Mozaik Peradaban Islam

Perang Badr (7)

in Sejarah

Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Ali Imran: 123)

—Ο—

 

Setelah utusan kaum Muslimin berhasil memenangkan duel, kedua pasukan bersiap melakukan serangan umum. Sebagaimana dikisahkan oleh Ibn Hisyam, pasukan kaum Muslimin diperintahkan Rasul SAW untuk berbaris memanjang dalam formasi yang rapih. Agaknya ini dilakukan – salah satunya – agar jumlah mereka terlihat besar. Mengingat jumlah kaum Muslimin hanya sepertiga dari jumlah pasukan musuh. Bila pasukan berkumpul, pertempuran ini akan lebih mirip seperti sebuah pengepungan.[1]

Kemudian, untuk membakar semangat juang kaum Muslimin, Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi jiwa Muhammad yang berada dalam genggaman Tangan-Nya, pada hari ini tidak ada seorang pun yang memerangi mereka (kaum Kafir Mekkah) dengan sabar, mengharap ridha Allah, dan maju tanpa mundur, melainkan Allah memasukkannya ke dalam surga.’[2] Mendengar ini, semangat para sahabat segera terbakar. Dengan sepenuh keberanian mereka menyongsong bala tentara Mekkah yang jumlahnya lebih besar 3 kali lipat lebih besar.

Alhasil, kaum Muslim telah menjadikan Perang Badr ini lebih mirip seperti ajang pembantaian. Dalam waktu singkat, pasukan Mekkah dibuat kocar kacir. Mereka tercerai berai dan berlarian ke segala penjuru meloloskan diri. Menurut Ibn Abbas, dalam pertempuran ini kaum Muslimin berhasil membunuh 70 orang dan menawan 70 lainnya. Sedang di pihak kaum Muslimin, terdapat 14 orang yang syahid, dan tidak ada satupun yang tertawan. Di antara kaum kafir yang tewas, terdapat sejumlah tokoh-tokoh kondang seperti ‘Uthbah bin Rabi’ah, Umaiyyah bin Khalaf,[3] dan Abu Jahal.

Banyak sekali kisah yang terjadi dalam Perang Badr ini. Dan salah satu kisah yang cukup banyak dibahas oleh para ulama adalah kisah tentang kehadiran para malaikat dalam perang tersebut. Allah SWT berfirman: “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut” (QS. Al Anfal; 9)

Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al Misbah, perbedaan pendapat para ulama umumnya tentang batas keterlibatan para malaikat dalam Perang Badr?

Ada yang berpendapat bahwa malaikat yang turun itu terlibat langsung, yakni ikut dalam berperang dan membunuh kaum musyrikin. Penganut pendapat ini merujuk kepada sekian banyak hadits dan keterangan sahabat Nabi SAW. Antara lain yang diriwayatkan oleh pakar hadits Imam Muslim, bahwa Ibnu ‘Abbas menceritakan: “Ketika terjadi Perang Badr sementara, kaum muslimin mengejar salah seorang musyrik, tiba-tiba dia mendengar suara cemeti di atasnya dan suara seorang penunggang kuda yang berkata: “Cepatlah Haiuzum.” Lalu ia melihat musyrik yang dikejarnya itu telah hancur hidungnya dan terbelah wajahnya seperti akibat pukulan cemeti, dan kesemuanya berubah berwarna hijau…,” Demikian disampaikan oleh Ibnu ‘Abbas. [4]

Abdul Hamid dan Ibnu Mardawaih juga meriwayatkan melalui Abu Daud al-Mazini — yang terlibat dalam Perang Badr – bahwa: “Ketika saya mengikuti salah seorang musyrikin pada Perang Badr, saya mengayunkan pedang saya ke arahnya, tetapi kepalanya terjatuh sebelum pedang saya menyentuhnya.” Riwayat serupa dikemukakan oleh Ibnu Mardawaih melalui Abu Umamah Ibnu Sahal Ibnu Hanif yang mendapat informasi dari ayahnya yang terlibat dalam Perang Badr.[5]

Tetapi pendapat dan hadits-hadits ini ditolak atau didiamkan oleh banyak pakar tafsir. Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, merupakan salah seorang yang paling menggebu dalam menolak hadits-hadits tersebut dan menolak pendapat yang mengukuhkan keterlibatan malaikat dalam berperang apalagi membunuh kaum musyrikin. “Hadits-hadits itu diriwayatkan oleh sahabat-sahabat yang tidak terlibat dalam peperangan, Ibnu ‘Abbas ketika itu masih kecil; ditambah lagi — tulis Rasyid Ridha —menyatakan’bahwa malaikat terlibat langsung dalam peperangan* adalah memutarbalikkan kenyataan serta bertentangan dengan ayat al-Qur’an yang menegaskan bahwa kehadiran mereka adalah ‘sebagai kabar gembira dan agar tentram karenannya hati kamu[6]sedang riwayat-riwayat itu menjadikan para malaikat sebagai pasukan-pasukan perang.” Demikian Ridha.[7]

Terkait kedua pandangan ini, M. Quraish Shihab sendiri berpendapat sebagai berikut:

