Mozaik Peradaban Islam

Achmad Noe’man (3): Masjid Al-Furqon UPI

in Arsitektur

 

Oleh Mi’raj Dodi Kurniawan[1]

“Masjid Al-Furqan UPI disebut-sebut sebagai masjid kampus yang terbesar dan termegah se-Asia Tenggara. Masjid ini dapat menampung lebih dari 10 ribu jamaah. Sama dengan versi lama, Masjid Al-Furqon UPI versi baru pun dirancang oleh Arsitek Seribu Masjid, Achmad Noe’man. Selain tidak berkubah, tiada pula tiang penyangga di ruangan. Yang unik, di puncak atapnya bertengger mencolok mustika kaligrafi lafadz Allah.”

–O–

Masjid Al-Furqan UPI Bandung. Photo: Ramdan Herawan

Kendati sama-sama dirancang Achmad Noe’man, Masjid Al-Furqan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) versi lama yang mirip Masjid Salman ITB yang bersahaja namun elok, berbeda dengan Masjid Al-Furqan UPI versi baru yang terkesan megah dan modern. Kesan alami dari kayu diganti kesan modern dari beton. Perubahan ini terjadi setelah renovasi total dilakukan pada tahun 2004. Langkah ini bagian dari agenda modernisasi fisik kampus UPI.

Masjid Al-Furqan versi lama. Photo: islamic center upi

Meski dirombak total, tetapi letaknya tetap, tepat di sebelah kiri gerbang utama UPI Jalan Setiabudhi, Bandung, Jawa Barat. Alhasil, masjid tinggi besar ini tidak hanya langsung terlihat dari jalan raya, tetapi juga seolah-olah menyambut siapa pun yang mendatangi UPI. Berkat taman asri dan elemen lampu hias di timur, dan taman hijau di antara selasar dan pintu masuk, pengunjung serasa disambut dengan hangat dan elok. Jika dilihat malam hari, masjid bergaya islamic modern dan berkonsep art deco and monumental ini memang mempesona.

Lantaran UPI mengusung visi kampus ilmiah, edukatif, dan religius, maka bertenggernya masjid kokoh ini seakan-akan menegaskan dan mencerminkan kehendak untuk menjaga visi dan citra kampus religius. Kendati sudah berganti nama dan banyak membuka jurusan non kependidikan, tetapi core business UPI tetap kependidikan. Oleh sebab itu, visi dan citra kampus ilmiah, edukatif, dan – terutama – religius bukan hanya masih relevan, tetapi juga – oleh sebab itu – patut dijaga dengan baik.

Dengan lahan yang tidak terlalu luas, Achmad Noe’man yang pernah meraih anugerah MUI Award Tahun 2011,[2] telah merancang sebuah masjid yang bisa menampung banyak jamaah. Oleh karena itu, sebagaimana gedung-gedung perkuliahannya yang tinggi menjulang, maka alih-alih berorientasi horizontal, masjid ini justru berorientasi vertikal. Itu sebabnya, meski tampak modern dari postur dan dari segi warna (biru dengan peach dan aksen merah muda), tetapi coraknya minimalis.[3]

Kesan tersebut muncul jika mengamati bentuk dasar bangunannya yang berbentuk kotak dan cenderung vertikal. Sebenarnya bukan hanya kesan, melainkan juga kenyataannya masjid ini memang bersifat vertikal. Sebab, ia berdiri kokoh di atas lahan yang tidak terlalu luas, tetapi memiliki empat lantai. Lantai dasar untuk kegiatan kemahasiswaan, kantor DKM, Islamic Tutorial, dan wudlu, sedangkan lantai 2, 3, dan 4 untuk shalat. Secara keseluruhan, ia mulai biasa disebut Islamic Tutorial Center (ITC).

Jika diamati dari luar, bentuk limas di bagian atap Masjid Al-Furqan tidak ubahnya masjid-masjid tua di Pulau Jawa. Namun, karena arsitekturnya bercorak modern, maka limasnya dimodifikasi menjadi undak-undak tipis. Lantas, tampaknya, mustika kaligrafi lafadz Allah yang disangga tiang di bagian atap dan di atas limas bukan hanya penanda supaya masjid ini terlihat dari kejauhan, melainkan juga menegaskan simbol hubungan vertikal kaum muslim dengan Allah Yang Maha Tinggi.

