Mozaik Peradaban Islam

Siapa Penggubah Syair Cinta Nabi Barzanji (16): Barzanji dalam Ragam Tradisi di Indonesia (2)

in Studi Islam

Last updated on April 2nd, 2021 02:46 pm

Pada umumnya kegiatan walimah di Indonesia ada empat jenis, yaitu Walimatul Urs, Walimatul Khitan, Walimatussafar, dan Walimah Wakirah. Dan di seluruh kegiatan ini, biasanya selalu ada upacara Barzanji.

Prosesi kedatangan pengantin pria di rumah pengantin wanita masyarakat Bugis. Foto: Majalah Mahligai

Kata walimah adalah kata serapan dari Bahasa Arab yang makna asalnya adalah jamuan makan yang disediakan untuk para tamu sebagai bentuk rasa syukur.[1] Sementara itu Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan walimah sebagai “perjamuan”, dengan beberapa contohnya adalah perjamuan untuk acara sebelum keberangkatan seseorang, perjamuan perkawinan, atau akad nikah.[2]

Di luar kegiatan walimah yang disebutkan di atas, sebenarnya ada banyak sekali ragam kegiatan walimah di Indonesia. Namun Ensiklopedi Islam Nusantara menyebutkan bahwa pada umumnya kegiatan walimah di Indonesia terdapat empat jenis, mereka adalah Walimatul Urs, Walimatul Khitan, Walimatussafar, dan Walimah Wakirah.[3]

Walimatul Urs

Walimatul Urs adalah perjamuan makan yang disediakan oleh tuan rumah untuk para tamu pada sebuah acara pesta pernikahan. Tujuan dari walimah ini di samping untuk pemberitahuan kepada khalayak ia juga berfungsi untuk mendoakan kedua mempelai sekaligus bentuk rasa syukur keluarga atas berlangsungnya pernikahan tersebut.

Di beberapa tempat di Indonesia acara walimah ini biasanya dipungkasi dengan acara tahlilan bersama dan barzanjian untuk mendoakan pengantin secara berjamaah.[4]

Lain halnya dengan kalangan masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan, tepatnya di Desa Appanang, mereka menganggap bahwa jika pembacaan Barzanji belum dilaksanakan, maka proses acara pernikahan tidak dapat dilakukan.

Pada malam sebelum acara resepsi dilaksanakan, diadakan upacara membaca Barzanji yang dirangkaikan dengan acara mappanre temme (pengkhataman Alquran) dan acara membayar tinja (nazar) dalam bentuk pengukuran ulaweng (emas).

Prosesi upacara Barzanji ini dimulai dengan terlebih dahulu Imam menanyakan kepada tuan rumah tentang maksud pembacaan Barzanji. Setelah itu Imam langsung membaca Barzanji dengan duduk bersila.

Pada saat Imam berdiri, semua hadirin ikut berdiri dan membaca puisi Asrakal Badru Alaina…. dan seterusnya, kemudian dia duduk lagi dan wakil Imam meneruskan pembacaan sampai selesai. Setelah selesai, acara dilanjutkan dengan pengukuran ulaweng.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan pembacaan Barzanji kedua yang tata aturannya sama seperti pada pembacaan Barzanji pertama. Selama acara tersebut dibakar pula dupa-dupa (kemenyan). Makna pembakaran dupa-dupa ini adalah untuk mengusir roh jahat dan memberi doa. Setelah upacara ini berakhir, maka para tamu dan keluarga makan-makan.[5]

Walimatul Khitan

Walimatul Khitan adalah perjamuan makan yang disediakan oleh tuan rumah kepada para tamu dalam rangka tasyakuran acara khitanan. Tujuan diadakannya walimatul khitan adalah untuk mendoakan anak yang dikhitan agar menjadi anak yang saleh serta sebagai ritual yang menandakan bahwa anak lelaki telah berani menghadapi tantangan kehidupan.[6]

Keesokan harinya, di beberapa tempat di Indonesia, biasanya diadakan selametan atau kenduri dengan hanya mengundang tamu pria yang berasal dari tetangga-tetangga terdekat dan sanak saudara. Dalam acara tersebut diadakan pembacaan tahlil dan barzanjian secara bersama-sama untuk mendoakan penganten sunat.[7]

Sementara itu bagi masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan, pembacaan Barzanji dalam acara ini adalah sebuah kewajiban. Pembacaan Barzanji di sana hanya dilakukan oleh kaum laki-laki sedangkan kaum wanitanya hanya duduk mendengarkan.

Upacara pembacaan Barzanji bagi mereka memiliki arti penting bagi pemeliharaan siklus kehidupan sosial budaya masyarakat setempat. Di sisi lain tradisi ini berfungsi sebagai perekat antar keluarga dan antara anggota masyarakat.

Melalui tradisi pembacaan Barzanji ini, anggota keluarga dan anggota masyarakat saling mencari, saling bertemu, dan saling berbagi rasa. Segalanya berjalan secara alamiah dalam kerangka kebudayaan setempat.

Tradisi ini juga merupakan kesempatan atau merupakan tempat di mana segenap anggota keluarga dapat berperan dan berpartisipasi. Kebiasaan bekerja sama dan memasak bersama adalah contoh sederhana dari fungsi sosial tradisi seperti ini.

Tradisi pembacaan Barzanji bagi masyarakat Bugis adalah bagian dari siklus sosial masyarakat. Selain itu mereka juga beranggapan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari cara anggota keluarga dan masyarakat untuk mengindahkan nilai-nilai agama melalui pembacaan sejarah sosial kehidupan Nabi Muhammad saw.[8] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] M Idris Mas’udi, Walimahan, dalam Suwendi, Mahrus, Muh. Aziz Hakim, dan Zulfakhri Sofyan Pono (tim editor), Ensiklopedi Islam Nusantara: Edisi Budaya (Kementrian Agama RI: Jakarta, 2018), hlm 599.

[2] Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “Walimah”, dari laman https://kbbi.web.id/walimah, diakses 30 Maret 20210.

[3] M Idris Mas’udi, Loc.Cit.

[4] Ibid., hlm 601.

[5] Kamaruddin, Barzanji (Suatu Tradisi Masyarakat Bugis di Desa Appanang Kec. Liliriaja Kab. Soppeng), (Tidak Diterbitkan: Skripsi Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, 2017), hlm 93-94.

[6] M Idris Mas’udi, Op.Cit., hlm 599.

[7] Ibid., hlm 602.

[8] Kamaruddin, Op.Cit., hlm 5-6.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*