinopel.[4]

Khusus untuk Mehmed dan lingkaran orang-orang terdekatnya didirikan sebuah istana di Topkapı. Tempat ini terlarang, hanya diperuntukkan bagi sultan. Dari sini, dia menanamkan aura misteri dan kekuasaannya agar memiliki jarak dengan orang-orang kebanyakan, menandakan bahwa dia adalah seseorang dari kelas dan hierarki yang berbeda dan mesti diagungkan. Peraturan tersebut baru dikeluarkan menjelang masa pemerintahannya berakhir. Aturan ini memastikan bahwa sultan-sultan selanjutnya akan jarang terlihat di depan umum, bahkan di hadapan para abdi dalem. Tidak ada ketentuan bagi seorang sultan untuk tampil di depan umum: dia harus disembunyikan di balik tirai dari tatapan pejabat-pejabat negaranya ketika mereka bertemu dalam empat kali seminggu untuk mengajukan petisi kepadanya. Pada abad berikutnya, sultan-sultan muncul di hadapan publik hanya pada dua hari raya – Idul Fitri dan Idul Adha.[5]

 

Gelombang Perubahan Sejarah

Penaklukan Sultan Mehmed II atas Konstantinopel — dan menjadikannya sebagai ibukota Ottoman — membuat Kesultanan Ottoman dapat melembagakan sistem politik yang akan tetap bertahan sampai tahun 1922. Ottoman kini memiliki sebuah ibu kota di persimpangan dua benua – Asia dan Eropa, di mana mereka dapat terus memperluas wilayah mereka tanpa mesti khawatir akan adanya musuh yang mengancam dari belakang wilayah kekuasaan mereka. Penaklukan ini juga memungkinkan Ottoman untuk mengkonsolidasikan dan memperluas wilayah kekuasaan mereka di Eropa.[6]

Bagi beberapa sejarawan, kejatuhan Konstantinopel merupakan penanda bagi berakhirnya peradaban kuno. Kekaisaran Romawi, setelah sekian lama mengalami kemunduran yang perlahan — pertama di Barat dan sekarang di Timur — akhirnya benar-benar berakhir. Bizantium sudah tidak ada lagi. Dan lembaran 1.500 tahun dalam sejarah peradaban manusia telah berakhir. Karena periodesasi di dalam sejarah tidak pernah disertai dengan batas-batas yang disepakati secara universal, banyak sejarawan yang juga menggambarkan jatuhnya Konstantinopel sebagai akhir periode Abad Pertengahan (Middle Ages). Dengan perhitungan umum yang dapat diterima, Abad Pertengahan dimulai pada abad ke-5, ketika jatuhnya Kekaisaran Romawi di Barat, dan berlangsung sampai sekitar 1.000 tahun sampai kemenangan Ottoman atas Konstantinopel pada tahun 1453.[7]

Perubahan besar ini menawarkan transisi yang rapih ke dalam periode berikutnya dalam sejarah Eropa, yakni Renaissance. Dengan berakhirnya Bizantium di tangan Ottoman, banyak orang Yunani dan intelektual lainnya melarikan diri, dan memilih untuk menetap di Italia. Konsentrasi ini memacu kembali kelahiran seni dan budaya klasik. Selain itu, sementara Ottoman berhasil mengamankan kekuatan dan pengaruh Imperiumnya selama beberapa abad di titik lintas benua antara Eropa dan Asia, kekuatan-kekuatan di Eropa yang tidak bersahabat dengan Ottoman mencari alternatif rute perdagangan baru ke Timur Jauh.[8]

Hanya berselang beberapa puluh tahun kemudian, pada tahun 1492, Raja Katolik dari Spanyol modern — Ferdinand dan Isabella — membiayai perjalanan ke arah barat untuk rute perdagangan baru. Mereka mempercayakan misi eksplorasi penting ini kepada Christopher Columbus.[9] Bukan hanya Spanyol, negara bangsa lainnya di Eropa yang baru bangkit, seperti Portugal, Belanda, dan Inggris juga memindahkan rute perdagangannya dari Laut Tengah ke Samudra Atlantik. Dengan penemuan, penaklukan, dan bermukim, bangsa-bangsa ini berkembang dan berkoloni di seluruh dunia, menyebarkan institusi dan budaya Eropa. Periode kolonialisme modern telah dimulai.[10] (PH)

Seri Kesultanan Ustmaniyah Menaklukan Konstantinopel selesai.

Sebelumnya:

Kesultanan Ustmaniyah Menaklukan Konstantinopel (4): Jatuhnya Konstantinopel

Catatan Kaki:

[1] Caroline Finkel, Osman’s Dream: The Story of the Ottoman Empire 1300-1923 (Basic Books: 2006), hlm 41.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] “Fatih Camii”, dari laman https://archnet.org/sites/1982, diakses 20 September 2018.

[5] Caroline Finkel, Ibid., hlm 41-42.

[6] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 183.

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] Ibid., hlm 184.

[10] Charles E. Nowell, Harry Magdoff, dan Richard A. Webster, “Colonialism, Western”, dari laman https://www.britannica.com/topic/colonialism, diakses 20 September 2018.