Atapnya berbentuk limas dengan mustika kaligrafi lafadz Allah di puncaknya. Photo: Ari Setiawan

Apabila dilihat dari dalam, tampak efek lain yang dihasilkan dari bentuk limas yang berundak-undak di atap tadi, yakni efek pencahayaan yang membentuk garis tipis pada plafon masjid. Hal ini semakin menegaskan kesan yang modern. Selain itu, kesan minimalis juga tampak, antara lain dari tampilan ruangan utamanya dan dari tampilan bagian dalamnya yang tidak ditemukan banyak ornamen.[4]

Sebagaimana Masjid Al-Furqan versi lama, lantai Masjid Al-Furqan versi baru pun tidak menggunakan keramik, melainkan berbahan kayu, sehingga bukan hanya tidak dingin, tetapi juga terkesan elegan dan eksotik. Memasuki bagian depan ruangan di lantai 2, mihrab tampak sederhana dengan potongan kayu membentuk figura sebagai penghias ceruk. Kemudian dinding latar belakang terlihat berwarna coklat muda, khas furnitur bangunan-bangunan minimalis modern. Akhirnya, sebagaimana ciri khas masjid hasil rancangan Achmad Noe’man, semua hal dan bagiannya bersifat fungsional.

Suasana di dalam masjid. Photo: beritalangitan.com

Lalu, kenapa dinamakan Al-Furqan? Bukan hanya nama lain bagi Al-Qur’an, tetapi Al-Furqan juga nama surat dalam Kitab Suci. Al-Furqan artinya pembatas, pembeda, atau penyisih yang benar (haq) dengan yang salah (bathil) dan jalan yang lurus dengan yang bengkok berbelit-belit. Namun, selain mengacu kepada makna ini, sebenarnya secara historis, inspirasi nama Al-Furqan bagi masjid UPI diambil dari nama Masjid Al-Furqan di Jalan Keramat Raya Nomor 45 Jakarta.[5]

Tadinya, bangunan Masjid Al-Furqan Jakarta adalah Kantor Pimpinan Pusat Masyumi. Namun, sesudah Masyumi dibubarkan tahun 1960, bangunan tersebut diganti menjadi Kantor Pusat Yayasan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) yang dipimpin Mohammad Natsir, tokoh pergerakan kemerdekaan. Fenomena ini menunjukkan bahwa di antara para aktivis mahasiswa Islam di IKIP Bandung (UPI versi lama) pada zaman Orde Lama dengan para aktivis Masyumi telah terjalin komunikasi yang baik.[6]

Tepatnya sejak 1963, semangat keislaman kaum muslim di IKIP Bandung tampak dari dimasukannya Pendidikan Agama Islam sebagai mata kuliah wajib. Pada tahun 1964, semangat tersebut mendorong pendirian mushala At-Tarbiyah. Kendati hanya dapat menampung 20 jamaah, namun mushala ini merupakan cikal bakal Masjid Al-Furqan.[7] Selain oleh para dosennya, pengelolaan Masjid Al-Furqan masa-masa awal pun dibantu para aktivis HMI dan lulusan Latihan Mujahid Dakwah (LMD) yang diselenggarakan oleh Imaduddin Abdurrahim dan kawan-kawannya di Masjid Salman ITB.

Bersambung ke:

Achmad Noe’man (4): Masjid Al-Ghifari IPB

Sebelumnya:

Achmad Noe’man (2): Masjid Salman ITB

Catatan Kaki:

[1] Ketua Bidang Litbang KAHMI Cianjur, Sejarawan UPI Bandung, dan Penulis essay-essay tentang Keislaman di berbagai media Nasional.

[2] Agung Sasongko. “Siapa yang Merancang Masjid Istiklal Sarajevo?” dalam https://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/03/02/om6oon313-siapa-yang-merancang-masjid-istiklal-sarajevo. Diakses di Cianjur, 4 Oktober 2018.

[3][3] Lihat “Masjid Al-Furqon Kampus UPI: Masjid Penyambut Civitas Akademika”. Dalam http://duniamasjid.islamic-center.or.id/566/masjid-al-furqon-kampus-upi/. Diakses di Cianjur, 4 Oktober 2018.

[4] Ibid.

[5] Agung Budiono. “Masjid AL-Furqon UPI Cerminan Kampus Religius”. Dalam https://m.republika.co.id/berita/no-channel/09/12/17/96566-masjid-al-furqon-upi-cerminan-kampus-religius. Diakses di Cianjur, 4 Oktober 2018.

[6] Ibid.

[7] Ibid.