Mozaik Peradaban Islam

Siapa Penggubah Syair Cinta Nabi Barzanji (11): Sayyid Jafar Barzanji (6): Tasawuf sebagai Titik Temu (2)

in Studi Islam

Last updated on March 24th, 2021 02:08 pm

Nabi bersabda, “Aku selalu berpindah-pindah dari tulang sulbi orang-orang/laki-laki yang suci dan ke dalam rahim-rahim wanita yang suci pula.”

Pada artikel kali ini kita masih dalam pembahasan mengenai titik temu Sunni dan Syiah berada pada Tasawuf, sebagaimana yang diungkapkan oleh Wahid Akhtar. Untuk melihat apakah pendapat ini benar atau tidak, kita akan mengambil beberapa contoh pandangan dari ulama-ulama Sunni yang mungkin memiliki beberapa kemiripan pemikiran dengan Syiah, atau dengan mereka yang menentangnya.

Syiah meyakini bahwa Nabi Muhammad saw berasal dari keturunan yang suci, dalam artian seluruh leluhur beliau adalah juga berasal dari keturunan-keturunan yang suci. Hal ini merupakan penafsiran dari sebuah hadis yang bunyinya:

“Aku Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizaar. Tidaklah terpisah manusia menjadi dua kelompok (nasab) kecuali aku berada di antara yang terbaik dari keduanya. Maka aku lahir dari ayah-ibu yang tidak terkena ajaran jahiliyyah dan aku terlahir dari pernikahan (yang sah). Tidaklah aku dilahirkan dari orang jahat sejak Adam sampai berakhir pada ayah dan ibuku. Maka aku adalah pemilik nasab yang terbaik di antara kalian dan sebaik-baik nasab (dari pihak) ayah.”[1]

Lalu ada juga hadis:

“Aku selalu berpindah-pindah dari tulang sulbi orang-orang/laki-laki yang suci dan ke dalam rahim-rahim wanita yang suci pula.”[2]

Pada umumnya orang-orang Syiah tidak memiliki perselisihan terkait kesucian nasab Nabi Muhammad saw. Berbeda halnya dengan orang Sunni yang memiliki ragam pendapat mengenai hal ini, ada yang meyakininya dan ada yang tidak.

Sekarang mari kita lihat isi Kitab Barzanji pada bab tentang nasab Rasulullah, Sayyid Jafar Barzanji menulis:

“Alangkah hebatnya nasab beliau (Nabi Muhammad saw) ini, yang tersunting sebagai butir-butir permata, penghias bintang-bintang gemerlapan (13). Mengapa tidak, bukankah beliau saw yang mulia adalah Nabi seluruh makhluk terpilih (14)?  Nasab beliau saw terhitung nasab mulia, bagaikan sekumpulan bintang kejora (15). Ibarat kalung mutiara hiasan megah, di dalamnya, engkau sangat berharga dan terpelihara (16). Alangkah mulia nasab yang telah disucikan Allah ta‘ala dari perbuatan keji di masa Jahiliyyah(17).”[3]

Dapatkan Anda melihat, bukankah syair Kitab Barzanji di atas begitu bersesuaian dengan hadis yang diyakini oleh orang Syiah?

Bukan hanya Jafar Barzanji saja, ulama Sunni kontemporer yang memiliki kecenderungan Salafi seperti Syaikh Muhammad Abduh juga bahkan membenarkan kesucian nasab Nabi Muhammad saw. Dia menulis sebuah Syarh (penjelasan/komentar) dari Kitab Nahjul Balaghah, yaitu kumpulan pidato dan surat Ali bin Abi Thalib. Di dalam Nahjul Balaghah, Ali berkata:

“…. Maka disimpan-Nya mereka itu di persimpanan paling utama, dan ditempatkan-Nya mereka itu di tempat terbaik. Berpindah-pindah dari sulbi-sulbi yang dimuliakan ke rahim-rahim yang tersucikan. Tiap kali seorang pendahulu mereka pergi, datanglah penggantinya menegakkan agama Allah, sehingga — pada akhirnya – sampailah kemuliaan itu kepada Muhammad saw. Dikeluarkan-Nya ia dari tempat pertumbuhan ‘logam’ termulia dan asal-usul terluhur. Dari pohon yang dikhususkan bagi para nabi-Nya, dan dipilih bagi para pembawa amanat-Nya. Kerabatnya sebaik-baik kerabat. Keluarganya sebaik-baik keluarga. Pohonnya sebaik-baik pohon, bertunas di tempat yang suci, tumbuh dalam kemuliaan, panjang cabang-cabangnya, tak terjangkau bebuahannya.”[4]

