Mozaik Peradaban Islam

Achmad Noe’man (2): Masjid Salman ITB

in Arsitektur

Last updated on October 5th, 2018 06:51 am

 

Oleh Mi’raj Dodi Kurniawan[1]

“Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) bukan hanya jawaban Ahmad Noe’man dan kolega atas ketiadaan sarana peribadahan yang memadai bagi civitas academica muslim di ITB, melainkan juga karya arsitektur masjid pertama yang benar-benar dirancang Arsitek Seribu Masjid itu, usai menyabet gelar insinyur dan menjadi arsitek. Dalam perkembangannya, masjid ini hendak dijadikan oase bagi masyarakat kota, menjadi pelipur dahaga dari hiruk-pikuk perkotaan.”

–O–

Masjid Salman ITB, masjid tanpa kubah. Photo: kabar.salmanitb.com

Achmad Noe’man (AN) berkisah, sewaktu masih menjadi mahasiswa ITB, beliau tidak hanya kuliah, melainkan juga concern pada kegiatan keislaman. Dalam konteks yang terakhir disebutkan, beliau turut menggerakkan kegiatan keislaman mahasiswa di kampus itu, dan aktif menjadi kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sebelum Masjid Salman didirikan, beliau dengan civitas academica ITB muslim lainnya menjalankan Shalat Jumat di luar kampus yang lokasinya cukup jauh, antara lain di Cihampelas, atau yang terdekat, di Aula Barat ITB.[2]

Fenomena ini mudah dipahami. Sebab, selain kampus sekuler – untuk membedakannya dengan kampus keislaman seperti IAIN yang sekarang diubah menjadi UIN, ITB pun kampus peninggalan pemerintah kolonial Belanda (non-muslim). ITB bermula dari perguruan tinggi teknik pertama sekaligus lembaga pendidikan tinggi pertama di Hindia Belanda, yang dibuka sejak 3 Juli 1920. Waktu itu namanya Technische Hoogeschool te Bandoeng, disingkat TH te Bandoeng, TH Bandoeng, THB, atau THS,[3] dan Presiden Sukarno ialah salah satu alumninya.

Kampus ITB di zaman Belanda. Photo: rinaldimunir

Posisinya – sebut saja – sebagai kampus sekuler dan dikuasai para petinggi yang kurang memperhatikan keislaman, membuat ITB belum memiliki masjid hingga menjelang akhir Orde Lama. Awalnya, Rektor ITB Periode 1959-1964 Prof. Ir. O. Kosasih pun menolak rencana pembangunan masjid di dalam kampus. “Kalau orang Islam minta masjid, nanti orang komunis pun minta Lapangan Merah di ITB” kilahnya.[4] Padahal, civitas academica di ITB sudah banyak yang muslim dan memerlukan masjid.

Selain itu, pada tahun 1960-an, ada masa di ITB ketika seorang laki-laki yang meminta izin untuk Shalat Jumatan kepada dosennya di sela-sela perkuliahan, dianggap ganjil. Ada masa ketika seorang laki-laki yang bersarung malah dibilang, “Wah, Arab, nih.” Ada masanya pula celotehan, “Eh kamu mau shalat, titip salam ke Tuhan ya!” menjadi sesuatu yang lumrah.[5]

Maka, sebagai kader umat Islam dan – lebih spesifik – kader HMI, bersama koleganya, sesudah menjadi Dosen ITB dan arsitek, AN mengusahakan pembangunan masjid di dalam kampus Ganesha. Tahun 1964, usai menggambar arsitekturnya yang ciamik, dari Bandung, AN dengan Prof. TM Soelaiman (Ketua Delegasi Jajasan Pembina Masdjid [JPM] ITB), Achmad Sadali, dan Ajat Sudrajat pun berangkat menemui Presiden Sukarno yang saat itu didampingi Menteri Agama RI Saifuddin Zuhri.[6]

Selain berkonsultasi, tujuan pertemuan untuk mendapatkan dukungan moral dan politik dari presiden. Pucuk dicinta ulam pun tiba, sesudah berbincang cukup alot, Presiden Sukarno mengapresiasi gagasan pembangunan masjid ini, bahkan menilai gambar arsitektur masjidnya, cukup futuristik. Singkat cerita, presiden menandatangani kertas rancangan gambar arsitektur masjid yang diajukan AN.

