Mozaik Peradaban Islam

Sejarah Fikih (1): Makna dan Penamaan

in Studi Islam

“Fikih ialah memadukan ilmu dan amal. Seorang fakih adalah orang yang memalingkan diri dari dunia, zuhud demi urusan akhirat, serta menguasai bidang agama.” (Imam Hasan al-Basri)[i]

Foto: Daniel Candal/Moment Open/Getty Images

Mempelajari sejarah sebuah ilmu, pada dasarnya adalah upaya mengetahui gagasan, problem, tujuan dan buahnya, sehingga jelas manfaat mempelajarinya. Begitu pula, ketika menelaah sejarah fikih.

Tinjauan Makna

Secara konsepsi, fikih bukan hanya tentang cabang-cabang hukum Islam, semisal ibadah dan muamalah. Fikih adalah sebuah tatanan kompleks tentang hidup manusia, meliputi akidah, ibadah, sosial, ekonomi, legislasi, dan politik.[ii] Seiring waktu, fikih mengalami pergeseran makna secara berangsur-angsur. Terlebih pada dekade akhir, Fikih telah menjadi cabang ilmu, bukan pokok syariat.

Imam Abu Hanifah mendefinisikan fikih sebagai ‘pengetahuan diri tentang sesuatu yang bermanfaat dan berbahaya baginya.’[iii] Dia terinspirasi dari ayat, “Bagi jiwa apa yang baik baginya, dan apa yang buruk baginya.” (QS.al-Baqarah: 286). Ia pun memberi nama kitabnya dalam bidang akidah dengan sebutan, ‘al-Fiqh al-Akbar’.

Sementara Imam Syafii menginterpretasikan Fikih sebagai ‘sebuah pengetahuan tentang hukum-hukum syariat, yang dihasilkan dari argumentasi-argumentasi detail.’ Definisi inilah yang kemudian menjadi sangat populer.[iv] Sederhananya, fikih adalah ilmu menggali hukum.

Pergeseran makna ini disikapi oleh Imam al-Ghazali, dengan pernyataannya, “Orang-orang telah mengambil tindakan terhadap penamaan Fikih, dikonotasikan terhadap Ilmu tentang fatwa, argumentasi dan latar belakangnya. Padahal di era awal, nama ‘fikih’ digunakan untuk menyebut pengetahuan tentang akhirat, aneka penyakit dalam diri dan hal-hal yang merusak amal perbuatan, juga pembahasan tentang tema-tema merendahkan dunia dan menggairahkan hati untuk memburu kenikmatan akhirat.” [v]

Ibnu Mazhur mengakui hal ini. Menurutnya, ‘Makna fikih pada dasarnya adalah sebuah pemahaman. Argumentasi Qurani menyebutkan, “li yatafaqqahu fid-din, agar mereka memahami agama.”(Qs.at-Taubah:122). Nabi saw juga pernah mendoakan Ibnu Abbas dengan untai doa, “Allahumma allimhu al-din, wa faqqihhu fi al-tawil. Ya Allah, ajarkanlah kepadanya agama, berikanlah dia pemahaman tentang penakwilan.” Doa itu dikabulkan, sehingga dia menjadi orang paling mengetahui Alquran pada masanya.’[vi]

Pernyataan Ibnu Manzhur ini diamini oleh al-Halimi, dalam bukunya, al-Minhaj. Menurutnya, ‘Penggunaan fikih sebagai nama, ini baru-baru saja. Sebenarnya, fikih mencakup keseluruhan syariat sebagai medium untuk sampai kepada makrifatullah, memahami keesaan-Nya, kesucian-Nya, juga sifat-sifat lain. Termasuk, sifat-sifat para utusan. Begitu juga, yang terkait dengan ilmu laku, etika, juga konsep-konsep peribadatan.[vii]

Fakih atau Furui

Dahulu, seorang fakih adalah sebutan bagi orang yang zuhud terhadap dunia, termotivasi urusan akhirat, senantiasa melazimkan ibadah, serta bersikap wara. Seiring perubahan makna fikih, gelar itu disematkan kepada ahli hukum, atau mujtahid saja.

