Mozaik Peradaban Islam

Kisah Nabi Shaleh (8): Sembilan Orang Pembunuh

in Studi Islam

Last updated on September 25th, 2019 03:02 pm

Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. (Q.S 27: 48)

Foto Ilustrasi: MarquisAmon/Deviant Art

Untuk menambah khazanah pengetahuan pembaca tentang kisah Nabi Shaleh, maka kami tampilkan riwayat lainnya menurut versi Ibnu Katsir. Seluruh narasi dan alur pemaparan ayat Alquran di dalamnya ditulis oleh Ibnu Katsir. Berikut ini adalah riwayatnya:

Orang-orang kafir sekarang mulai mengeluh bahwa unta besar ini dengan karakternya yang tidak biasa telah meminum sebagian besar air dan membuat hewan ternak mereka ketakutan. Mereka menyusun rencana untuk membunuh si unta, dan meminta bantuan kaum perempuan mereka untuk merayu para lelaki untuk melaksanakan perintah mereka.

Saduq binti Mahya, yang berasal dari keluarga kaya dan bangsawan, menawarkan dirinya kepada seorang pria muda bernama Masrai bin Mahraj dengan syarat bahwa dia harus melukai si unta. Aniza, seorang wanita tua, menawarkan salah satu putrinya kepada seorang pria muda, Qudar bin Saluf, sebagai imbalan untuk membunuh si unta. Tentu saja para pemuda ini tergoda dan mulai mencari tujuh orang lainnya untuk membantu mereka.

Mereka mengawasi si unta dengan cermat, mengamati semua gerakannya. Ketika unta datang untuk minum di sumur, Masarai menembaknya di kaki dengan panah. Ia mencoba melarikan diri tetapi terhambat oleh panah. Qudar mengikuti si unta dan menebasnya dengan pedang di kaki lainnya. Saat ia jatuh ke tanah, dia menikamnya dengan pedangnya.

Para pembunuh disambut sebagai pahlawan, disoraki dengan lagu dan puisi yang disusun untuk memuji mereka. Dalam kesombongan mereka, mereka mengolok-olok Shaleh, tetapi dia memperingatkan mereka, “Nikmatilah hidup selama tiga hari lagi, lalu azab akan turun kepada kalian.”

Shaleh berharap bahwa mereka akan menyadari kebodohan dari pilihan mereka dan mengubah sikap mereka sebelum tiga hari berlalu. “Kenapa tiga hari?” mereka bertanya, “biarkan azab datang secepat mungkin.”

Dia memohon kepada mereka, “Umatku, mengapa kalian bergegas kepada kejahatan ketimbang kebaikan? Mengapa kalian tidak meminta pengampunan dari Allah agar kalian mendapatkan ampunan?”

Mereka menjawab, “Kami melihat kehadiranmu dan pengikutmu membawa keburukan kepada kami.”

Allah SWT menceritakan kisah mereka:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru), “Sembahlah Allah.” Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuhan.

Dia berkata, “Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.”

Mereka menjawab, “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu.”

Shaleh berkata, “Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji.”

Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.

Mereka berkata, “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar.”

Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya.

Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui. Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa. (Q.S 27: 45-53)

Mereka juga berencana untuk membunuh Shalih dan keluarganya, seperti yang dikatakan Allah SWT, “Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (Q.S 27: 50)

Allah menyelamatkan Shaleh dan pengikutnya dari rencana jahat mereka. Dengan berat hati, mereka meninggalkan para pelaku kejahatan dan pindah ke tempat lain. Tiga hari setelah peringatan Shaleh, petir memenuhi udara, diikuti oleh gempa bumi besar yang menghancurkan seluruh suku dan tempat tinggal mereka.

Tanah itu terguncang dengan sangat keras, menghancurkan semua makhluk hidup di dalamnya. Ada satu tangisan mengerikan yang hampir-hampir tidak pernah berakhir ketika orang-orang kafir umat Shaleh disambar kematian, sekali dan seluruhnya, pada saat yang bersamaan. Baik bangunan mereka yang kuat maupun rumah batu pahat mereka tidak dapat melindungi mereka.

Allah Taala berfirman:

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.

“Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.”

Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka, “Tahukah kamu bahwa Shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?”.

Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya.”

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.”

Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata, “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).”

Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.

Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata, “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat.” (Q.S 7: 73-79).[1] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Ibnu Katsir, Qisas Al-Anbiya, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Muhammad Mustapha Geme’ah (Darussalam: Riyadh, e-book version), Chapter 4, Prophet Salih.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*