Mozaik Peradaban Islam

Zaman Keemasan Islam (2): Kebangkitan Dinasti Abbasiyah

in Sejarah

Last updated on May 6th, 2021 03:08 pm

Khalifah al-Mamun sangat terinspirasi oleh kebijaksanaan rasionalisme Yunani yang dia percaya dapat menjadi kunci untuk membuka sebagian besar cabang ilmu pengetahuan — termasuk keyakinan religius.

Lukisan dari abad ke-12/13 yang menggambarkan utusan Bizantium menemui Khalifah al-Mamun. Pelukis tidak diketahui. Foto: Chronicle of John Skylitzes, cod. Vitr. 26-2, Madrid National Library

Pada tahun 129 H/747 M sebuah kelompok gerakan politik yang disebut Bani Abbasiyah melakukan pemberontakan terbuka kepada Dinasti Umayah yang telah berkuasa selama lebih dari 80 tahun. Di bawah kepemimpinan Abu Muslim pada tahun 750 Bani Abbasiyah kemudian melakukan pertempuran besar di Sungai Zab, Mesopotamia.

Melalui pertempuran ini Bani Abbasiyah berhasil mengalahkan Marwan bin Muhammad, khalifah Umayah terakhir. Tidak lama kemudian mereka mengangkat khalifah Dinasti Abbasiyah yang pertama, yaitu Abu al-Abbas Abdullah bin Muhammad as-Saffah (berkuasa 750-754).[1]

Ketika peristiwa penggulingan ini, Bani Abbasiyah membantai hampir seluruh keluarga Umayah, kecuali satu, seorang anak lelaki berusia 19 tahun yang bernama Abdurrahman. Dia lari ke Andalusia (sekarang Spanyol dan Portugis), dan kelak akan menjadi penguasa di sana, yang menjadi cikal bakal dari Dinasti Umayah II di Cordoba.[2]

Sama dengan Dinasti Umayah, Bani Abbasiyah pun pada awal-awal pertarungan untuk meraih kekuasaannya melakukan tindakan brutal yang berdarah-darah. Meski demikian, dalam perjalanan kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang berlangsung lebih dari 500 tahun (750–1258), mereka berhasil membuat terobosan-terobosan besar bagi sejarah peradaban manusia, yang kelak seringkali disebut-sebut sebagai Zaman Keemasan Islam.

Adalah Khalifah Abbasiyah al-Mamun, yang memerintah selama 20 tahun dari 813-833, yang dianggap sebagai pelopor bagi terciptanya Zaman Keemasan Islam. Pada masa dia berkuasa, Baghdad, ibukota Abbasiyah, mungkin adalah kota terbesar di dunia, dan kerajaannya adalah yang terkuat di dunia.

Al-Mamun sangat terinspirasi oleh ide-ide yang berasal dari luar Arab — terutama Yunani dan Persia. Akibatnya, dia melakukan investasi yang begitu besar dalam dunia penelitian dan beasiswa. Dia mengisi Baghdad dengan para intelektual terhebat di dunia pada masa itu.

Al-Mamun melanjutkan pekerjaan penting terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang telah dirintis dari sejak masa ayahnya, Harun al-Rasyid, yang telah mendirikan Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) pada masa pemerintahannya sendiri (786–809).

Al-Mamun begitu bersemangat dalam pencariannya, dia sangat terinspirasi oleh kebijaksanaan rasionalisme Yunani, sebuah aliran pemikiran yang berhubungan dengan logika dan observasi, yang dia percaya dapat menjadi kunci untuk membuka sebagian besar cabang ilmu pengetahuan — termasuk keyakinan religius.

Keyakinan al-Mamun pada rasionalisme membawanya ke dalam konflik langsung dengan banyak ulama konservatif yang kuat dan religius.

Al-Mamun dan cabang Islam Sunni yang muncul di Baghdad telah menggantikan pendahulunya, yaitu Sunni versi Umayah di Damaskus. Dalam perjalanannya untuk mengembangkan Kekhalifahan Abbasiyah yang berbasis di Baghdad, yang kemudian akan menjadi kerajaan terbesar di dunia saat itu, gagasan al-Mamun tentang filsafat rasional dan penyelidikan ilmiah terkait agama seringkali bertentangan dengan pandangan para tradisionalis yang berpendapat wahyu saja sudah cukup bagi keimanan.

