Mozaik Peradaban Islam

Pasukan Salib Merebut Yerusalem (7)

in Sejarah

“Tahun 1081 M, Alexius I Comnenus dilantik menjadi Kaisar Byzantium. Dia memiliki kecakapan visi politik yang jauh dan kecakapan meracik strategi. Beberapa tahun kemudian, di Gereja Katholik Roma, terjadi juga pergantian kepemimpinan. Di mana Paus Urban II, yang dikenal sangat reformis dan memiliki visi untuk menyatukan kembali dunia Kristen di Eropa dilantik pada tahun 1088 M. Pada tahun 1095, Alexius menulis surat permohonan bantuan kepada Paus Urban II. Permohonan ini direspon dengan sangat serius oleh Gereja Katholik Roma. Rapat akbarpun digelar.”

–O–

Setelah mengalami kekalahan telak di Manzikart dari pasukan Saljuk, Byzantium mengalami dekadensi yang mengkhawatirkan. Di Konstantinopel, ibu kota kekaisaran Byzantium, kekacauan terjadi. Depresi ekonomi, ketakutan massal, dan ketidakpercayaan pada kaisar telah melahirkan benih-benih pemberontakan. Kaisar Nikephoros III, yang memerintah tahun 1078 sampai 1081, kehilangan daya untuk meredam situasi. Pemberontakan pun meletus. Dan pada tahun 1081, Nikephoros III yang sudah sepuh, akhirnya memutuskan untuk lengser ke prabon dan menghabiskan sisa hidupnya di biara.

Adalah Alexius I Comnenus (15 Agustus 1948-1118) yang telah memimpin pemberontakan hingga membuat Nikephoros III memutuskan untuk turun tahta. Setelah itu, secara otomatis Alexius menjadi kaisar Byzantium pada 1081. Sebelumnya, Alexius dikenal sebagai seorang jenderal kawakan yang sangat berpengaruh dan berasal dari keluarga ningrat Byzantium. Karena kecakapannya sebagai prajurit, Alexius sudah dinobatkan sebagai jenderal sejak usianya masih 24 tahun. Dan sejak memegang jabatan tersebut, dia diketahui tak pernah terkalahkan di medan tempur.[1]

Di samping cakap dalam berperang dan mengatur stategi, Alexius juga memiliki kecakapan dalam berpolitik. Segera setelah dilantik sebagai Kaisar Roma, dia langsung memahami apa yang harus dilakukan. Sebagaimana sudah dikisahkan dalam edisi-edisi sebelumnya, bahwa kedudukan Byzantium kala itu sama sekali tidak menguntungkan bila dibanding dengan saingannya di Barat (Gereja Katolik Roma), maupun di timur (Dinasti Saljuk).

Alexius sangat memahami bahwa bahaya sesungguhnya berasal dari pasukan Saljuk di timur. Tapi untuk melawannya, dia tidak mungkin melakukannya sendiri. Dia membutuhkan bantuan dari saudaranya yang ada di barat. Hanya saja, sebagai seorang Kaisar, dia tidak akan semudah itu merendahkan diri pada koleganya setelah puluhan pertempuran yang terjadi di antara mereka. Untuk itu, untuk membangun “latar belakang diplomatik”, dia memutuskan untuk mengembalikan dulu agregat kekuatan di antara mereka, agar negosiasi bisa berjalan secara adil.[2]

Pada tahun 1082, Alexius memutuskan untuk menyerang wilayah Italia sekarang, yang sebagian besarnya dikuasai bangsa Norman. Serangan tersebut tidak langsung berbuah manis. Beberapa kali para jenderal yang diutus oleh Alexius harus memilih mundur dan kembali melancarkan serangan. Tapi setelah bertempur selama 3 tahun, akhirnya pada tahun 1085, Alexius berhasil mengambil alih wilayah tersebut, sekaligus secara definitif menaikan agregat kekuatannya dengan koleganya di barat.[3]

Menariknya, selama proses perebutan wilayah ini, di samping melancarkan serangan ke wilayah koleganya di barat, Alexius tetap menjalin hubungan diplomatik dengan para petinggi Gereja Katholik Roma. Hal yang sama juga dia lakukan dengan pasukan Saljuk yang berbatasan di wilayah timur Byzantium. Sambil tak lupa, dia terus mengintai dan mencari momentum yang tepat untuk membalikkan keadaan. Semua ini jelas menunjukkan kecakapannya yang luar biasa dalam hal politik dan strategi.[4]

 

Wilayah kekaisaran Byzantium tahun 1090 M, atau sembilan tahun sebelum pecahnya Perang Salib I. Sumber gambar: www.ancient.eu

Pada tahun 1087, datanglah momentum tersebut. Tentara Saljuk berhasil merebut Yerusalem dari kekuasaan Fatimiyah dan melakukan sejumlah kekerasan kepada kaum Yahudi dan Nasrani di sana. Kemarahan dan kebencian pada tindakan pasukan Saljuk pun menyeruak di Eropa. Alexius melihat ini sebagai pelung emas untuk meracik sebuah mega-strategi guna membalikkan keadaan.

