Mozaik Peradaban Islam

Memaknai Revolusi Imam Husein (1): Warisan Agung

in Studi Islam

Last updated on October 17th, 2018 10:38 am

Jika ada sesuatu yang berharga dalam sejarah Islam, itu bukanlah perang, atau politik, atau sejumlah ekspansi yang brilian, atau penaklukan yang gemilang, atau bahkan jejeran karya intelektual para pendahulu kita.

–O–

Ilustrasi Husein bin Ali bin Abi Thalib di Karbala. Photo: hawzahnews

Pengantar

Kaum Muslimin pada umumnya sudah tentu mengenal nama Husein bin Ali bin Abi Thalib. Cucu Nabi Muhammad SAW dari putri semata wayangnya, Fathimah Zahra, dan Ali bin Abi Thalib, itu umumnya dikenal dengan gelar Sayidina atau Imam. Dia dan saudara tertuanya, Hasan, umum dikenal sebagai dua pemuda penghulu surga. Hasan dan Husein adalah dua nama yang senantiasa secara bergandengan dikenang sebagai dua cucu kesayangan Nabi—suatu keistimewaan yang melekat abadi.

Bagi kaum Muslimin, mencintai Sayidina Hasan dan Sayidina Husein merupakan bagian tak terpisahkan dari keterikatan mereka dengan agama. Apalagi banyak yang meyakini hal itu sebagai “upah” perjuangan Baginda Rasul seperti dalam firman Allah berikut: “Itulah karunia Allah untuk menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak meminta suatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada Al-Qurba (kerabat dekat). Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan kebaikan baginya. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS 42: 23). Terlepas dari perbedaan tafsir atas ayat ini, tidak sedikit ulama yang menafsirkannya sebagai anjuran untuk mencintai Ahlul Bait Nabi, dan Sayidina Husein sudah jelas termasuk di dalamnya.[1]

Selain ayat di atas, ada banyak hadis dan sunah Nabi yang juga menganjurkan umat untuk mencintai Ahlul Bait. Misalnya, Ibn Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa ingin mewakilkan urusannya kepada Allah, hendaklah dia mencintai Ahlul Baitku; barangsiapa ingin selamat dari siksa kubur, hendaklah dia mencintai Ahlul Baitku; barangsiapa ingin memperoleh hikmah, hendaklah dia mencintai Ahlul Baitku; dan barangsiapa ingin masuk surga tanpa hisab, hendaklah dia mencintai Ahlul Baitku. Demi Allah, tak seorangpun mencintai mereka kecuali dia beruntung di dunia dan akhirat.”[2]

Berlimpahnya anjuran Nabi untuk mencintai Ahlul Bait pada gilirannya merasuk dalam kesadaran kolektif umat sepanjang sejarah. Bahkan, para penguasa yang memusuhi Ahlul Bait pun tidak dapat terang-terangan melakukannya lantaran ada konsensus umat bahwa siapa saja yang terbukti memusuhi (nashibi) mereka, maka dia akan mendapat status tercela dan persona non grata. Karena berbagai dalil dan latar belakang seperti itulah maka kita hingga hari ini menyaksikan di seantero dunia Islam ada ekspresi kecintaan pada mereka. Maulid Nabi pun menjadi upacara yang dilakukan oleh mayoritas mutlak umat, yang di dalamnya dibacakan keutamaan Nabi dan keluarganya, termasuk kecintaan beliau terhadap Hasan dan Husein. Hampir di tiap masjid dan langgar di Indonesia terdengar lantunan Li Khomsatun yang berisi permohanan kepada Allah agar memadamkan api neraka melalui 5 tokoh, Al-Musthofa Muhammad, Al-Murtadho Ali, dua putranya, dan Fathimah.

Khusus menyangkut Sayidina Husein, di dalam budaya masyarakat Nusantara di beberapa daerah ada tradisi yang bertujuan untuk memperingati dan memaknai perjuangan Imam Husein. Orang-orang Melayu di Kalimantan hingga Sumatera memiliki tradisi membuat Bubur Asyura. Bubur ini hanya dibuat pada bulan Muharram dan dibuat dari 10 bahan, sebagai simbol peringatan 10 Muharram. Di pulau Jawa, masyarakat juga menjalankan tradisi Bubur Suro yang dibuat pada bulan Muharram. Dan di kawasan pulau Sumatera bagian barat, seperti Sumatera Barat dan Bengkulu, sudah sejak lama masyarakat menjalankan tradisi Tabot, Tabut, atau Tabuik. Tradisi ini hingga sekarang masih tetap berlangsung setiap tahun, serta disadari oleh masyarakat sebagai upacara peringatan atas syahidnya Sayidina Husein.[3]

Festival Tabuik di Pariaman, prosesi akhir pembuangan Tabuik ke laut. Tradisi ini erat kaitannya dengan pemaknaan terhadap perjuangan Imam Husein. Photo: Ihsan Ananda

 

Warga Banjarmasin melakukan tradisi memasak Bubur Asyura. Bubur ini hanya dibuat pada bulan Muharram dan dibuat dari 10 bahan, sebagai simbol peringatan 10 Muharram. Photo: banjarmasinpost

Selain latar belakang dan sosoknya yang demikian mulia, kisah hidup dan perjuangan Husein merupakan salah satu cahaya yang terang dalam sejarah Islam. Inilah salah satu sisi terbaik dari sejarah Islam yang derajat keunggulannya melampui sejumlah kisah penaklukan dan pengaruh kekuasaan politik Islam di masa lalu. Sebagaimana kata Abdullah Yusuf Ali,[4] penerjemah dan penafsir al-Quran yang demikian kondang itu, dalam refleksinya terhadap kisah Sayidina Husein berikut:[5]

Islam memiliki sejarah tentang indahnya rasa kasih sayang, penderitaan dan upaya keras perjuangan spiritual, yang tidak ada duanya di dunia. Sisi dari sejarah Muslim tersebut, meskipun bagi saya paling berharga, saya mohon maaf untuk mengatakan, sering kali diabaikan. Sangatlah penting kita memerhatikan hal ini, menegaskan berulang-ulang perhatian kita terhadapnya, agar hal ini juga diperhatikan oleh orang-orang kita sendiri dan menarik perhatian mereka yang tertarik pada kebenaran sejarah dan agama.

