Mozaik Peradaban Islam

Situs-situs Bersejarah Islam di Kota Mekkah (3); Rumah Tempat Rasulullah dilahirkan

in Monumental

Last updated on July 17th, 2018 05:47 am

Menurut O. Hashem, rumah tempat Rasulullah SAW dilahirkan ini dihancurkan dan dijadikan kandang hewan, tatkala kaum ultra puritan Wahabi berkuasa atas tanah suci Mekkah. Kemudian mereka meratakan rumah tersebut dengan tanah dan dibangun perpustakaan. Tapi anehnya, meski sebuah perpustakaan, bangunan ini selalu tertutup rapat.

—Ο—

 

Dari sejumlah situs paling bersejarah Islam di Kota Mekkah, salah satunya, tentu saja rumah tempat Rasulullah SAW dilahirkan. Jalaluddin Rumi, salah satu sufi paling terkemuka, kerap kali melantunkan puji-pujian pada Rasulullah SAW. Dalam beberapa puisi bahkan dia persembahkan satu ghazal penuh untuk Nabi—ini biasa disebut na’t di mana karakter Nabi Muhammad SAW diuraikan panjang lebar. Sering Rumi bicara tentang berbagai hal, lalu tiba-tiba menyebut-nyebut sifat cinta Nabi. Tentang suasana batin tatkala Nabi Muhammad SAW di lahirkan, Rumi mendeskripsikan:[1]

Saat cahaya Muhammad datang, mereka yang ingkar kenakan baju hitam Saat masa kerajaan abadi tiba, mereka yang ingkar menabuh genderang ‘tuk halau kematian. Seluruh muka bumi menghijau. Surga cemburu pada bumi dan mengoyak lengannya. Bulan terbelah. Bumi mendapat kehidupan dan menjadi hidup.

Semalam, terjadi keributan besar di antara bintang karena sebuah bintang terang t’lah turun ke bumi.

Bahkan surgapun cemburu pada bumi ketika ruh agung Nabi Muhammad dilahirkan ke bumi. Hari itu, tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah, bumi seperti mendapat mahkota. Di antara miliyaran benda-benda langit di jagad raya, bumi terpilih sebagai tempat dilahirkannya jasad suci Sang Nabi. Dan di antara banyak tempat di muka bumi, Kota Mekkah mendapat kehormatan dan kemuliaan begitu tinggi dengan hadirnya mahluk paling agung di jagad penciptaan. Di kota inilah, di sebuah rumah mungil yang baru dibangun, Rasulullah SAW dilahirkan.

Sekitar satu tahun sebelumnya, masyarakat Mekkah merayakan kegembiraan yang luar biasa. Abdul Muthalib, pemimpin kau Quraisy menikahkan putra kesayangannya bernama Abdullah,  yang dikenal masyarakat sebagai pemuda paling mulia dan cahaya yang paling bersinar di kota tersebut. Wanita yang dinikahinya bernama Aminah binti Wahab, dari Bani Zurah.

Terkait dengan Aminah binti Wahab, beliau adalah seorang yang pemalu dan sangat menjaga diri. Aminah selalu berada di dalam rumah dan bergaul dengan orang-orang terdekatnya. Sosoknya sangat jarang tampil di muka umum. Sehingga tidak banyak sejarawan yang mengetahui seluk beluk informasi tentang kehidupannya. Sedikit yang diketahui, bahwa Aminah lahir di kota Mekkah. Tentang tahun kelahirannya, tidak banyak diketahui. Ia adalah putri dari pemimpin bani Zurah yang bernama Wahab bin Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Sedangkan ibu Aminah adalah Barrah binti Abdul Uzza bin Utsman bin Abduddar bin Qushay bin Kilab. Nasab Aminah dan Abdullah bertemu pada sosok Kilab, ayah dari Qushay, pendiri kota Mekkah.[2]

Pilihan Abdul Muthalib pun jatuh pada Aminah setelah ia bermunajad dan merenung di depan Ka’bah. Kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana mulanya keputusan Abdul Muthalib datang ke Bani Zurah dan meminang Aminah untuk putranya kesayangannya, Abdullah. Yang jelas, tidak ada yang bisa membantah bahwa pilihan ini memang yang terbaik. Sedangkan bagi keluarga Bani Zuhrah tidak ada alasan untuk menolak keinginan Abdul Muthalib, bahkan hal ini merupakan kehormatan baginya. Bani Zuhrah pun menerima lamaran Abdul Muthalib untuk menikahkan Abdullah dengan Aminah binti Wahab, dan dia sendiri pun menikah dengan saudara sepupu Aminah yaitu Halah binti Wuhaib.[3]