Syaikh Muhammad Abduh. Foto: Public Domain

Di dalam kata pengantarnya dalam Syarh Nahjul Balaghah tersebut, Muhammad Abduh mengaku bahwa sebelumnya dia tidak memiliki pengetahuan tentang kitab ini sampai dia melakukan studinya jauh dari rumahnya di negeri yang jauh. Setelah melakukan studi itu dia tercengang dan merasa seolah-olah dia telah menemukan harta karun yang begitu berharga.[5]

Meski demikian, Muhammad Abduh berkata bahwa dia berlepas diri jika syarh-nya tersebut dijadikan pembenaran bagi mazhab tertentu. Dia menulis, “Namun saya pun tak ingin menguatkan atau melemahkan berita-berita yang dinisbahkan kepada Imam Ali ra dalam persoalan imamah.

“Sebaliknya, akan saya biarkan pembaca menentukan sendiri penilaiannya setelah cukup menelaah pokok-pokok berbagai kesimpulan yang telah diketahui secara meluas, atau berita-berita yang menunjuk kepadanya.”[6]

Banyak ulama dari kalangan sufi yang juga meyakini bahwa nasab Nabi memanglah suci. Dengan demikian, hal ini menjadi sebuah konsekuensi keyakinan lainnya, bahwa orang tua Nabi tidaklah kafir sebagaimana telah dituduhkan oleh sebagian kalangan.

Dalam mengomentari hadis tentang kafirnya orang tua Nabi, Muhammad Nasiruddin al-Albani, seorang ulama berhaluan Wahabi, bahkan mendamprat tokoh-tokoh besar sufi yang menolak pengkafiran orang tua Nabi, dengan menyebut mereka tidak memiliki pedoman dan hanya terbawa nafsu semata.

Al-Albani menulis, “Jika mereka sudah tidak mempercayainya hanya karena tidak sesuai dengan perasaan dan hawa nafsu mereka, maka ini merupakan pintu yang lebar untuk menolak hadis-hadis sahih dari Nabi.

“Sebagaimana hal ini terbukti nyata pada kebanyakan penulis yang buku-buku mereka tersebar di tengah kaum Muslimin seperti al-Ghazali, al-Huwaidi, Bulaiq, Ibnu Abdil Mannan, dan sejenisnya yang tidak memiliki pedoman dalam mensahihkan dan melemahkan hadis kecuali hawa nafsu mereka semata.”[7] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah.  Imam Hakim juga meriwayatkan hadis di atas dari Anas bin Malik. Hadis yang sama diriwayatkan pula oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya juz 2, hlm 404 dan Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya juz 11, hlm 76.

[2] Hadis ini diriwayatkan dalam Kitab al-Sirah Al-Halabiyyah, juz 1, hlm 35 dan 70; Tafsir Al-Alusi, juz 7, hlm 195 dalam menafsirkan QS 6: 74; Tafsir Al-Bahr Al-Muhith, juz 7, hlm 45 dalam menafsirkan QS 26: 219; dalam Tafsir al-Razi, juz 13, hlm 39 dalam menafsirkan QS 6: 74 dan di juz 24, hlm 174 dalam menafsirkan QS 26: 219.

[3] Abu Ahmad Najieh, Terjemah Maulid al-Barzanji (Mutiara Ilmu: Surabaya, 1987), Bab II.

[4] Syaikh Muhammad Abduh, Mutiara Nahjul Balaghah: Wacana dan Surat-Surat Imam Ali ra, diterjemahkan oleh Muhammad AI-Baqir (Mizan: Bandung, 2003), hlm 29.

[5] Murtadha Mutahhari, “Selection from Glimpses of the Nahj al-Balaghah”, dari laman https://www.al-islam.org/al-tawhid/general-al-tawhid/selection-glimpses-nahj-al-balaghah-mutahhari/introduction, diakses 18 Maret 2021.

[6] Syaikh Muhammad Abduh, Op.Cit., hlm 17.

[7] Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi, “Kafirkah Kedua Orang Tua Nabi? (Antara Dalil Dan Perasaan)”, dari laman https://muslim.or.id/28443-kafirkah-kedua-orang-tua-nabi-antara-dalil-dan-perasaan.html, diakses 18 Maret 2021.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*