Jika kita mengacu pada ragam definisi, dapat disimpulkan bahwa fikih adalah upaya ‘menggali hukum’. Sehingga permasalahan-permasalahan yang dibukukan dalam kitab fikih, sebenarnya bukanlah fikih. Penghafalnya pun tidak bisa disebut fakih.

Menurut al-Abdari, dalam Syarah al-Mustashfa, masalah-masalah tersebut hanyalah produk-produk fikih. Pengetahuannya disebut furui (penukil cabang). Sebab seorang fakih adalah mujtahid yang menghasilkan solusi atas berbagai cabang permasalahan, berdasarkan argumentasi yang valid. Lalu para furui menciduknya dengan cara taklid, membukukannya, serta menghafalkannya. Hal senada juga diungkapkan oleh Ibnu Abdussalam. Menurutnya, ‘Mereka adalah para penukil fikih, bukan fukaha.’[viii]

Dikisahkan, Farqad al-Sanji pernah menemui Imam Hasan al-Basri di Makkah. Dia bertanya tentang beberapa hal, lalu dijawab oleh sang imam. “Para fukaha berbeda pendapat denganmu,” ujar Farqad.

Lalu Imam Hasan al-Basri berkata, “Celakalah engkau! Apa engkau pernah pernah melihat seorang fakih? Tahukah kau, siapa fakih itu? Dia adalah orang yang zuhud di dunia, menggemari akhirat, tekun dalam ibadah, memiliki wawasan tentang agamanya, serta bersikap wara.” [ix]

Di atas semua perbedaan definisi, hingga kini fikih tetap memiliki posisi penting dalam Islam. Sebab teks suci keagamaan memberi isyarat perihal keutamaan dan kewajiban mendalaminya. Pandangan dan ijtihad para fukaha dari era sahabat tetap diposisikan sebagai sumber rujukan utama, dilanjutkan oleh tabiin di berbagai penjuru. Dari mereka, madrasah-madrasah fikih berkembang pesat di Hijaz, Irak, Syam, Yaman, hingga Mesir, yang melahirkan institusi Mazhab fikih, khususnya empat Mazhab. (LK)

Bersambung….

Catatan Kaki:


[i] Definisi fikih menurut Ahli Makrifat, mengutip ungkapan Imam Hasan al-Basri. Lihat: Ibnu Najim, Radd al-Muhtar ala al-Durr al-Mukhtar, cet. Darr al-Kutub al-Ilmiyah, hlm 35.

[ii] Al-Qattan, Tarikh al-Tasyri al-Islami,Maktabah Wahbah, hlm 9

[iii] Dinukil dari al-Rumi, Mirat al-Ushul, vol.1, hlm 44; al-Tawdhih, vol.1, hlm, 10. Lihat: al-Zuhaili, Mawsuah al-Fiqh al-Islami, vol.1, hlm 29.

[iv] Al-Mahalli, Syarah Jam al-Jawami,vol 1, hlm 32; Lihat juga dalam Wahbah al-Zuhaili, Mawsuah al-Fiqh al-Islami, vol.1, hlm 30; al-Zarkasyi, al-Bahr al-Muhith, ta’rif al-Fiqh, cet. 14, Darr al-Kutub, vol.1, hlm 30.

[v] Al-Tahaniwi,Mawsuah Kasyf Istilahat al-Funun wa al-Ulum,hlm 41.

[vi] Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, bab huruf Fa’ (akar kata faqiha), vol 11, hlm 210.

[vii] Lihat, al-Zarkasyi, al-Bahr al-Muhith, ta’rif al-Fiqh, cet. 14, Darr al-Kutub, vol.1, hlm 30.

[viii] Ibid, hlm 33.

[ix] Ibnu Najim, Radd al-Muhtar ala al-Durr al-Mukhtar, cet. Darr al-Kutub al-Ilmiyah, hlm 120.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*