Di Eropa barat – secara kebetulan – pada tahun 1088 M, Paus Urban II diangkat menjadi pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma menggantikan Paus Gregorius VII  (memerintah 1073-1085). Berbeda dengan beberapa penduhulunya, Paus Urban II dikenal sebagai reformis yang ambisus. Tidak hanya memiliki visi untuk menyatukan kembali dunia Kristen, tapi juga sudah jauh-jauh hari mempromosikan misi untuk mengembangkan wilayah kekuasaan dengan cara apapun.[5]

Sama halnya dengan Alexius di Byzantium, ketika mendengar terjadinya kekerasan di Yerusalem, Paus Urban II juga langsung meracik strategi guna mencapai tujuannya. Tapi berbeda dengan Alexius yang hanya ingin mengambil alih wilayahnya dari cengkraman Saljuk, Urban II memiliki keinginan untuk menyatukan kembali Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodok Timur, dengan dia sendiri sebagai pemimpin tertingginya.[6]

Untuk mengambil hati koleganya di Timur, Urban sendiri sempat mengirim pasukan untuk membantu Bizantium pada tahun 1091 melawan bangsa nomaden di stepa Pecheneg yang menyerang wilayah utara kekaisaran Byzantium. Tapi bantuan ini agaknya tidak disepakati semua pihak di dalam kekuasaanya. Sehingga ketika sekali lagi Urban II ingin memberikan bantuan kepada Byzantium, usulannya ditolak dengan berbagai alasan.[7]

Tapi pendapat umum ini kemudian berubah pada tahun 1095. Ketika itu datang surat dari Alexius yang secara resmi memohon bantuan kepada Paus Urban II agar membantunya membebaskan Asia Kecil dari tangan Saljuk, sekaligus membebaskan tanah suci Yerusalem dari kekuasaan kaum Muslimin. Yang Alexius tidak pernah bayangkan, mungkin respon dari koleganya di barat. Segera setelah menerima surat dari Alexius, Paus Urban II langsung mengumpulkan semua petinggi gereja Roma untuk berkumpul di lokasi yang bernama Clermont di Prancis tengah.[8]

 

Lukisan yang mengilustrasikan suasana ketika Paus Urban II memimpin Majelis Clermont. Sumber gambar: wikipedia.org

Pada bulan November 1095 M, pertemuan akbar pun digelar. Sejarah mencatat pertemuan ini berlangsung selama 10 hari, yaitu dari tanggal 18-28 November 1095 M. Pertemuan ini diketuai oleh Paus sendiri. Tercatat 13 orang Uskup Agung yang hadir, 82 uskup, dan 90 kepala gereja. Dengan bobot kehadiran seperti ini sudah banyak yang menduga bahwa sesuatu akan terjadi. Setelah sembilan hari berdebat dan berdiskusi, akhirnya lahir dari pertemuan ini 32 kanon yang berisi sejumlah hukum larangan dan aturan mengenai berbagai masalah yang cukup umum muncul di abad pertengahan. Tapi yang mengundang perhatian adalah kanon nomor 33, yang terakhir dikeluarkan, dan inilah yang akan mengguncang dunia.[9] (AL)

Bersambung…

Pasukan Salib Merebut Yerusalem (8)

Sebelumnya:

Pasukan Salib Merebut Yerusalem (6)

Catatan Kaki:

[1] Lihat, Alexius I Komnenus, https://www.ancient.eu/Alexios_I_Komnenos/, diakses 24 Desember 2018

[2] Lihat, https://www.encyclopedia.com/history/encyclopedias-almanacs-transcripts-and-maps/alexius-i-comnenus, diakses 24 Desember 2018

[3] Lihat, Alexius I Komnenus, https://www.ancient.eu/Alexios_I_Komnenos/, Op Cit

[4] Lihat, https://www.encyclopedia.com/history/encyclopedias-almanacs-transcripts-and-maps/alexius-i-comnenus, Op Cit

[5] Lihat, https://www.ancient.eu/Council_of_Clermont/, diakses 24 Desember 2018

[6] Lihat, Pope Urban II, https://www.ancient.eu/image/8982/pope-urban-ii/, diakses 24 Desember 2018

[7] Ibid

[8] https://www.history.com/topics/middle-ages/crusades

[9] Lihat, https://www.ancient.eu/Council_of_Clermont/, Op Cit

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*