Ketika membahas ayat ini dalam desertasi penulis hampir dua puluh tahun yang lalu, penulis mengemukakan di sana sekian catatan menyangkut pendapat Rasyid Ridha itu. Antara lain tentang penilainnya terhadap beberapa hadits yang tidak sejalan dengan kaedah yang didukung oleh mayoritas ulama. Riwayat yang bersumber dari sahabat kecil — walau ia tidak terlibat atau melihat satu peristiwa – tetap dapat diterima. Demikian pandangan pakar-pakar hadits, berbeda dengan kritik Rasyid Ridha yang menolak riwayat Ibnu ‘Abbas dalam kasus ini, karena ketika itu ia masih kecil.”[8]

Selanjutnya Quraish Shihab membantah berbagai tuduhan Rasyid Ridha menyangkut keutamaan para sahabat yang terdistorsi bila kehadiran Malaikat di sini dianggap sebagai kehadiran dalam arti yang sesungguhnya. Terkait hal ini, Quraish Shibab berpendapat, “Di sisi lain, kita hendaknya jangan memahami keterlibatan malaikat dalam Perang Badr — baik keterlibatan langsung maupun sekedar dalam bentuk dukungan membakar semangat — jangan memahaminya dengan logika kekuatan atau mengukurnya dengan bilangan. Karena kalau logika itu kita gunakan, maka jangankan seribu malaikat, seperti informasi ayat di atas – satu pun telah cukup untuk membinasakan kaum musyrikin seluruhnya.”[9]

Dan pada akhirnya, Quraish Shihab menyandarkan kesimpulannya terkait perdebatan ini pada kesimpulan Sayyid Quthub yang menulis dalam tafsirnya bahwa: Kita percaya adanya makhluk Allah yang bernama malaikat, tetapi kita tidak mengetahui sifat dan tabiat mereka kecuali apa yang disampaikan oleh Pencipta mereka tentang mereka. Karena itu kita tidak mengetahui cara keterlibatan mereka dalam Perang Badr kecuali sebatas apa yang dijelaskan teks al-Qur’an yakni bahwa Tuhan mereka mewahyukan kepada mereka: “Sesungguhnya Aku bersama kamu. ” Dia memerintahkan mereka untuk memenggal di atas leher orang-orang musyrik dan memancung tiap-tiap ujung jari mereka, maka mereka melakukan hal tersebut dengan satu cara yang tidak kita ketahui. Ini adalah bagian dari sifat pengetahuan kita terhadap ciri malaikat, sedang kita tidak mengetahui tentang mereka kecuali apa yang diajarkan Allah kepada kita.”[10](AL)

Bersambung…

Perang Badr (8)

Sebelumnya:

Perang Badr (6)

 

Catatan kaki:

[1] Lihat, Sirah Nabawiah Ibn Hisyam (jilid 1), Fadhli Bahri, Lc (Penj), Jakarta, Batavia Adv, 2000, hal. 475

[2] Lihat, Ibid, hal. 476

[3] Umaiyyah bin Khalaf inilah orang yang menyiksa Bilal di Makkah agar Bilal meninggalkan Islam. Umaiyyah bin Khalaf membawa Bilal ke padang pasir Makkah ketika sedang panas membara, membaringkannya, dan menyuruh batu besar diletakkan di atas dada Bilal. Umaiyyah bin Khalaf berkata kepada Bilal, ‘Engkau terus dalam keadaan seperti ini atau engkau meninggalkan agama Muhammad!’ Bilal menjawab, ‘Ahad (Allah Maha Esa). Ahad (Allah Maha Esa).’ Ketika Bilal melihat Umaiyyah bin Khalaf, ia berkata, ‘Ini dia gembong kekafiran, Umaiyyah bin Khalaf. Aku tidak selamat jika dia selamat.’ Aku berkata kepada Bilal, ‘Hai Bilal, bukankah dua orang ini tawananku?’ Bilal berkata, ‘Aku tidak selamat jika dia selamat.’ Aku berkata kepada Bilal, ‘Apakah engkau tidak mendengar suaraku, hai anak Si Hitam?’ Bilal berkata, ‘Aku tidak selamat jika dia selamat.’ Bilal berteriak dengan suara terkerasnya, ‘Hai para penolong Allah, ini dia gembong kekafiran. Aku tidak selamat jika dia selamat’.” Lihat, Sirah Nabawiah Ibn Hisyam (jilid 1), Fadhli Bahri, Lc (Penj), Jakarta, Batavia Adv, 2000, hal. 480

[4] Lihat, M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, Volume 5, Jakarta, Lentera Hati, 2005, Hal. 396

[5] Ibid

[6] Lihat, (QS. Al Anfal; 10), Allah SWT berfirman: “Dan Allah ‘tidak menjadikannya, melainkan sebagai kabar gembira dan agar tenteram karenannya hati kamu. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

[7] Lihat, M. Quraish Shihab, Op Cit, hal. 397

[8] Ibid, hal. 397

[9] Ibid, hal. 398

[10] Ibid, hal. 398-399