Mozaik Peradaban Islam

Kitab Al-Luma’ fi At-Tashawwuf Karya Abu Nasr as-Sarraj (17): Bab 122, Ilmu-Ilmu Nabi (1)

in Pustaka

Last updated on September 14th, 2019 08:41 am

Rasulullah Saw bersabda, “Seandainya kalian tahu apa yang aku ketahui, tentu kalian tidak akan banyak tertawa dan tentu akan lebih banyak menangis.”

Foto Ilustrasi: mustafa20/deviant art

Bab 122:

Tentang Interpretasi atas Berbagai Disiplin dan Aspek-aspek Problematis dari “Disiplin-disiplin Khusus” sebagaimana Dipahami Kalangan Pakar, dan Afirmasi Pengetahuan Mistis yang Didukung Bukti

Syaikh Abu Nashr as-Sarraj, semoga Allah merahmatinya, berkata: Ketahuilah bahwa ilmu-ilmu itu melampaui pemahaman dari mereka yang berusaha memahami dan mengatasi kemampuan intelektual dari orang-orang yang menerapkan akal mereka. Cukuplah bagi Anda, kisah Nabi Musa as dengan Nabi Khidhir as.

Bagaimana yang terjadi pada diri Nabi Musa as ketika bersama Nabi Khidhir as sementara Musa memiliki keagungan dan keistimewaan yang diberikan oleh Allah berupa kenabian, wahyu, mendapat gelar Kalimullâh (Nabi yang diajak bicara oleh Allah),[1] dan penunjukkannya sebagai rasul Tuhan.[2]

Allah Swt. telah menyebutkan dalam Alquran yang dituturkan melalui seorang nabi yang berlidah sangat jujur, Nabi Muhammad, ihwal ketidakmampuan Nabi Musa as untuk memahami ilmu yang diberikan kepada salah seorang hamba-Nya (yakni Khidhir) dimana Allah Swt  berfirman, Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami beri rahmat dari sisi Kami. (QS. Al-Kahfi [18]: 65), sampai pada akhirnya Nabi Musa as bertanya, “Bolehkan aku mengikutimu?” dan seterusnya (QS. Al-Kahfi [18]: 66).[3]

Kisah tersebut melukiskan pengakuan Allah terhadap Nabi Musa dan kemuliaannya, juga ketakmungkinan beliau mengingkari Nabi Khidhir, sebagaimana Nabi Khidhir as sendiri tidak mungkin dan tidak akan selamanya bisa menyamai tingkatan Nabi Musa as dalam kenabian, kerasulan, dan diajak bicara langsung oleh Allah Swt sehingga mendapat gelar al-Kalîm.

Rasulullah Saw bersabda, “Seandainya kalian tahu apa yang aku ketahui, tentu kalian tidak akan banyak tertawa dan tentu akan lebih banyak menangis. Kalian tidak akan bisa merasakan kenikmatan dengan perempuan dan tidak akan betah tidur di atas tempat tidur, sehingga kalian akan keluar ke gurun pasir untuk berlindung kepada Allah. Demi Allah, aku berandai-andai menjadi sebatang pohon yang telah ditebang.”[4] Hadis ini diriwayatkan oleh Israil dari Ibrahim ibn Mujahir dari Mujahid ibn Muwarriq[5]dari Abu Dzarr[6] dari Nabi Saw.

Riwayat ini merupakan petunjuk atas makna firman Allah Swt., Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. (QS. Al-Ma’idah [5]: 67). Allah Swt tidak mengatakan, sampaikan apa yang telah Kami beritahukan padamu berupa makrifat.

Dan sekiranya Rasulullah Saw mengatakan, “Andaikan kalian tahu apa yang aku tahu,” merujuk pada sejumlah ilmu (misalnya makrifat—penerj.) yang diperintahkan Allah untuk disampaikan, tentunya beliau akan menyampaikannya. Sekiranya mereka patut untuk mengetahuinya, niscaya Rasulullah Saw. akan mengajari mereka.[7]

Allah Swt. memberi kekhususan pada Nabi Saw dengan tiga ilmu: pertama, ilmu yang beliau ajarkan untuk orang-orang khusus dan juga untuk umum, yaitu ilmu yang menyangkut aturan hukum, perintah dan larangan.

Kedua, ilmu yang khusus diberikan untuk sekelompok sahabat, dan tidak diberikan kepada yang lain. Ini sebagaimana yang beliau ajarkan kepada Hudzaifah bin Al-Yaman. Sampai suatu ketika Umar bin Khattab[8]ra pernah bertanya kepada Hudzaifah, “Wahai Hudzaifah, apakah aku ini termasuk dalam daftar orang-orang munafik?”

Sebagaimana juga diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib yang pernah mengatakan, “Rasulullah mengajariku tujuh bab ilmu yang tidak seorang pun selain aku yang mengetahuinya.” Ini bisa diketahui, bila salah seorang sahabat Rasulullah Saw. menghadapi persoalan yang rumit ia akan menanyakannya kepada Ali bin Abi Thalib. (MK)


Catatan Redaksi: Penjelasan tentang Ilmu Nabi Muhammad yang ketiga akan dilanjutkan dalam sambungan artikel ini, mengingat  Syaikh Abu Nashr as-Sarraj menjelaskannya dengan cukup panjang.

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Percakapan, kalam: Musa dikenal sebagai Kalim Allah, “Orang yang bercakap-cakap dengan Tuhan.”

[2] Risalah, istilah teknis yang digunakan untuk membedakan misi para nabi tertentu, yang misinya melampaui “kenabian” (nubuwwah), di mana mereka diutus untuk semua orang dan diberi kitab suci.

[3] Kalimat lengkap dari ayat-ayat ini adalah, “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khidhr: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.’.” (Q.S 18: 65-67)

[4] Di sini Sarraj telah mengkombinasikan beberapa bagian hadis, dalam kalimat terakhir hadis ini sesungguhnya Nabi Muhammad mengatakan bahwa dia berharap bahwa Allah menciptakan dirinya sebagai pohon, yang mana setelah pohon itu tumbang, buahnya akan dimakan. Maknanya mungkin adalah bahwa dia tidak akan menderita akibat pengetahuan yang terlalu sulit untuk ditanggung.

[5] Muwarriq bin Mushamrij al-Ijli (wafat 105/723 atau 108/726) adalah seorang tradisionalis asal Basrah.

[6] Abu Dzar al-Ghifari (wafat 32/652) adalah salah satu sahabat yang masuk Islam pada masa awal. Dia banyak meriwatkan hadis-hadis. Selain itu, dia juga dikenal sebagai orang yang zuhud dan mencapai tingkat spiritual yang tinggi karena kesederhanaannya dalam hidup.

[7] Poin yang dimaksud adalah bahwa, meskipun ayat Alquran ini merujuk pada pengetahuan, dan Nabi diharuskan untuk menyampaikannya, namun hadis yang dimaksud merujuk kepada pengetahuan yang hanya diberikan kepadanya secara pribadi.

[8] Umar bin Khattab, selain dikenal sebagai khalifah kedua Islam, dia juga adalah mertua dari Nabi Muhammad.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*