Mozaik Peradaban Islam

Ustmaniyah Menyerang Wina (5): Gagalnya Islamisasi Eropa

in Monumental

“Wina merupakan gerbang masuk menuju jantung Eropa. Gagalnya Kesultanan Ustmaniyah menaklukan wilayah ini dianggap sebagai penyebab kenapa Islam tidak sampai berkembang di Eropa.”

–O–

Setelah kemenangan pasukan gabungan Kristen Eropa terhadap Kesultanan Ustmaniyah (Ottoman) di Wina pada tahun 1683, saudara ipar Kaisar Leopold I, Charles V, Bangsawan Lorraine, terus bertempur melawan Ottoman, dia merebut kembali Beograd dan sebagian besar wilayah Serbia tiga tahun kemudian. Pada tahun 1687, Kekaisaran Habsburg berhasil mengukuhkan kekuasaannya terhadap Hongaria Selatan dan sebagian dari Transylvania.[1]

Sementara itu, Prancis, di bawah kepemimpinan Raja Louis XIV, sebagai sekutu Ottoman, sebenarnya tidak mengharapkan kemenangan Habsburg atas Ottoman. Namun, di tengah-tengah kesibukan Leopold dalam menghadapi ancaman selanjutnya dari ekspansi Ottoman ke Eropa tengah, Louis mengambil kesempatan dengan merebut kota Alsace (di masa kini merupakan salah satu kota di Prancis yang berbatasan langsung dengan Jerman dan Swiss) yang merupakan bagian dari Habsburg, dan menjadikannya sebagai bagian dari wilayah Prancis.[2]

Meskipun Prancis akan tetap menjadi kerajaan yang paling kuat di Eropa untuk sementara waktu, tetapi kemenangan Habsburg atas Ottoman membuat Austria menjadi kerajaan yang paling diperhitungkan dan memiliki supremasi politik di Eropa Tengah, sebuah situasi yang akan terus berlangsung sampai pecahnya Perang Dunia I.[3] Namun uniknya, nanti pada Perang Dunia I, Ottoman yang tadinya musuh bebuyutan, malah beraliansi dengan Habsburg, dan sebaliknya Prancis menjadi musuh bagi Ottoman.[4]

 

Tiga Pendapat

Terhadap peristiwa yang dibahas secara keseluruhan dalam artikel seri ini, muncul tiga pendapat umum yang berkembang setelahnya, sebagaimana dihimpun oleh sejarawan Eamon Gearon. Pertama, bahwa kemenangan aliansi Habsburg atas Ottoman telah menyelamatkan benua Eropa dari kemungkinan meluasnya wilayah penaklukan Dinasti Islam ini lebih jauh ke dalam Eropa. Meskipun pendapat ini adalah klaim yang paling mengemuka pada saat itu, namun banyak bukti yang menunjukkan bahwa meskipun Ottoman berhasil menduduki Wina, tapi itu bukan berarti mereka dapat mendorong lebih jauh ke arah barat.[5]

Untuk kasus Wina saja, Ottoman mengalami kesulitan besar dalam memenuhi kebutuhan logistik militernya, artinya, apalagi jika mereka melakukan ekspedisi yang lebih jauh, maka tingkat kesulitannya akan lebih tinggi lagi. Gagalnya Ottoman untuk menduduki Wina adalah suatu bukti kuat yang mendukung pernyataan ini. Selain itu, meskipun konflik antara Ottoman-Habsburg pada saat itu sempat terhenti, namun itu tidak berlangsung lama. Selanjutnya dua kekuatan imperium ini akan bertarung dalam sebuah perang berkepanjangan selama 15 tahun di Eropa Tengah dan Timur yang disebut dengan Perang Besar Turki (Great Turkish War).[6] Pada akhirnya, pada tahun 1699 kedua belah pihak akan merundingkan perjanjian damai yang disebut dengan Perjanjian Karlowitz yang ditandatangani di Serbia hari ini.[7]

Pendapat kedua, bahwa kekalahan Ottoman di Wina merupakan awal dari berakhirnya Kesultanan Ottoman. Pendapat ini mungkin saja benar, tapi jika memang ini merupakan awal dari sebuah akhir, kenyataannya runtuhnya Ottoman masih sangat lama, tepatnya 241 tahun kemudian. Setelah peristiwa ini Ottoman masih tetap merupakan imperium raksasa yang kuat.[8]

Pendapat ketiga mengatakan bahwa konflik tahun 1683 di Wina merupakan babak baru benturan peradaban di antara kekuatan Islam dan Kristen. Namun pada faktanya, ketimbang dilihat sebagai persoalan agama, pada waktu itu Habsburg berada dalam situasi yang terdesak dan hampir putus asa, sehingga mereka akan melakukan segala cara untuk lolos dari situasi itu. Di Eropa, Habsburg menyuarakan bahwa apa yang sedang mereka hadapi merupakan aksi pembelaan terhadap agama Kristen, karena mereka berpikir bahwa hanya itulah satu-satunya cara untuk mendapatkan bantuan dari kekuatan Kristen Eropa lainnya. Sebaliknya di sisi Ottoman, mereka sama sekali tidak melihat itu sebagai persoalan agama. Ottoman hanya melihat Wina sebagai wilayah ekonomi yang berharga, apabila Wina berhasil ditaklukan, maka mereka akan memperoleh pengaruh yang lebih luas dalam hal perdagangan. Meskipun Habsburg dan Ottoman berasal dari dua latar belakang agama yang berbeda, namun sesungguhnya mereka hanya sedang memperjuangkan penambahan, atau mempertahankan, wilayah dari kekaisarannya masing-masing.[9]

Monumen Paus Innocent XI di Saint Peter’s Basilica, Vatikan. Photo: Ricardo André Frantz

Di luar tiga pendapat di atas, ada lagi satu pendapat berbeda dari Gábor Ágoston, penulis buku Encyclopedia of the Ottoman Empire, menurutnya, setelah usaha penaklukan Wina ini, negara-negara di Eropa menjadi terprovokasi untuk mendirikan aliansi anti-Ottoman. Aliansi ini disebut dengan Liga Suci (the Holy League), didirikan pada musim semi tahun 1684 oleh Paus Innocent XI (berkuasa 1676–1689) yang anggotanya terdiri dari negara-negara kepausan seperti Polandia, Austria, Venesia, dan Rusia (menyusul bergabung pada 1686). Sebagaimana telah dibahas di atas, aliansi ini dipersiapkan untuk menghadapi Perang Besar Turki di mana Ottoman akan kehilangan seluruh wilayah kekuasaannya di Hongaria.[10] (PH)

Selesai.

Sebelumnya:

Ustmaniyah Menyerang Wina (4): Pertempuran Puncak

Catatan Kaki:

[1] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 221.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] John Graham Royde-Smith dan Dennis E. Showalter, “World War I: 1914–1918”, dari laman https://www.britannica.com/event/World-War-I, diakses 27 September 2018.

[5] Eamon Gearon, Ibid., hlm 222.

[6] Ibid.

[7] “Treaty of Carlowitz”, dari laman https://www.britannica.com/event/Treaty-of-Carlowitz, diakses 4 Desember 2018.

[8] Eamon Gearon, Loc.Cit.

[9] Ibid., hlm 223.

[10] Gábor Ágoston dan Bruce Masters, Encyclopedia of the Ottoman Empire (Facts On File, Inc. : 2009), hlm 584-585.