Mozaik Peradaban Islam

Ustmaniyah Menyerang Wina (4): Pertempuran Puncak

in Monumental

“Berdasarkan informasi intelijen, dikatakan bahwa pasukan Kristen akan menyerang pada 11 September. Oleh karena itu, Kara Mustafa Pasha memerintahkan pasukannya untuk berjaga sepanjang malam. Sebuah kesalahan fatal, sebab pasukan Kristen tidak kunjung datang.”

–O–

Lukisan karya Józef Brandt (1841–1915) yang menggambarkan pertempuran pasukan Ottoman dengan Polandia. Sumber: National Museum Kraków

Pada awal bulan September 1683, sebanyak 75.000-80.000 pasukan bantuan dari Eropa telah tiba di Wina dan mereka siap berperang. Mereka dipimpin oleh John III Sobieski, raja Polandia, yang dianggap telah berpengalaman dalam menghadapi pasukan Ustmaniyah (Ottoman). Adapaun senjata berat yang mereka bawa adalah 160 meriam yang dipusatkan di barat laut kota Wina.[1]

John III Sobieski, raja Polandia, sekaligus Komandan pasukan Kristen dalam pertempuran di Wina 1683. Lukisan karya Daniel Schultz (1615–1683). Sumber: National Museum in Warsaw

Meremehkan kekuatan pasukan bantuan, Kara Mustafa Pasha meninggalkan sebagian besar pasukan Janissari (pasukan elit Ottoman) di sekitar parit-parit kota dan berencana untuk menghancurkan pasukan sekutu Kristen dengan serangan pasukan kavaleri yang menentukan. Meskipun penulis sejarah Ottoman menyebutkan jumlah pasukan Ottoman di Kahlengerg hanya berjumlah 28.400 orang, namun sebenarnya mereka pastilah mencapai sekitar 50.000 orang, karena Ottoman juga telah mendatangkan pasukan bantuan. Namun, mereka hanya membawa 60 senjata lapangan (field guns).[2]

Karena kesalahan informasi intelijen, Kara Mustafa menganggap bahwa pasukan Kristen akan menyerang pada 11 September dan memerintahkan pasukannya untuk tetap terjaga sepanjang malam itu, sebuah kesalahan fatal. Pertempuran justru dimulai ketika fajar pada 12 September antara pasukan garis depan Ottoman dengan pasukan sayap kiri Kristen Lorraine di dekat Nussberg. Pasukan Lorraine, yang diperkuat oleh pasukan Saxon, segera mencapai sayap kanan Ottoman. Pasukan Bavarians dan Franconia juga turun dari bagian lereng dalam dan segera bergabung dalam pertempuran melawan pasukan tengah dan sayap kanan Ottoman. Sementara itu pasukan sayap kanan Kristen, yakni pasukan Polandia, maju perlahan karena medan yang sulit, tetapi menjelang sore, pasukan garis depan Polandia telah bergabung dalam pertempuran.[3]

Meskipun pasukan Ottoman bertempur dengan gagah berani, namun pasukan Kristen melalui serangannya secara keseluruhan pada sekitar pukul tiga sore telah memastikan kemenangannya. Pasukan sayap kiri Ottoman dan Tatar tidak mampu menahan laju serangan kuat dari pasukan kavaleri Polandia, yang pertama kalinya mencapai perkemahan Ottoman dari arah barat.[4] Terlepas dari keberhasilan pasukan Ottoman dalam menghancurkan beberapa sisi dinding kota sebelumnya, namun bagaimanapun pengelolaan pasukan Ottoman belum seterorganisir atau memiliki motivasi yang kuat sebagaimana pasukan Kristen yang dipimpin oleh Sobieski.[5]

Lukisan yang menggambarkan pasukan bantuan Kristen menyerbu kamp Ottoman. Dibuat tahun 1684, pelukis tidak diketahui. Sumber: Deutsches Historisches Museum Berlin

