Mozaik Peradaban Islam

Kitab Al-Luma’ fi At-Tashawwuf Karya Abu Nasr as-Sarraj (16): Bab 52, Perbedaan Tafsir Sufistik

in Pustaka

Last updated on September 12th, 2019 11:35 am

Al-Junaid, berkata, “Orang faqir yang sebenarnya adalah orang yang tidak merasa cukup dengan sesuatu, namun segala sesuatu merasa cukup dengannya.”

Foto Ilustrasi: Sohniii/Deviant Art

Bab 52:

Tentang Alasan Perbedaan Pendapat di Kalangan Ahli Hakikat Ihwal Tafsiran Mendalam Atas Pengertian-pengertian Ajaran-ajaran dan Kondisi Spiritual Mereka

Berkata syaikh (Abu Nashr Al-Sarraj), semoga Allah merahmatinya: Ketahuilah—semoga Allah membenarkan pemahamanmu dan melenyapkan tipu daya darimu: Mereka yang mengalami keadaan-keadaan spiritual dan para pemilik hati juga dianugerahi tafsiran-tafsiran mendalam atas berbagai makna kondisi spiritual, ilmu, dan hakikat mereka.

Mereka menggali makna tiap pengertian subtil dan tersembunyi dari teks-teks Alquran dan Hadis. Dan kami akan berusaha menyebutkan sekilas tentang hal itu— Insya Allah. Tafsir-tafsir mendalam mereka juga tidak lepas dari perbedaan pendapat sebagaimana perbedaan yang terjadi di kalangan eksoteris.

Hanya saja, perbedaan yang terjadi di kalangan eksoteris akan mengakibatkan kesimpulan hukum yang salah dan keliru. Sedangkan perbedaan yang terjadi dalam ilmu batin tidak mengarah ke sana. Karena kesimpulan mereka berupa keutamaan, kebaikan amal, kemuliaan, kondisi spiritual, akhlak, kedudukan dan derajat spiritual.

Dikatakan bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama fiqih (ilmu lahir) merupakan rahmat Allah Swt., karena yang benar akan memberikan jawaban kepada yang salah dan menjelaskan kepada umat tentang kesalahan orang yang tidak sependapat dengannya. Dengan demikian, mereka dapat menghindari pihak yang salah. Andai tidak demikian, manusia akan rusak akibat aturan agamanya terkikis habis.

Sementara ini perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama ahli hakikat juga merupakan rahmat dari Allah Swt. Karena masing-masing mereka berbicara sesuai dengan momen spiritualnya, menjawab sesuai dengan kondisi spiritualnya dan memberi isyarat sesuai dengan penghayatan dan pengalaman mistisnya.

Karena itu, apa yang mereka katakan amatlah berguna bagi setiap orang dari kalangan ahli takwa, pemilik hati, para penempuh jalan spiritual, kaum arif, dan itu pun tidak berlaku sesuai dengan tingkat pencapaian derajat dan kekhususan mereka.

Apa yang dikatakan tentang Dzu Al-Nun, semoga Allah merahmatinya, akan menjelaskan apa yang telah aku paparkan sebelumnya. Seseorang bertanya kepadanya tentang orang yang memiliki kemiskinan ruhani sesungguhnya (al-faqîr), maka dia menjawab,”Orang faqir yang sebenarnya adalah orang yang tidak bisa menaruh kepercayaan kepada segala sesuatu, namun sebaliknya, segala sesuatu akan menaruh kepercayaan kepadanya.”

Seseorang bertanya kepada Abu ‘Abd Allah Al-Maghribi (wafat kira-kira 299/911-12), semoga Allah merahmatinya, tentang seorang faqir yang sebenarnya, maka ia menjawab, “Dialah orang yang tidak memiliki segala sesuatu, dan dia juga tidak dimiliki oleh segala sesuatu.”

Abu Al-Harits Al-Awlasi (w.297/909-10) pernah ditanya tentang pertanyaan yang sama, maka dia menjawab, ”Orang faqir yang sebenarnya adalah yang tidak dekat dengan sesuatu, sementara segala sesuatu dekat dengannya.”