Setelah menikah, Abdullah tinggal bersama istrinya di sebuah rumah baru yang sederhana. Rumah kecil tersebut disiapkan oleh Abdul Muthalib untuk anak kesayangannya. Para sejarawan menyebutkan bahwa rumah itu mempunyai satu kamar dan serambi yang panjangnya sekitar 12 m serta lebar 6 m yang di dinding sebelah kanan terdapat kayu yang disediakan sebagai tempat duduk mempelai.[4]

Hanya dua bulan Abdullah tinggal di rumah ini bersama istrinya. Kemudian datang ajakan padanya untuk mengikuti kafilah dagang yang sedang akan menuju ke Syiria. Abdullah pun memutuskan untuk ikut serta dengan kafilah tersebut. Aminah tidak mengetahui, bahwa itulah saat terakhir ia memandang wajah suaminya, permata yang paling bersinah di Kota Mekkah. Karena tak lama setelah itu, ia menerima kabar duka, bahwa Abdullah telah wafat di Kota Madinah karena sakit yang dideritanya.

Beberapa riwayat mengatakan bahwa Abdullah wafat pada usia 25 tahun. Ia meninggalkan beberapa ternak, dan sedikit harta benda, bersama seorang istri yang ternyata sedang mengandung cahaya agung yang sudah dinantikan sejak awal penciptaan. Setelah meninggalnya Abdullah, Aminah tetap tinggal di rumah mungil ini bersama janin di perutnya.

Hingga di salah satu malam yang sepi, Aminah binti Wahab bermimpi menyaksikan sebuah cahaya dari dirinya yang memancar dan menerangi segala penjuru, hingga ia seakan-akan bisa melihat langsung benteng-bentang Busra yang terletak jauh di Syiria.[5] Ketika itu Aminah sedang hamil tua, dan sebentar lagi akan melahirkan. Dan pada waktu sahur dari malam Senin hari keduabelas dari bulan Rabiul Awal, Aminah melahirkan buah hatinya yang kemudian diberi nama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib, seorang cucu dari Ismail bin Ibrahim bin Adam.

Menurut al-Tabari, berdasarkan kesaksian dari salah seorang yang hadir ketika Aminah melahirkan, ia mendengar Aminah mengucapkan, “apakah sesuatu yang aku lihat dalam rumah ini? yang membuat semuanya terang benderang. Dan aku melihat bintang gemintang mendekatiku, sampai aku merasa mereka semua datang kepada ku.”[6] Dan ketika selesai melahirkan, orang pertama yang Aminah ingin kabarkan tentang berita gembira ini adalah Abdul Muthalib. Aminah lalu mengutus seseorang dan segera mengajak Abdul Muthalib datang dan menggendong cucunya. Mendengar berita ini, Abdul Muthalib langsung bergegas. Dan ketika Abdul Muthalib tiba, Aminah menceritakan semua tentang mimpinya dan semua apa yang ia alami selama mengandung putranya.

Menurut O. Hashem, rumah tempat Rasulullah SAW dilahirkan ini kemudian jatuh ke tangan sepupu Nabi, Aqil bin Abi Thalib dan selanjutnya dikuasai oleh anak cucunya. Kemudian Muhammad bin Yusuf Tsaqafi, saudara gubernur Irak, Hajjaj bin Yusuf di zaman khalifah ‘Abdul Malik, membelinya. Di kemudian hari, ibu Khalifah Harun Al-Rasyid menjadikan rumah ini sebagai masjid tempat shalat dan pengajian. Bangunannya dipelihara seperti aslinya, dan banyak dikunjungi orang pada masa itu. Tatkala kaum ultra puritan Wahabi berkuasa atas tanah suci Mekkah, seperti situs-situs penting lainnya, rumah ini dihancurkan dan dijadikan kandang hewan. Orang-orang dilarang berziarah ke sana. Kemudian mereka meratakan rumah tersebut dengan tanah, kemudian dibangun perpustakaan.[7]

