Mozaik Peradaban Islam

Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW (2): Kabilah Jurhum dan Asal-Usul Bangsa Arab

in Sejarah

Last updated on January 7th, 2020 08:28 am

Setelah Hajar dan Ismail bertemu Jurhum di Makkah, leluhur bangsa Arab, Ismail tumbuh dewasa dan berbicara dengan Bahasa Arab, bahasa yang berbeda dengan bahasa bapaknya.

Lukisan tentang Hajar dan Ismail. Lukisan karya François-Joseph Navez (1787–1869) yang berjudul Hagar and Ismael in the Desert, dibuat tahun 1820. Sekarang koleksi milik Royal Museums of Fine Arts of Belgium.

Air zamzam terus memancar dari kaki Ismail. Burung-burung mencium aroma air dan berterbangan mengitari lembah sumber air baru itu.[1] Hal ini mengundang perhatian Kabilah Jurhum dari Bani Qahthan,[2] yang tinggal di bagian bawah Makkah.  Perwakilan suku Jurhum lantas pergi menuju sumber air itu dan bertemu dengan Hajar bersama putranya.[3]

Ketika mereka melihat air, mereka meminta ijin kepada Hajar dan Ismail untuk tinggal di dekat situ. Hajar pun mengizinkan. Dia sangat senang melihat Suku Jurhum dan mengatakan bahwa mereka dipersilahkan untuk berkemah di lembah tersebut.[4] Tak lupa mereka juga membangunkan tenda untuk Hajar dan Ismail. Kabilah Jurhum lantas menetap di sana dan mengandalkan air zamzam sebagai sumber kehidupan.

Leluhur Jurhum menurut mayoritas sejarawan nasabnya bersambung hingga ke Nabi Nuh AS. Silsilahnya adalah Jurhum bin Qahthan bin Abir bin Syalikh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh.[5] Ayah Jurhum, Qahthan, mempunyai banyak anak laki-laki hingga 10-31 orang, diantaranya Yarab, Hadramaut, Amman, dan Jurhum sendiri.[6]  

Keturunan Qahthan ini dikenal pula sebagai Arab al-Qahthaniyin. Atau lebih popular dikenal dengan istilah al-Arab Al-Aribah (Arab Murni) kedua, yang tersisa dari kaum Ad dan Tsamud yang merupakan Arab pertama (al-Arab Al-Baidah) yang sudah punah. Sementara, keturunan Ismail termasuk Bangsa Arab yang disebut Al-Arab al-Mustaribah, yang telah bercampur darah dengan Non-Arab akibat perkawinan.[7]   

Setelah Qahthan meninggal dunia, Yarab al-Qahthani kemudian berkuasa, yang kerajaannya berada di Negeri Yaman. Dia kemudian membagi dinastinya kepada saudara-saudaranya di Semenanjung Arabia. Masing-masing saudaranya, Hadramaut dan Amman, berkuasa dan menetap di daerah yang sekarang ini terkenal sesuai namanya. Sedangkan, Hijaz diberikan kepada Jurhum.

Di Hijaz, kabilah Jurhum tersebar di jalur para pedagang Arab Selatan menuju Laut Mediterania.[8] Kabilah ini hidup berpindah-pindah (nomaden) dari satu oase ke oase yang lain. Mereka hidup bergerombol dan mengembara untuk mencari sumber air dan makanan bagi kambing maupun unta mereka.[9] Unta merupakan kendaraan utama di Sahara kala itu. Dengan menunggang unta, sahara luas menjadi sempit dan daerah ekspansi jelajah hanya dibatasi cakrawala.[10]

Demikianlah, kabilah Jurhum yang semula hidup nomaden itu menetap bersama Hajar dan Ismail.[11] Setelah itu, pembauran dan percampuran budaya tak terelakkan. Ismail tumbuh dewasa di tengah suku Jurhum. Malah, nenek moyang Ismail yang semula berbahasa Ibrani akhirnya belajar bahasa Arab melalui suku Jurhum.[12] Dan, ketika Ismail tumbuh dewasa ia menikah dengan putri pemimpin suku Jurhum, dikaruniai dua belas anak, yang menjadi moyang Bangsa Arab.[13]

Sejak saat itu, lembah Makkah yang tandus dan sepi itu berubah semakin ramai. Banyak manusia lalu lalang melintas oasis di tengah sahara itu. Para penggembala kian sering singgah. Rombongan kafilah dagang datang silih berganti. Sekadar bertukar onta, berjualan gandum atau mendengar ajaran Ibrahim. Kabilah Jurhum telah bersatu dengan ajaran Ibrahim dan lembah Makkah selama berabad-abad.[14] Begitulah, Bani Ismail hidup di lembah itu bersama suku Jurhum dan setelah beberapa generasi sesudahnya, Muhammad SAW, dilahirkan di tempat yang sama. (SN)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Lihat Kamal As-Sayyid, The Greatest Stories of Alquran, (Zahra, 2015), hal 92.

[2] Semua suku Arab, menurut ahli silsilah tradisional, berasal dari salah satu dari dua leluhur agung: Qahthan dan Adnan. Yang pertama dikaitkan dengan Arab asli, yang terakhir dikaitkan dengan percampuran darah dengan Non-Arab. Qahtan awalnya berada di Yaman sebelum bermigrasi ke Makkah. Lihat Carol Bakhos, Ishmael on the Border, Rabbinic Portrayals of the First Arab, (State University of New York Press, Albany, 2006), hal 117.

[3] Said Muhammad Bakdasy, Sejarah Zamzam, (Turos Pustaka, 2017), hal 6.

[4] Hadis dari Ibnu Abbas, “Hal tersebut menyenangkan ibunda Ismail, karena ia mendambakan teman, maka mereka pun tinggal di situ…”, Said Muhammad Bakdasy, Ibid.

[5] Lihat Jawwad Ali, Sejarah Arab Sebelum Islam Buku 1: Geografi, Iklim, Karakteristik, dan Silsilah, (Pustaka Alvabet, 2018), hal 341-346.

[6] Ibid.

[7] Lihat Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad, Dalam Sorotan Al-Quran dan Hadis-Hadis Shahih, (Lentera Hati, 2018), hal 131-135.

[8] Lihat Irfan L. Sarhindi, The Lost Story of Kabah: Fakta-Fakta Mencengangkan Seputar Baitullah, (Qultum Media, 2013), hal 31.

[9] Lihat Dedi Ahimsa, Ibunda Hajar, (Zaman, 2009), hal 124.

[10] Lihat Fuad Hashem, Sirah Muhammad Rasulullah, (Mizan, 1989), hal 29.

[11] Lihat Dedi Ahimsa, Op.Cit, hal 129.

[12] Al-Mas’udi berkata, “Di sana, Nabi Ismail tumbuh dewasa dan berbicara dengan Bahasa Arab, bahasa yang berbeda dengan Bahasa bapaknya.” Lihat Ali Husni Al-Kharbuthli, Sejarah Ka’bah, (Pustaka Turos, 2015), hal 31.

[13] Lihat Fuad Hashem, Op.Cit, hal 45.

[14] Kekuasaan Jurhum di Makkah berakhir setelah diusir Suku Kahtan atau Bani Khuzaah dari Negeri Yaman pula pada sekitar abad ke-3 Masehi. Quraish Shihab, Op.Cit, hal 138. Atau bisa dicek kembali edisi Gana Islamika sebelumnya: https://ganaislamika.com/kaum-quraisy-3/

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*