Mozaik Peradaban Islam

Zaman Keemasan Islam (1): Masa Terbaik dalam Sejarah Peradaban Islam

in Sejarah

Last updated on May 1st, 2021 03:37 pm

Banyak sejarawan menilai bahwa masa ini terjadi ketika Kekhalifahan Abbasiyah berkuasa, di mana ketika ilmu pengetahuan, pembangunan ekonomi, dan karya budaya berkembang pesat.

Ilustrasi Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) di Baghdad. Foto: 1001 Inventions

Zaman Keemasan Islam (The Islamic Golden Age) adalah periode sejarah yang kompleks dan memikat yang mencakup setiap bidang kehidupan dan perjuangan manusia. Artikel ini akan memberikan gambaran tentang periode penting ini dengan mengkaji siapa, apa, kapan, mengapa, dan bagaimana Zaman Keemasan Islam berjalan.

Sebelum memulai, namun apakah sebenarnya yang dimaksud dengan Zaman Keemasan?

Orang-orang Yunani kuno adalah masyarakat pertama yang menggunakan konsep zaman keemasan. Bagi orang Yunani, zaman keemasan adalah masa lalu yang mistis, yaitu sebuah era ketika manusia dan dewa hidup bersama dalam harmoni dan semuanya berjalan dengan sempurna di dunia.

Ide mengenai zaman keemasan ini pertama kali ditulis dalam puisi pada abad ke-8 SM oleh seorang gembala Yunani yang bernama Hesiod. Di dalam puisi tersebut Hesiod membagi kehidupan manusia ke dalam lima zaman. Hesiod sendiri menganggap bahwa dirinya hidup di zaman terakhir.

Lima zaman yang dimaksud Hesiod adalah zaman keemasan, zaman perak, zaman perunggu, zaman pahlawan, dan zaman besi. Menurut Hesiod, masa terbaik kehidupan manusia terjadi pada zaman keemasan yang kemudian terus merosot – dengan pengecualian zaman pahlawan – hingga ke zaman terakhir yang dia sebut dengan zaman besi, di mana manusia hidup di dalam penderitaan, kesuraman, dan kejahatan yang merajalela.

Sebaliknya, pada zaman keemasan manusia digambarkannya hidup seperti dewa, tidak pernah tahu kesedihan atau kerja keras; dan ketika mereka meninggal, seolah-olah mereka hanya sedang tertidur.

Pada masa itu tidak ada yang bekerja atau menjadi tidak bahagia. Musim semi tidak pernah berakhir. Bahkan ia digambarkan sebagai masa di mana orang-orang menua dengan sangat lembat. Dan ketika mereka mati, mereka menjadi daimones (sebenarnya ini adalah kata Yunani yang kemudian berubah maknanya menjadi “setan”) yang menjelajahi bumi.[1]

Semenjak orang Yunani kemudian mematenkan istilah tersebut pada abad ke-6 SM, istilah Zaman Keemasan telah digunakan sebagai metafora mengenai kesuksesan di banyak tempat, kerajaan, dan berbagai bidang pencapaian yang tak terhitung jumlahnya di berbagai belahan dunia.

Misalnya saja, dalam perspektik Barat ada yang disebut dengan Zaman Keemasan Spanyol yang diperkirakan dimulai sejak 1492 dan berakhir selambat-lambatnya 1659. Lalu ada juga Zaman Keemasan Sastra Anak-anak yang dimulai sekitar pertengahan abad ke-19 dan berakhir sekitar 80 tahun kemudian.

Dengan kata lain, ketika kita menyebut suatu masa sebagai “zaman keemasan” berarti itu sama saja dengan mengatakan bahwa itu adalah yang terbaik dari jenisnya (berbeda dengan perak dan perunggu yang dalam dunia kompetisi olahraga misalnya, yang berarti diberikan untuk orang pada peringkat dua dan tiga).

Ide mengenai zaman keemasan juga menyampaikan arti penting tentang pertumbuhan dan kemajuan. Seringkali pencapaian ini melibatkan pembangunan di atas kejayaan masa lalu sambil terus memandang ke depan.[2]

Lalu, pada masa kapankah yang dimaksud dengan Zaman Keemasan Islam?

Ada banyak perspektif mengenai hal ini, dan jika hal ini diserahkan kepada berbagai mazhab yang ada di dalam Islam, maka jawabannya akan sangat bergantung kepada masa di mana mazhab itu sedang berkembang dengan pesat. Dengan demikian, pendekatan mazhab ini akan kita tinggalkan.

Jika kita mengacu kepada penyematan zaman keemasan pada peradaban-peradaban lainnya selain Islam, biasanya yang dimaksud dengan zaman keemasan adalah suatu masa ketika ilmu pengetahuan, pembangunan ekonomi, dan karya budaya berkembang pesat sehingga menyumbangkan hal-hal yang sangat bermanfaat dalam sejarah peradaban manusia.

Banyak sejarawan yang menilai bahwa zaman keemasan Islam dimulai sejak masa pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah, yaitu ketika dipimpin oleh Harun al-Rasyid (786–809) yang mendirikan Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) di Baghdad.

Pada masa itu para sarjana dari berbagai belahan dunia dengan latar belakang budaya yang berbeda diberi mandat untuk mengumpulkan dan menerjemahkan semua pengetahuan klasik dunia ke dalam bahasa Arab.

Sementara itu akhir zaman keemasan Islam itu diinterpretasikan secara beragam, ada yang mengatakan bahwa itu terjadi pada tahun 1258 ketika tentara Mongolia menjatuhkan Baghdad. Atau ada juga yang mengatakan pada tahun 1492 ketika Reconquista Kristen menuntaskan misinya dalam menjatuhkan Emirat Granada di al-Andalus, Semenanjung Iberia.

Selama Zaman Keemasan Islam ini, tiga ibu kota utama Islam, yaitu Baghdad, Kairo, dan Cordoba menjadi pusat intelektual utama untuk sains, filsafat, kedokteran, dan pendidikan. Pemerintahan Muslim pada waktu itu sangat memperhatikan cendekiawan. Sebagai contohnya, cendekiawan terbaik serta penerjemah terkemuka, seperti Hunain bin Ishaq, memiliki gaji yang diperkirakan setara dengan para atlet profesional saat ini.[3]

Tentu saja Anda boleh tidak sepakat dengan penempatan Kekhalifahan Abbasiyah ketika mereka berkuasa disebut-sebut sebagai zaman keemasan Islam. Namun, maksud dari penulisan artikel ini adalah untuk melihat, apakah benar pada masa tersebut ilmu pengetahuan, pembangunan ekonomi, dan karya budaya berkembang pesat sehingga menyumbangkan hal-hal yang sangat bermanfaat dalam sejarah peradaban manusia.

Kita akan melihat hal ini pada seri-seri selanjutnya. (PH)

Bersambung ke:

Catatan kaki:


[1] N.S. Gill, “Hesiod’s Five Ages of Man”, dari laman https://www.thoughtco.com/the-five-ages-of-man-111776, diakses 28 April 2021.

[2] Eamonn Gearon, The History and Achievements of the Islamic Golden Age (The Great Courses: Virginia, 2017), hlm 3-4.

[3] World Civilization, “The Islamic Golden Age”, dari laman https://courses.lumenlearning.com/suny-hccc-worldcivilization/chapter/the-islamic-golden-age/#:~:text=The%20Islamic%20Golden%20Age%20refers,development%2C%20and%20cultural%20works%20flourished., diakses 28 April 2021.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*