Yang menarik, bukan hanya mendukung, melainkan Sukarno pun berkenan menamai masjid yang akan dibangun ini dengan nama Masjid Salman. Menurut presiden, nama Salman diilhami dari nama sahabat Rasulullah asal Persia, Salman Al-Farisi. Dalam sejarah peradaban Islam klasik, figur ini tidak hanya muslim yang cerdas, tetapi juga penggagas taktik pembuatan parit dalam Perang Khandaq, sehingga turut berkontribusi memenangkan kaum muslim klasik dalam perang tersebut.

Presiden Soekarno lah yang memberikan nama “Salman”. Photo: faktatime.com

“Siapa itu sahabat yang menggali parit pada saat Perang Khandaq?” sontak Presiden Sukarno bertanya sambil menoleh ke arah Saifuddin Zuhri. Sang Menteri sekaligus Pimpinan NU itu menjawab, “Salman.” Jawabannya disambut presiden, “Nah itu, masjid ini saya namakan Salman!” Mendengar itu, tampak haru di wajah-wajah Prof. TM Soelaiman, Achmad Sadali, Ajat Sudrajat, dan AN. Perasaan itu mengisi ruang istana usai santap pagi, Kamis 28 Mei 1964.[7]

Pasca proses pembangunan yang panjang, maka masjid pelopor masjid-masjid kampus di Indonesia ini dipakai untuk pertama kalinya pada 5 Mei 1972 sebagai tempat shalat Jumat. Selain mendorong pembangunannya, alumni HMI ITB lainnya yaitu Imaduddin Abdurrahim alias Bang Imad, untuk pertama kalinya, tahun 1974, mengadakan Latihan Mujahid Dakwah (LMD) di Masjid Salman. Pelatihan dakwah ini paling diminati di masa itu, buktinya diikuti para aktivis mahasiswa Islam dari seluruh Indonesia.[8]

Aristektur Masjid Salman bukan hanya terobosan baru, tetapi juga unik. Tidak seperti masjid-masjid lainnya di Indonesia awal tahun 1970-an, masjid ini mengawali tren arsitektur masjid tanpa kubah, beratap rata, dan tanpa tiang penyangga di dalam ruangan. Tujuan tanpa kubah agar bagian bawahnya tidak berat menyangga, sehingga tidak perlu tiang penyangga di dalam ruangan, dan – dengan demikian – tiada yang memotong barisan shalat berjamaah dan tiada yang menghalangi pemandangan khatib dan jamaah.[9]

Interior Masjid Salman tanpa menggunakan tiang penyangga. Photo: Kundasang Green Hill Homestay

Ringkasnya, desain arsitektur Masjid Salman seluruhnya fungsional (engineer feeling). Meski begitu, jika orang hanya mengetahui masjid mesti berkubah, maka dari jauh, Masjid Salman akan kurang dikenali sebagai masjid. Oleh sebab itu, menara di ujung bagian timur ruang terbuka masjid ini membantu mereka untuk mengenalinya dari jauh, bahwa bangunan ini sebuah masjid. Boleh jadi, menara berbentuk menhir ini penanda satu-satunya tentang hal itu.[10]

Menara berbentuk menhir ini satu-satunya penanda yang menyatakan bahwa bangunan ini adalah sebuah masjid. Photo: Masjid Salman ITB

Namun, menara bukan hanya menjadi sebagai penanda masjid dan trendmark komplek Masjid Salman ITB, tetapi juga berfungsi sebagai tempat pengeras suara, sehingga jangkauan suara adzan akan semakin luas dan dapat didengar oleh kaum muslim di kampus tersebut.