Jawaban Yusuf bin Al-Husain[1]lain lagi, “Orang faqir adalah orang yang memperhatikan waktu ruhaninya secara serius. Jika dia masih melihat ke waktu kedua, maka dia belum berhak disebut faqir.”

Husain bin Manshur (Al-Hallaj), semoga Allah merahmatinya, ditanya tentang faqir yang sebenarnya, maka dia menjawab, “Faqir yang sebenarnya adalah orang yang tidak memilih keadaan hidupnya dengan suatu pandangan untuk mengamankan kepuasannya sendiri.’’

Nuri, semoga Allah merahmatinya, ditanya tentang faqir yang sebenarnya, maka dia menjawab, ”Orang faqir yang sebenarnya ialah orang yang tidak pernah berprasangka buruk kepada Allah Swt sebagai hasil dari keadaan pribadi dan yang menyerahkan dirinya bulat-bulat pada Allah dalam segala keadaan spiritual.”

Samnun,[2] semoga Allah merahmatinya, ditanya tentang orang faqir yang sebenarnya, maka dia menjawab, “Ialah orang yang merasa senang terhadap apa yang hilang sebagaimana senangnya orang yang ‘bodoh’ terhadap apa yang ada. Sebaliknya, dia merasa gelisah terhadap apa yang ada sebagaimana gelisahnya orang yang ‘bodoh’ terhadap apa yang hilang.”

Abu Hafsh Al-Naisaburi[3] ditanya tentang seorang faqir yang sebenarnya, “Ialah orang yang tetap dalam pengendalian dalam setiap waktunya. Dan jika ada satu hal yang menyeretnya dan akan mengeluarkannya pengendalian waktu spiritualnya, dia menemukan kegelisahan.”

Al-Junaid, semoga Allah merahmatinya, berkata, “Orang faqir yang sebenarnya adalah orang yang tidak merasa cukup dengan sesuatu, namun segala sesuatu merasa cukup dengannya.”

Demikian pula ketika seseorang bertanya tentang masalah yang sama pada Murta’isy Al-Naisaburi (w.328/939), semoga Allah merahmatinya, maka dia menjawab, “Orang faqir yang sebenarnya adalah orang yang dimakan kutu namun dia tidak memiliki kuku untuk menggaruknya.”

Mereka telah memberikan jawaban yang berbeda-beda sebagaimana perbedaan waktu dan kondisi spiritual mereka, dan semua itu baik. Karena setiap jawaban yang mereka ajukan memiliki sasaran yang sesuai. Dan tentu saja jawaban-jawaban tersebut mempunyai manfaat, nikmat, kelebihan, dan rahmat bagi mereka.

Pada titik ini, Sarraj menerapkan apa yang baru saja dikatakannya tentang “tafsiran-tafsiran mendalam” atas pembacaan kaum Sufi secara tersendiri dari Alquran dan Sunah. Selanjutnya, dia mengembangkan beberapa lusin bab ringkas yang berorientasi praksis yang mengandarkan (menjelaskan) bagaimana kaum Sufi membuat tafsiran-tafsiran mereka dari sumber-sumber wahyu juga peneladan mereka atas sahabat-sahabat Nabi Saw. Akhirnya, sebelum menguraikan tingkat pemikiran Sufi yang lebih dalam sebagaimana diungkapkan dalam ujaran-ujaran rahasia dan problematis, Sarraj kembali pada aspek kunci dari epistemologi Sufi. (MK)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Yusuf bin al-Husain ar-Razi (wafat 304/916), adalah teman dari Abu Turab an-Nakhshabi di kota Rayy, Iran, dia dianggap sebagai seorang ahli tulus.

[2] Samnun (atau kadang dieja Sunman) al-Muhibb (artinya “Sang Kekasih”) Ibnu Hamza al-Khawwa (wafat sekitar 298/910) adalah seorang mistikus Baghdadi dan teman Nun yang menempatkan cinta di atas pengetahuan eksperiensial.

[3] Abu Hafs an-Naysaburi al-Haddad (wafat sekitar 265 / 878-79) adalah seorang pesuluk ternama dari Nishapur di Khurasan yang perilaku ekstremnya kadang-kadang dikaitkan dengan kelompok yang berhubungan dengannya, yang disebut dengan Malamati, mereka yang “menyalahkan diri sendiri”, melalui praktik penyangkalan diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*