Mozaik Peradaban Islam

Siapa Yehezkiel dalam Islam? (1): Nabi Yahudi

in Studi Islam

“Bagi orang Yahudi, Yehezkiel adalah seorang Nabi. Namun, di dalam Islam, pun dia dianggap sebagai salah seorang Nabi. Siapakah Yehezkiel yang dimaksud dalam Islam?”

–O–

Lukisan Yehezkiel karya pelukis Michelangelo Buonarroti.

Dahulu kala di Irak, terdapat komunitas Yahudi terbesar di Timur Tengah setelah Palestina. Jumlah mereka sekitar 120.000 orang, dan mereka sudah berada di Irak sejak 2.500 tahun yang lalu. Di luar mereka, sebanyak 5.000 orang Yahudi dari berbagai daerah juga akan datang untuk menziarahi sebuah makam dan merayakan tradisi Paskah setiap tahunnya. Lalu makam siapakah yang dimaksud? Terletak di dekat Najaf, sekitar 130 km dari kota Baghdad, ia adalah makam Nabi Yehezkiel, nabinya orang-orang Yahudi.[1]

Namun setelah pendirian negara Israel tahun 1948, dalam kurun waktu tahun 1951-1952, orang-orang Yahudi Irak beremigrasi dalam sebuah operasi rahasia yang direkayasa oleh Israel. Operasi pemindahan orang-orang Yahudi ke tanah yang dijanjikan, yakni Israel, mengakhiri kehadiran 2.500 tahun orang Yahudi di tanah Babilonia (nama kuno Irak). Operasi tersebut dinamai Operasi Ezra dan Nehemia. Menurut keyakinan orang Yahudi, Yehezkiel lah yang telah membawa mereka ke Irak dalam sebuah pelarian. Kini, orang-orang Yahudi Irak telah pergi lagi ke tempat pelarian yang baru, yaitu Israel.[2]

 

Siapa Yehezkiel dalam Islam?

Sampai hari ini, identitas Yehezkiel di dalam Islam masih menjadi perdebatan. Aysha Hidayatullah, seorang professor Studi Islam dari Universitas San Fransico, Amerika Serikat, dalam buku Encyclopedia of Islam, mengatakan bahwa Yehezkiel adalah salah seorang nabi di dalam Islam, dan di dalam Islam dia disebut dengan nama Zulkifli.[3]

Nama Zulkifli disebutkan sebanyak dua kali di dalam al-Quran:

“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (Q.S Sad Ayat 48)

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Zulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.” (Q.S Al-Anbiya Ayat 85)

Selanjutnya kita akan melihat perspektif dari sudut pandang al-Tabari, sejarawan Islam klasik. Al-Ṭabari memiliki nama lengkap Abu Jaʿfar Muḥammad bin Jarir al-Ṭabari, dia dilahirkan pada tahun 839 di Ṭabaristan (sekarang Iran) dan meninggal pada tahun 923 di Baghdad, Irak. Al-Ṭabari seringkali disebut sebagai sejarawan Islam, namun, sesungguhnya di luar itu dia juga seorang ahli tafsir al-Quran.[4] Bahkan, meskipun sekarang sudah tidak ada pengikutnya lagi, dia juga pernah dijadikan Imam Madzhab dalam Islam.[5]

Terkait identitas Yehezkiel, al-Tabari mempunyai pendapat lain. Al-Tabari memang membenarkan, bahwa yang dimakasud Zulkifli dalam ayat di atas adalah seorang nabi, tapi dia merupakan orang yang berbeda dengan Yehezkiel (kisah tersendiri tentang Yehezkiel dalam versi al-Tabari akan diceritakan kemudian). Menurut al-Tabari, Zulkifli adalah putra dari Nabi Ayyub. Waktu itu dikisahkan, menjelang kematiannya saat dia berusia 93 tahun, Ayyub menunjuk Hawmal, putranya, untuk menjadi pewarisnya. Namun, setelah Ayyub meninggal, Allah SWT menunjuk putra Ayyub lainnya yang bernama Bishr untuk menjadi seorang nabi, dialah yang kemudian disebut dengan nama Zulkifli oleh Allah SWT. Zulkifli kemudian diperintahkan oleh-Nya untuk mendakwahkan tentang Ketauhidan. Zulkifli tinggal sepanjang hidupnya di Suriah, dan dia meninggal pada usia 75. Sebelum meninggal, Zulkfli menunjuk putranya, Abdan, untuk menjadi pewarisnya.[6]

 

Yehezkiel menurut al-Tabari

Dalam Ta’rikh al-rusul wa’l-muluk, al-Tabari mengatakan bahwa Yehezkiel adalah seorang nabi dari keturunan bangsa Israel. Kisah tentang Yehezkiel merupakan salah satu kisah yang disebutkan di dalam al-Quran, namun siapa nama tokohnya tidak disebutkan.[7] Berikut ini adalah ayat yang dimaksud:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: ‘Matilah kamu,’ kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (Q.S Al-Baqarah Ayat 243)

Menurut al-Tabari, semua ulama terdahulu – sahabat Nabi dan beberapa generasi setelahnya – sepakat bahwa Yehezkiel adalah salah satu wali di antara wali-wali lainnya yang bertanggung jawab terhadap bangsa Israel. Nama lengkapnya adalah Yehezkiel bin Buzi, dan dia adalah orang yang biasa disebut Ibnu al-Ajuz (anak dari seorang wanita tua).[8]

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishak:

“Yehezkiel bin Buzi dinamai Ibnu al-Ajuz karena ibunya meminta kepada Allah SWT seorang anak laki-laki meskipun dia sudah tua dan mandul. Kemudian Allah memberikannya kepadanya. Untuk alasan itulah dia disebut ‘putra wanita tua.’ Dialah yang mendoakan orang-orang, yang disebutkan Allah dalam kitab suci kepada Muhammad SAW, sebagaimana itu telah sampai kepada kita: ‘Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati.’”[9] (PH)

Bersambung ke:

Siapa Yehezkiel dalam Islam? (2): Sosok Selain Nabi Isa yang Menghidupkan Orang Mati

Catatan Kaki:

[1] Norbert C. Brockman, Encyclopedia of Sacred Places: Volume 1 (ABC-CLIO, LLC, 2011), hlm 167.

[2] Ibid.

[3] Juan E. Campo, Encyclopedia of Islam (Facts On File, Inc., 2009), hlm 559.

[4] David Waines, “Al-Ṭabarī”, dari laman https://www.britannica.com/biography/al-Tabari, diakses 21 Juli 2018.

[5] Nadirsyah Hosen, “Mengenal Kitab Fiqh Perbandingan Mazhab”, dari laman http://nadirhosen.net/tsaqofah/syariah/mengenal-kitab-fiqh-perbandingan-mazhab, diakses 21 Juli 2018.

[6] Al-Tabari, Ta’rikh al-rusul wa’l-muluk: Vol II, ­diterjemahkan dari bahasa Arab ke Inggris oleh William M. Brinner (State University of New York Press, 1987), hlm 143

[7] Al-Tabari, Ta’rikh al-rusul wa’l-muluk: Vol III, ­diterjemahkan dari bahasa Arab ke Inggris oleh William M. Brinner (State University of New York Press, 1991), hlm 118.

[8] Ibid.

[9] Ibid.