Tapi anehnya, meski sebuah perpustakaan, bangunan ini selalu tertutup rapat. Salah satu ulasan mengenai Rumah bersejarah ini di laman okezone.com, menyebutkan bahwa bangunan ini terletak sekira 200-an meter dari pintu akses menuju Bukit Marwah ke arah terminal Syib Amir di sisi kanan. Luas bangunan ini berukuran 10×18 meter, dan terlihat tulisan bahwa perpustakaan tersebut berdiri pada 1370 H atau telah berusia sekira 69 tahun. Dari papan petunjuk di depan, bangunan tersebut bernama Perpustakan Makkah Al Mukarramah atau lebih populer dengan Rumah Maulid.[8]

Bagian depan bangunan tertulis bahwa perpustakaan tersebut berdiri pada 1370 H atau telah berusia sekira 67 tahun. Sumber gambar: okezone.com

Menurut keterangan orang sekitar, perpustakaan tersebut sering tutup. Di depan bangunan tersebut terpampang spanduk yang bertuliskan sejumlah larangan. Mulai dari: dilarang shalat di depan Rumah Maulid, dilarang berdoa di depan Rumah Maulid dan dilarang meratap di temboknya. Bahkan ada tulisan dalam enam bahasa, yaitu Inggris Indonesia, India, Arab, Turki, dan Urdu yang berarti “tidak disyariatkan untuk mengunjungi perpustakaan ini dengan tujuan beribadah, karena tidak ada dalil yang menunjukkan akan hal itu“. Namun sebagaimana yang diberitakan oleh situs tersebut, meski sudah diberi larangan, masih ada saja orang-orang yang berkunjung dan berdoa di sana.[9]

Spanduk di sisi kiri bangunan yang ditulis dalam enam bahasa, yaitu Inggris Indonesia, India, Arab, Turki, dan Urdu yang berarti tidak “disyariatkan untuk mengunjungi perpustakaan ini dengan tujuan beribadah, karena tidak ada dalil yang menunjukkan akan hal itu.” Sumber gambar: okezone.com

Kini, pemerintah Arab Saudi sedang melakukan pembangunan besar-besaran untuk memperluas areal Masjidil Haram. Sebagian pihak khawatir Rumah Maulid yang berada di kaki pegunungan Khandama sekira 150 meter barat Masjidil Haram itu tergusur. Lantaran saat ini pun rumah kelahiran Nabi lokasinya tersisihkan di antara bangunan yang ada di lingkungan Masjidil Haram. Kontras dengan kemegahan gate King Abdullah yang sedang dibangun, bangunan bersejarah itu sangat sederhana sekali dan cenderung diabaikan.[10] (AL)

Lokasi (diberi tanda lingkaran) yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sumber gambar: ilmfeed.com.

 

Foto Rumah tempat Nabi dilahirkan dari jarak jauh (diberi tanda lingkaran). Terlihat lokasi ini sangat dekat dengan rencana mega proyek pembanguan Masjidil Haram. Sumber gambar: http://suryamalang.tribunnews.com

 

Foto Rumah tempat Nabi dilahirkan dari jarak jauh dari angel berbeda. Terlihat lokasi ini (diberi tanda lingkaran) sangat dekat dengan rencana mega proyek pembanguan Masjidil Haram. Sumber gambar: http://suryamalang.tribunnews.com

 

Bersambung…

Situs-situs Bersejarah Islam di Kota Mekkah (4); Rumah Khadijah (Darul Wahyi/Rumah Wahyu) (1)

Sebelumnya:

Situs-situs Bersejarah Islam di Kota Mekkah (2); Darun Nadwah, Bangunan Kedua di Mekah (2)

Catatan kaki:

[1] Lihat, https://islamindonesia.id/berita/keagungan-kanjeng-nabi-dalam-puisi-puisi-rumi-2.htm, diakses 15 Juli 2018

[2] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, The History Of Islam; Volume One, Riyadh, Darussalam, 2000, Hal. 92

[3] Ibid, Hal. 93

[4] Lihat, http://haska.student.uny.ac.id/2015/04/06/kisah-aminah-binti-wahab/, diakses  2 Januari 2018

[5] Lihat, The History of al-Tabari, Vol. 5., Translated by I. K. A. Howard, State University of New York Press, 1999, hal. 269-270

[6] Ibid, hal. 271

[7] Lihat, O. Hashem, Muhammad Sang Nabi; Penelusuran Sejarah Nabi secara Detail, Jakarta, Ufuk Press, 2004, hal. 47-48

[8] Lihat, https://news.okezone.com/read/2016/08/15/337/1463941/di-tempat-inilah-nabi-muhammad-saw-dilahirkan, diakses 15 Juli 2018

[9] Ibid

[10] Ibid

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*