Al-Mamun mendukung pendekatan yang lebih rasionalis dan keilmuan yang lebih orisinal, dan dia berusaha menggerogoti otoritas ulama tradisionalis dengan melembagakan inkuisisi. Siapa pun yang menolak untuk menerima pendekatan rasionalis dan pemikiran bebas Sang Khalifah akan dipenjara, dicambuk, dan bahkan dibunuh dengan cara dipenggal.[3]

Salah satu ulama besar Sunni yang berseberangan dengan al-Mamun adalah Imam Abu Hanifah, peletak dasar Mazhab Hanafi. Berdasarkan prinsip di dalam Islam yang diyakininya, yakni Amar makruf nahi mungkar (menegakkan yang benar dan melarang yang salah), Abu Hanifah bangkit melawan al-Mansur.

Pada masa-masa ini terjadi, Zufar bin al-Hudhail (wafat 774), salah satu murid utama Abu Hanifah, bahkan sampai menyatakan bahwa murid-murid Abu Hanifah mulai ketakutan dibunuh oleh orang-orang Dinasti Abbasiyah. Abu Hanifah dilaporkan telah menyumbangkan kekayaannya, yakni sebanyak 4.000 keping emas, untuk mendukung pemberontakan.

Selain itu, musuh-musuh Abu Hanifah juga mengutuknya, karena dia telah mendorong para pemuda untuk bergabung dengan pemberontakan, yang mana seringkali menyebabkan kematian bagi mereka.

Pada akhirnya pemberontakan ini berujung dengan kegagalan. Al-Mansur memang tidak menjatuhkan hukuman cambuk kepadanya, mengingat dia sudah tua pada waktu itu, meskipun dia sempat mengancam akan melakukannya.[4]

Al-Mansur akhirnya memerintahkan Abu Hanifah untuk dipenjarakan, di mana dia menghabiskan dua tahun sisa hidupnya di sana.[5] Beberapa laporan lain mengindikasikan bahwa al-Mansur telah meracuni Abu Hanifah di dalam penjara.[6]

Meskipun bagi para pendukung Abu Hanifah ini adalah suatu peristiwa besar, namun dalam sudut pandang penguasa Abbasiyah, perdebatan agama semacam ini hanyalah salah satu aspek — dan sering kali dianggap hal remeh  — dari Zaman Keemasan Islam.

Pada masa-masa berikutnya tak terhitung orang-orang religius yang diakui pada zaman itu — baik dari kalangan Muslim, Yahudi, dan Kristen — melakukan eksperimen ilmiah tingkat lanjut di bidang optik, kedokteran, matematika, dan juga astronomi.

Sebagai contohnya adalah orang-orang dari Bani Musa — ada tiga bersaudara dari mereka yang bekerja untuk al-Mamun dan khalifah berikutnya — yang terkenal karena menciptakan ratusan perangkat cerdas, termasuk air mancur, mainan mekanik, dan jam model baru.

Sebagai penggambaran bahwa pada masa itu orang-orang boleh bebas berekspresi, sebut saja ada Abu Nawas, “penyair mabuk” dari abad ke-8. Dia sering disebut-sebut sebagai penyair bahasa Arab terhebat sepanjang masa, dia senang mengejek orang-orang beragama dan menghina istana al-Mamun dengan puisi-puisi yang memuji anggur, mabuk, dan cinta heteroseksual dan homoseksual. Dikatakan bahwa Abu Nawas menghabiskan sebagian besar hidupnya bukan untuk mengejar kemajuan, tetapi untuk kesenangan.[7] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Encyclopaedia Britannica, “ʿAbbāsid caliphate”, dari laman https://www.britannica.com/topic/Abbasid-caliphate, diakses 9 Oktober 2019.

[2] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 93.

[3] Eamonn Gearon, The History and Achievements of the Islamic Golden Age (The Great Courses: Virginia, 2017), hlm 4-5.

[4] U. F. ʿAbd-Allāh, “Abū Ḥanīfa” (Encyclopædia Iranica), dari laman http://www.iranicaonline.org/articles/abu-hanifa-noman-b, diakses 9 Oktober 2019.

[5] Karim D. Crow, Abū Ḥanīfa Nu‘mān ibn Thābit, dalam Alexander Wain dan Mohammad Hashim Kamali (ed), The Architects of Islamic Civilisation (International Institute of Advanced Islamic Studies (IAIS) Malaysia, 2017), hlm 41.

[6] U. F. ʿAbd-Allāh, Loc.Cit.

[7] Eamonn Gearon, The History and Achievements of the Islamic Golden Age, Op.Cit., hlm

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*