Mozaik Peradaban Islam

Kronik Nusantara tentang Kerajaan Islam Pertama di Jawa (5)

in Islam Nusantara

Last updated on September 5th, 2018 03:43 pm

Asumsi Agus Sunyoto tentang adanya pertentangan antara orang-orang Islam dengan penganut Trantra Bhirawa memang dijelaskan dalam sejarah dan terverifikasi oleh bukti-bukti arkelologis.”

—Ο—

Asumsi Agus Sunyoto bahwa ketidakserasian hubungan antara Sri Kertanegara dengan Arya Wiraraja yang disebabkan oleh perbedaan agama di antara mereka, memang sulit dibuktikan secara pasti. Tapi di dalam karya monumentalnya, Agus Sunyoto ternyata memberikan argumentasi yang cukup kuat atas asumsinya. Bahkan penjelasannya dapat menyajikan perspektif lain dari narasi sejarah nusantara abad pertengahan. Khususnya pada masa peralihan dari Singasari ke Majapahit.

Berdasarkan penuturan Agus Sunyoto:

Hubungan Sri Kertanegara dengan Arya Wiraraja sendiri mulai tersulut api perselisihan sewaktu Sri Kertanegara berusaha mewujudkan ambisinya untuk meluaskan wilayah kekuasaannya ke seluruh Nusantara dengan menyebarkan tidak hanya kekuatan militer tetapi juga ajaran Tantrayana, sekte tantra-Bhirawa ke Sumatera, yaitu ajaran agama yang sejak semula selalu berselisih dengan pemeluk Islam. Tampaknya Arya Wiraraja selaku seorang Muslim memiliki kewajiban moral untuk mencegah perkembangan ajaran yang dalam ritualnya menggunakan persembahan manusia sebagai korban ksetra-ksetra. Itu sebabnya, Sri Kertanegara terlibat perselisihan pandangan dengan Patih Amangkubumi Pu Raganata Sang Ramapati, Tumenggung Wirakreti dan pujangga Santasmrti dalam usaha penyatuan Nusantara, yang semuanya diturunkan jabatannya menjadi pejabat tua (wreddha) untuk digantikan pejabat-pejabat muda (yuwa), Arya Wiraraja yang ikut menolak program penyatuan Nusantara pun diturunkan jabatannya dari demung menjadi adipati di Madura.[1]

Dalam kerangka ini, terdapat dua hal yang perlu dicermati dari pespektif Agus Sunyoto di atas. Pertama, perbedaan tersebut agaknya bukan terjadi karena alasan intoleransi di antara keduanya. Mengingat Sri Kertanegara sendiri sebenarnya memiliki hubungan yang baik dengan negara Islam seperti Champa. Hal ini terbukti dengan dinikahkannya saudari Sri Kertanegara yang bernama Ratu Tapasi dengan Raja Champa bernama Jayasingawarman III. Iklim toleransi ini masih terus dilestarikan oleh Majapahit yang juga menikahkan Sri Kertawijaya dengan putri Darawati yang beragama Islam dari negeri Champa.[2]

Jadi bisa dikatakan bahwa perselisihan keduanya, bukan dilatari oleh alasan intoleransi, tapi lebih pada ketidaksetujuan pada implementasi keberagamaan satu sama lain. Sebagaimana diungkap oleh Agus Sunyoto di atas, bahwa Arya Wiraraja selaku seorang Muslim (dan juga sebagai manusia beradab umumnya) memiliki kewajiban moral untuk mencegah perkembangan ajaran yang dalam ritualnya menggunakan persembahan manusia sebagai korban ksetra-ksetra. Ditambah lagi, pada saat itu, Sri Kertanegara malah bermaksud meluaskan pengaruh ajaran-ajaran tersebut ke seluruh wilayah Nusantara. Sehingga sangat wajar, bila kemudian Arya Wiraraja – termasuk para petinggi lainnya seperti Patih Amangkubumi Pu Raganata Sang Ramapati, Tumenggung Wirakreti dan pujangga Santasmrti – merasa sangat khawatir dengan rencana tersebut.

Kedua, sentimen keagamaan di antara Sri Kertanegara dengan Arya Wiraraja juga agaknya dilatari oleh faktor historis. Berdasarkan naskah Kitab Musarar, perselisihan antara pemeluk ajaran Syiwa-Buddha Tantra sekte Tantra Bhirawa dengan pemeluk agama Islam, sebenarnya sudah berlangsung cukup lama.

Dikisahkan dalam Kitab Musarar bahwa suatu saat Sultan al-Gabah dari negeri Rum (Persia sekarang) telah mengirimkan 20.000 keluarga Muslim untuk tinggal di Jawa, tetapi hampir seluruhnya tewas dimangsa siluman, brejasakan, ilu-ilu, dan banaspati.[3] Mendengar berita ini, al-Gabah murka. Dia lalu mengirimkan ulama yang memiliki karomah dan kesaktian untuk menghadapi penganut Tantra Bhirawa, sekaligus menyiapkan Pulau Jawa agar dapat dihuni oleh kaum Muslimin. Di antara ulama sakti yang dikirim itu adalah Syeikh Subakir, yang kemudian menanam tumbal di Gunung Tidar (Bahasa Kawi, Tidar artinya kematian), dan setelah melaksakan tugasnya Syeikh Subakir kemudian kembali ke negeri asalnya.[4]

Kisah yang disampaikan dalam historiografi Jawa tersebut memang agak sulit dipahami, mengingat narasinya yang terdengar agak mistis. Tapi menurut Agus Sunyoto, agaknya babak kisah yang dikemukakan oleh Kitab Musarar tersebut ada hubungannya dengan kedatangan orang-orang Persia asal Lor yang kemudian bermukin di Loram, atau wilayah Dusun Laren yang ada di sebelah Utara pulau Jawa.[5] Bila diperkirakan, waktu kedatangan mereka berkisar antara abad ke-8 hingga ke-9 Masehi.