Jika ada sesuatu yang berharga dalam sejarah Islam, itu bukanlah perang, atau politik, atau sejumlah ekspansi yang brilian, atau penaklukan yang gemilang, atau bahkan jejeran karya intelektual para pendahulu kita. Dalam hal ini, sejarah kita, seperti semua sejarah, memiliki terang dan temaramnya. Tapi yang secara khusus perlu kita tekankan adalah tentang semangat perkumpulan, persaudaraan, dan keberanian tanpa lelah dalam kehidupan moral maupun spiritual.

Maka itu, tidak heran bila kisah hidup dan perjuangan Sayidina Husein yang mengandung segenap unsur kemuliaan, kasih sayang, ketabahan, dan keberanian, tetap diperingati dan dimaknai hingga hari ini. Seri tulisan ini hanyalah upaya kecil di tengah warisan agung umat Islam dan umat manusia yang mencoba menelisik jejak Sayidina Husein, yang berujung dengan drama pengorbanannya di padang sahara Karbala tahun 61 Hijriah. (MK)

Bersambung ke:

Memaknai Revolusi Imam Husein (2): Oligarki Jahiliah Vs Egaliterianisme Islam

Catatan kaki:

[1] Untuk melihat pembahasan luas ihwal siapa yang dimaksud al-Qurba dalam ayat di atas, rujuk karya Muhibbudin Ath-Thabari Al-Makki Al-Syafi’I berjudul Dzakhair Al-‘Uqba fi Manaqib Dzawil Qurba, tahqiq Akram Al-Busyi dan suntingan Mahmud Al-Arnauth, diakses dari https://archive.org/details/ThakhayirUkba/page/n0 pada 10 Oktober 2018. Selain itu, tafsir ayat di atas juga harus diletakkan dalam konteks ayat-ayat lain dan puluhan hadis Nabi yang berbicara tentang Ahlul Bait secara umum dan keutamaan Al-Hasan dan Al-Husein secara khusus. Sebagai contoh, ayat 33 surah Al-Ahzab menyebutkan kehendak Allah untuk mensucikan Ahlul Bait Nabi sesuci-sucinya. Hadis yang turut menjelaskan ayat tersebut secara tegas menyebut 5 orang berikut sebagai Ahlul Bait, yakni Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein. Rujuk, antara lain, Al-Hakim Al-Naisaburi, Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihayn, juz 3, hal. 185, hadis 4705, suntingan Muhammad Abdul Qadir Atha, cetakan pertama 1411 H, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut & Abu Bakar Ahmad Al-Bayhaqi, Al-Sunan Al-Kubra, juz 2, hal. 214, hadis 2861, suntingan Muhammad Abdul Qadir Atha, cetakan pertama 1414 H, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut.

[2] Muwaffaq Al-Khawarizmi, Maqtal Al-Husein, Maktabah Al-Mufid, Qum, t.t., jilid 1, hal. 59; Ibrahim Al-Juwayni, Faraid Al-Simthayn, Muassasah Al-Mahmudi, Beirut, jilid 2, hal. 294; dan Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanabi’ Al-Mawaddah, Dar Al-Uswah, Teheran, jilid 2, hal. 332.

[3] Mengenai tradisi Festival Tabuik, redaksi Ganaislamika.com pernah mengulasnya dalam serial tulisan berjudul “Festival Tabuik di Pariaman (1): Peringatan Wafatnya Husein, Sebuah Asimilasi Kebudayaan”. Untuk membaca, bisa mengakses melalui link berikut: https://ganaislamika.com/festival-tabuik-di-pariaman-1-peringatan-wafatnya-husein-sebuah-asimilasi-kebudayaan/

[4] Abdullah Yusuf Ali (lahir 14 April 1872 – meninggal 10 Desember 1953 pada umur 81 tahun) adalah seorang cendekiawan muslim yang menerjemahkan Al Qur’an dalam bahasa Inggris. Terjemahan Al Qur’an oleh Yusuf Ali bersama-sama dengan terjemahan oleh Marmaduke Pickthall adalah terjemahan bahasa inggris yang paling luas digunakan saat ini. Lihat, Wikipedia, Abdullah Yusuf Ali, https://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_Yusuf_Ali, diakses 12 September 2018

[5]Islam has a history of beautiful domestic affections, of sufferings and of spiritual endeavour, second to none in the world. That side of Muslim history, although to me the most precious, is, I am sorry to say, often neglected. It is most important that we should call attention to it, reiterated attention, the attention of our own people as well as the attention of those who are interested in historical and religious truth. If there is anything precious in Islamic history it is not the wars, or the politics, or the brilliant expansion, or the glorious conquests, or even the intellectual spoils which our ancestors gathered. In these matters, our history, like all history, has its lights and shades. What we need especially to emphasise is the spirit of organisation, of brotherhood, of undaunted courage in moral and spiritual life.” Lihat, Imam Husayn and his Martyrdom–Reflections on Karbala by Abdullah Yusuf Ali (d. 1952), https://ballandalus.wordpress.com/2013/11/13/imam-husayn-and-his-martyrdom-reflections-on-karbala-by-abdullah-yusuf-ali-d-1952/, diakses 12 September 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*