Mozaik Peradaban Islam

Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW (1): Kisah Perjuangan Hajar dan Ismail

in Sejarah

Last updated on December 23rd, 2019 06:56 am

Ibrahim dan keturunannya dijanjikan oleh Tuhan untuk menjadi nabi dan pemimpin bagi semua bangsa di dunia, melalui kedua puteranya, Ishak dan Ismail.

Foto ilustrasi

Makkah telah berkembang pada abad-abad sebelum Islam menjadi salah satu kota metropolitan paling masyhur di dunia. Kota ini maju setidaknya karena dua alasan: sebagai rute karavan perdagangan dari Samudra Hindia hingga ke Mediterania dan sebagai tempat ziarah paling penting di Semenanjung Arabia.[1]

Kemudian Makkah mulai mendunia sejak Nabi Ibrahim AS (1997-1822 SM)—Bapak Monoteisme bagi Yahudi, Kristen, dan Islam—membangun Rumah Allah (Baitullah) yang dikenal sebagai Kabah.[2]  

Ibrahim menjadi tokoh sentral bangsa Arab dan Yahudi. Bahkan, tiga agama besar samawi menghubungkan diri mereka dengan warisan sejarah Ibrahim (the legacy of Abraham) dan keluarganya.

Dalam kepercayaan Islam, Ibrahim telah memenuhi semua perintah dan cobaan, serta memelihara iman sepanjang hidupnya. Sebagai hasil dari iman yang tak tergoyahkan itu, Ibrahim dan keturunannya dijanjikan oleh Tuhan untuk menjadi nabi dan pemimpin bagi semua bangsa di dunia, melalui kedua puteranya, Ishak dan Ismail.[3]  

Kendati demikian, Nabi Ibrahim termasuk utusan Tuhan yang diuji dengan lamanya berumah tangga tanpa momongan. Ketika Ibrahim telah lanjut usia, dia masih belum memiliki anak dari istrinya, Sarah.[4] Dengan iman tak tergoyahkan, Ibrahim selalu berharap bahwa suatu hari Tuhan akan mengaruniakan anak yang akan memberikan kesenangan dan kebahagiaan di usia senjanya.

Sarah memiliki seorang sahaya wanita yang bernama Hajar yang dibawanya dari Mesir.[5] Dia memberikan sahaya wanita itu kepada Ibrahim dan mengatakan: “Aku sekarang adalah seorang wanita tua yang telah melampaui batas usia untuk mengandung. Aku memberikan kepadamu sahaya milikku, Hajar, dan berharap agar Allah akan memberimu seorang anak melaluinya.”[6]

Ibrahim memenuhi permintaan Sarah untuk menikah lagi. Dalam waktu singkat, Hajar hamil. Dia melahirkan seorang putra yang diberi nama Ismail. Kebahagiaan Ibrahim amat besar, begitu pula Hajar.

Namun, belum lama kebahagian memiliki anak itu, beliau diuji kembali untuk membawa Ismail dan istrinya, Hajar, ke Makkah. Kala itu, Makkah masih tandus tanpa ada tumbuhan maupun air. Tak seorangpun tinggal di sana. Tapi Tuhan telah memerintahkan Ibrahim untuk meninggalkan Ismail dan Hajar di tempat itu.[7] Karena Ibrahim tidak pernah membantah perintah Tuhan, maka dia meninggalkan putranya itu bersama ibunya di sana bersama sekantong korma dan sedikit air.  

Dalam perjalanan kembali ke Palestina, Ibrahim berulang kali mengangkat tangan seraya berdoa dalam kepiluan:

“Ya Tuhan Kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah Engkau yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim [14]:37).

Sementara itu, di lembah tandus Makkah, Hajar bersama bayinya hanya bisa bertahan beberapa hari dengan bekal korma dan air yang ditinggalkan Ibrahim. Hanya dalam hitungan hari, bekal itu langsung habis. Keduanya segera merasa sangat lapar dan haus. Tangis bayi mungil Ismail begitu menyayat hati Hajar. Dia terdesak sekaligus tak berdaya.

Hajar berlarian ke sana kemari berharap bisa menemukan sesuatu bagi Ismail. Dia menaiki sebuah bukit kecil al-Safa. Tapi, dia tidak bisa melihat siapa pun. Dia turun dan menaiki bukit selanjutnya, al-Marwah, lagi-lagi dia tidak melihat tanda-tanda kehidupan di sekelilingnya.[8]

Bayi mungil yang kehausan itu, kemudian menggeser-geserkan tanah dengan kakinya, dengan kuasa Tuhan, air memancar keluar diantara kaki mungil Ismail.[9] Hajar berteriak, “Tuhan Maha Tinggi.” Sambil kemudian bersujud kepada Allah Swt sebagai tanda syukur. Sumber mata air yang berkah itu kemudian dikenal sebagai Zamzam, yang menjadi tempat pemberhentian setiap karavan yang datang dari jauh. (SN)

Bersambung ke:

Catatan Kaki:


[1] Lihat kembali edisi Gana Islamika sebelumnya : https://ganaislamika.com/kaum-quraisy-16-makkah-sebagai-ummul-qura-1/

[2] Seyyed Hossein Nasr, Muhammad : Man of God (KAZI Publications, USA, 1995), hal 11-12.

[3] Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim”. (QS. Al Baqarah: 124).

[4] Martin Lings menyebut Nabi Ibrahim as kira-kira telah berusia 85 tahun dan Istrinya Sarah berusia 76 tahun seakan tidak memiliki harapan memiliki anak lagi. Lihat Martin Lings, Muhammad – His Life Based On The Earliest Sources, hal 1, diunduh dari https://ia801209.us.archive.org/10/items/LingsMuhammadHisLifeBasedOnTheEarliestSources/Lings_Muhammad%2C%20his%20life%20based%20on%20the%20earliest%20sources.pdf pada 17 Desember 2019.

[5] Berdadasarkan keterangan Ibnu Luhaiah, Hajar adalah wanita Arab yang berasal dari desa di dekat Al-Farama, Mesir. Lihat Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid I, (Darul Falah, 2000), terjemahan Fadhli Bahri, hal 4.

[6] Pada usia Ibrahim yang ke-100, Sarah yang berumur 90 tahun dijanjikan oleh Allah akan dikarunia seorang anak yang diberi nama Ishak, Martin Lings Loc. cit

[7] Lihat Karen Amstrong, Muhammad: Prophet For Our Time (Mizan, 2010), hal 62

[8] Hajar mondar-mandir antara al-Safa dan al-Marwa sebanyak tujuh kali, menjadi simbolisasi ritual Sa’i dalam ibadah haji. Lihat QS. Al-Baqarah: 158.

[9] “Semoga Allah merahmati Ummu Ismail (ibunya Ismail), seandainya saja dia membiarkan zamzam, atau seandainya dia tidak menggayung, maka air zamzam akan mengalir terus.” (HR. Bukhari, no. 3364 dan 3365)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*