Jika dilihat lebih saksama, setiap ujung atap datar Masjid Salman tampak melengkung ke atas, sehingga menyerupai cawan terbuka. Menurut AN, interpretasi bentuk atap beton yang membentang 25 meter ini ialah bentuk negatif atap bangunan Aula Timur ITB yang juga menjadi ciri khas atap-atap bangunan di ITB. Namun, bukan hanya penghias, tetapi lengkungan ini pun berfungsi sebagai talang datar untuk mengalirkan air dari atap datarnya, sebagai antisipasi tingginya curah hujan di Bandung.[11]

Dilihat dari dekat, arsitektur masjid ini memang engineer feeling. Perhatikan saja, ventilasi silang dan koridor dipakai untuk menetralisir panas matahari. Meski sejuk, namun di musim kemarau, masjid ini niscaya disorot cahaya panas matahari. Lalu, selain menambah kesan sejuk, koridor-koridor di sisi utara, selatan, dan timur ruangan utama shalat pun berfungsi sebagai transisi bagian luar masjid yang terkesan berat dan dingin, dengan bagian dalam masjid yang ringan, hangat, akrab dan nyaman.

Koridor Masjid Salman. Photo: Masjid Salman ITB

Kesan berat dan dingin pada bagian luar masjid karena material koridor terbuat dari beton, sedangkan kesan ringan, hangat, akrab, dan nyaman di bagian dalam masjid disebabkan bahan material ruangan utamanya didominasi kayu jati, baik di lantai dan di dinding maupun di plafonnya.[12] Lihat langit-langitnya, tampak kayu-kayu persegi dipotong diagonal, sehingga membagi petak ini menjadi empat bagian yang sama besar. Uniknya, intensitas warna kayunya berbeda-beda, dari yang paling gelap sampai yang terang.[13]

AN benar-benar arsitek jempolan. Sebab, detail-detail kecil arsitektur masjid ini benar-benar beliau perhatikan, termasuk simbolisasinya. Miniatur Ka’bah di atas mimbar, misalnya, adalah simbolisasi kiblat umat Islam ke arah Ka’bah di Mekkah, Arab Saudi. Akhirnya, posisi lampu-lampu yang tersembunyi, baik di atas ruangan utama maupun di atas koridor bukan hanya mempercantik, tetapi juga menimbulkan kesan rapih. Sungguh, sebuah masjid yang tampak sederhana namun elegan dan nyaman.

Bersambung ke:

Achmad Noe’man (3): Masjid Al-Furqon UPI

Sebelumnya:

Achmad Noe’man (1): Arsitek Seribu Masjid

Catatan Kaki:

[1] Ketua Bidang Litbang KAHMI Cianjur, Sejarawan UPI Bandung, dan Penulis essay-essay tentang Keislaman di berbagai media Nasional.

[2] Wawancara penulis dengan Achmad Noe’man di Birano Architec, Jalan Ganesha Nomor 5-7 Bandung, Jawa Barat, bulan Desember 2014.

[3] Lihat “Sejarah Berdirinya Institut Teknologi Bandung” dalam https://situsbudaya.id/sejarah-berdirinya-institut-teknologi-bandung/. Diakses di Cianjur, 2 Oktober 2018.

[4] Lihat “Sejarah Salman” dalam http://salmanitb.com/home/tentang/sejarah-salman/. Diakses di Cianjur, 2 Oktober 2018.

[5] Ibid.

[6] Loc.Cit., Wawancara penulis dengan Achmad Noe’man…

[7] Loc.Cit., “Sejarah Salman”…

[8] Loc.Cit., “Sejarah Salman”…

[9] Loc.Cit., Wawancara penulis dengan Achmad Noe’man…

[10] Shinta Asarina dan Fery Adi Prasetyo. “Masjid Salman dalam Perspektif Arsitektur Ahmad Noe’man” dalam http://kabar.salmanitb.com/2010/11/25/masjid-salman-dalam-perspektif-arsitektur-ahmad-noeman/. Diakses di Cianjur 1 Oktober 2018.

[11] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Taufik Suryo. “Melihat Arsitektur Masjid Salman Lebih Dekat” dalam https://taufiqsuryo.wordpress.com/2008/11/02/melihat-arsitektur-masjid-salman-lebih-dekat/. Diakses di Cianjur 1 Oktober 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*