Menurut Prof. Wan Hussein Azmi, pada sekitar awal abad kesembilan Masehi, setidaknya, ada tiga keluarga Persia yang datang ke berbagai wilayah di Indonesia dan membentuk klan di tanah Air. Pertama, keluarga Lor atau Lur, yang tinggal di Jawa Timur. Mereka mendirikan pemukiman Lor yang dikenal dengan nama Lorin, Loran, atau Leran yang berarti orang-orang Lor. Mereka diperkirakan tiba di era kerajaan Nasiruddin Ibn Badr yang memerintah wilayah Lor, sekitar tahun 912 Masehi atau 300 Hijriah. Kedua, keluarga Jawani yang tinggal di Pasai, Aceh. Keluarga inilah yang menyusun khat Jawi yang artinya tulisan Jawi yang dinisbatkan kepada Jawani. Mereka pernah memerintah di Iran sekitar tahun 913 Masehi atau 301 Hijriah. Ketiga, keluarga Syiah yang mendirikan perkampungan yang dikenal dengan nama “Siak”, lalu berkembang menjadi Nagari Siak, yang diberi nama “Siak Seri Inderapura”. Diperkirakan mereka datang di era pemerintahan Ruknuddaulah Ibn Hasan Ibn Buwaih Al-Dailami sekitar tahun 969 Masehi.[6]

Bila dihubungkan dengan bukti arkeologis, kisah di atas agaknya memiliki kaitan dengan informasi yang tertera di Prasasti Pucangan[7] yang mencatat adanya peristiwa Pralaya, yaitu peristiwa penyerbuan ibu kota Kerajaan Dharmawangsa di Wwatan oleh Aji Wurawari dari Loram, yang bermuara pada hancurnya Aji Wurawuri di Loram oleh serangan balasan Airlangga sebagaimana disebutkan dalam prasasti Cane.[8] Menurut Agus Sunyoto, istilah Wurawuri sendiri memiliki arti raja berkulit merah seperti bunga wurawuri. Secara simbolik ini menunjukkan bahwa Aji Wurawuri sendiri agaknya adalah orang asing yang berasal dari negeri yang jauh. Dugaan kuatnya, dia berasal dari Persia. Sebagaimana disebutkan oleh prasasti Terep, sisa-sisa kekuatan Aji Wurawuri ternyata masih mampu melakukan serangan balik terhadap pasukan Airlangga di Wwatan Mas, yang berakhir pada larinya Airlangga ke Desa Patakan.[9]

Menurut Agus Sunyoto, rangkaian narasi yang dikisahkan oleh historiografi Jawa dan bukti-bukti arkelologis dari banyak prasasti ini, memang merupakan tafsir cerita atas apa yang dikemukakan oleh Kitab Musarar tersebut. Lebih jauh menurut Agus Sunyoto, “Perselisihan orang-orang Lor dengan Airlangga itu tidak dapat ditafsirkan lain kecuali dalam kaitan dengan fakta dianutnya ajaran Tantra-Bhirawa oleh keluaraga Raja Dharmawangsa dan Airlangga, dimana ibunda Airlangga sendiri, Mahendradatta, dikenal sebagai seorang Bhairawi. Begitulah, perselisihan orang-orang beragama Islam dengan penganut Syiwa-budha Tantra sekte Tantra-Bhirawa di Nusantara sudah berlangsung berabad-abad sebelum masa Sri Kertanegara berkausa.” [10] (AL)

Bersambung ke:

Kronik Nusantara tentang Kerajaan Islam Pertama di Jawa (6)

Sebelumnya:

Kronik Nusantara tentang Kerajaan Islam Pertama di Jawa (4)

Catatan Kaki:

[1] Lihat, Agus Sunyoto, “Atlas Wali Songo; Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah”, Tanggerang Selatan, IIMaN, 2018, hal. 25

[2] Lihat, K. Subroto, Kesultanan Demak; Negara yang Berdasarkan Syariat Islam di Tanah Jawa, Syamina, Laporan Khusus Edisi II / Januari 2016, hal. 13

[3] Sebutan simbolik untuk pengikut sekte Tantra Bhirawa yang dalam upacara Pancamakara/Malima ditandai ritual minum darah dan memakan daging manusia di Ksetra. Lihat, Ibid, hal. 126

[4] Ibid

[5] Agus Sunyoto, Op Cit, hal. 126

[6] Lihat, Prof. Madya DR. Wan Hussein Azmi, Islam di Aceh Masuk dan Berkembangnya Hingga Abad XVI, dalam Prof. A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Medan, PT. Al Ma’arif, 1993, Hal. 185

[7] Prasasti Pucangan merupakan sebuah prasasti yang berbahasa Sanskerta dan Jawa Kuno, merupakan prasasti peninggalan zaman pemerintahan Airlangga, yang menjelaskan tentang beberapa peristiwa serta silsilah keluarga raja secara berurutan. Prasasti ini disebut juga dengan Calcutta Stone, karena sekarang prasasti ini disimpan di Museum India di Kolkata (Calcutta), India. Lihat, Wikipedia, Prasasti Pucangan, https://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Pucangan, diakses 27 Agustus 2018

[8] Lihat, http://sejarahbudayanusantara.weebly.com/kerajaan-kahuripan.html, diakses 27 Agustus 2018

[9] Lihat, Agus Sunyoto, Op Cit, hal. 126

[10] Ibid, hal. 127

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*