Ketika arah kemenangan berbalik, komandan pasukan Ottoman, Kara Mustafa, dikatakan telah memerintahkan eksekusi terhadap 30.000 tawanan perang. Tidak diketahui apa motivasinya, apakah itu didorong oleh rasa panik, kemarahan, atau kebencian, sejarah tidak mencatatnya, tetapi yang jelas peristiwa ini secara signifikan telah menambah jumlah kuburan massal yang ada di lokasi. Unit-unit pasukan Janissari Ottoman masih melakukan perlawanan ketika Sobieski mengeluarkan perintah kepada unit kavaleri beratnya, Winged Hussars yang terkenal, untuk melancarkan serangan akhir yang mematikan. Sekitar pukul 4 sore, Kara Mustafa Pasha sudah memiliki firasat bagaimana hasil akhir dari perang ini, dan dia memutuskan untuk mundur.[6]

Sejumlah besar pasukan Ottoman, terlepas apakah mereka mengetahui atau tidak tentang mundurnya komandan mereka, membuat keputusan serupa untuk balik arah dan melarikan diri. Pada pukul 6 sore, Sobieski secara pribadi turun langsung untuk memimpin serangan, pasukan berkuda Kristen itu berlomba-lomba mengejar pasukan Ottoman yang tersisa. Peristiwa pengejaran ini berlangsung sampai berhari-hari setelahnya. Sekitar 40.000 orang Turki dan sekutunya telah tewas dalam pertempuran dan pengejaran setelahnya. Namun Pertempuran Wina pada dasarnya sudah berakhir di hari itu ketika malam tiba.[7] Kali ini Ottoman benar-benar telah dikalahkan sepenuhnya. Mereka yang belum terbantai dan masih sempat melarikan diri, meninggalkan banyak harta rampasan bagi orang-orang Kristen.[8]

Ilustrasi wajah Kara Mustafa Pasha. Photo: G. Jansoone

Sementara itu, Kara Mustafa Pasha, dengan kekalahan yang begitu besar karena ketidakcakapannya, berusaha menyelamatkan diri di hadapan Sultan Mehmed IV dengan mengatakan bahwa kekalahan lebih disebabkan oleh komandan bawahannya yang telah melakukan kesalahan di lapangan. Dalam waktu yang bersamaan, dia juga mengeksekusi orang-orang yang diduga akan memberitahu Sultan bahwa dia telah melarikan diri dari medan pertempuran. Meski demikian, Sultan tidak mempercayainya, dan kemarahannya tidak terbendung. Pada 25 Desember 1683, Mehmed IV memerintahkan pelaksanaan eksekusi terhadap Kara Mustafa Pasha di Beograd.[9] Dia dieksekusi dengan tradisi yang biasa dilakukan oleh Kesultanan Ottoman terhadap para pejabat tingginya yang melakukan kesalahan: dicekik dengan tali sutra. Kata-kata terakhir dari Kara Mustafa Pasha yang disampakan kepada algojo-nya adalah, “Pastikan simpulnya diikat dengan benar.”[10] (PH)

Bersambung ke:

Ustmaniyah Menyerang Wina (5): Gagalnya Islamisasi Eropa

Sebelumnya:

Ustmaniyah Menyerang Wina (3): Pengepungan

Catatan Kaki:

[1] Gábor Ágoston dan Bruce Masters, Encyclopedia of the Ottoman Empire (Facts On File, Inc. : 2009), hlm 584.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 220.

[6] Ibid., hlm 220-221.

[7] Ibid., hlm 221.

[8] Gábor Ágoston dan Bruce Masters, Loc.Cit.

[9] Ludwig Heinrich Dyck, “The 1683 Battle of Vienna: Islam at Vienna’s Gates”, dari laman https://warfarehistorynetwork.com/daily/the-1683-battle-of-vienna-islam-at-viennas-gates/, diakses 1 Desember 2018.

[10] Eamon Gearon, Ibid., hlm 222.