Mozaik Peradaban Islam

Achmad Noe’man (4): Masjid Al-Ghifari IPB

in Arsitektur

 

Oleh Mi’raj Dodi Kurniawan[1]

“Dalam sejarah IPB, Masjid Al-Ghifari di Kampus IPB lama Gunung Gede Bogor merupakan ‘masjid masa lalu’, sedangkan Masjid Al-Hurriyyah di Kampus IPB Darmaga Bogor merupakan ‘masjid masa depan’. Namun, masjid yang relatif mungil itu lebih bersejarah daripada Masjid Al-Hurriyyah. Sama-sama diarsiteki oleh Achmad Noe’man, tetapi Masjid Al-Ghifari menjadi tempat dan saksi sejarah awal dakwah kampus di Kota Hujan itu. Nama Al-Ghifari sendiri diambil dari nama Abu Dzar Al-Ghifari: sahabat Rasulullah dan figur gerakan hidup sederhana.”

–O–

Masjid Al-Ghifari IPB. Photo: Firdaus Usman

Terletak di pusat kota Bogor, di Komplek Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) lama Gunung Gede Jalan Pajajaran Bogor, Masjid Al-Ghifari diresmikan tahun 1978.[2] Pembangunannya selesai tahun 1979,[3] dan ia diarsiteki oleh Achmad Noe’man,[4] peraih anugerah MUI Award 2011.[5] Sebelum Masjid Al-Ghifari berdiri, kegiatan keislaman para mahasiswa IPB menumpang di aula Fakultas Peternakan IPB, tak jauh dari bangunan masjid ini.[6]

Awalnya, bangunan yang kelak diubah menjadi Masjid Al-Ghifari ini adalah Laboratorium Pendidikan Agama Islam di IPB. Masjid ini bukan hanya beratap rata alias tidak memiliki kubah,[7] tetapi juga tidak memiliki tiang penyangga di dalam ruangan. Selain papan nama, anehnya masjid ini tidak mempunyai menara. Padahal, dari kejauhan, kubah dan menara ialah penanda masjid yang dikenal umum. Secara umum, bangunan masjid ini tak ubahnya gedung perkuliahan.

Untungnya, terdapat papan petunjuk di depan bangunan ini, bahwa ia merupakan Masjid Al-Ghifari IPB. Sebagaimana Salman – penggalan nama sahabat Rasul yaitu Salman Al-Farisi – pada nama masjid ITB, nama Masjid Al-Ghifari IPB pun diambil dari penggalan nama sahabat Rasul, yakni Abu Dzar Al-Ghifari. Muslim dari generasi salaf ini dikenal sebagai figur gerakan hidup sederhana.[8] Sepertinya para pendiri masjid ini hendak menonjolkan kepribadian Abu Dzar yang sederhana itu.

Masjid Al-Ghifari terdiri atas dua lantai, yang seluruhnya dapat menampung 600-an jamaah. Bangunan lantai bawah bagian depan dibagi tiga ruangan yang terdiri atas kantor Tim Pendidikan Agama Islam (TPAI) IPB, perpustakaan, dan ruang pertemuan. Selain itu, ada pula tempat wudhu dan kamar-kamar toilet yang di dalamnya terdapat bagian keramik untuk membuang air kecil dan air besar. Kemudian di bagian belakangnya terdapat sekretariat pengurus sekaligus tempat tinggal mahasiswa.

Seluruh bangunan lantai atas dipakai untuk ruangan masjid. Dekorasi ruangannya tampak sederhana. Di bagian atap mimbar atau podium tampak dekorasi benda persegi empat yang diselimuti kain hitam bergaris kuning yang melambangkan Ka’bah. Secara umum, arsitektur masjid ini bersifat fungsional. Dalam konteks gerakan keislaman, Masjid Al-Ghifari bersejarah, karena di zamannya pernah menjadi pusat gerakan keislaman kaum terpelajar di Bogor, Jawa Barat. Beberapa alumni aktivis mahasiswa masjid ini sekarang – antara lain – menjadi petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Di bagian atap mimbar atau podium tampak dekorasi benda persegi empat yang diselimuti kain hitam bergaris kuning yang melambangkan Ka’bah. Photo: Om A.

Kendati bersejarah, tetapi kini jamaah masjid ini kian berkurang. Sebab, IPB telah mengembangkan kampusnya di daerah Darmaga Bogor bagi kebanyakan mahasiswa jenjang pendidikan S1, bahkan di komplek ini didirikan Masjid Al-Hurriyah yang lebih luas dan lebih ramai. Oleh sebab itu, tak berlebihan rasanya jika dikatakan bahwa Masjid Al-Ghifari merupakan ‘masjid masa lalu IPB’, sedangkan Masjid Al-Hurriyah merupakan ‘masjid masa depan IPB’.

Sejarah pendirian Masjid Al-Ghifari tentu saja tidak bisa dilepaskan dari sejarah IPB. Jika ditinjau dari sejarahnya, maka sebelum diresmikan tahun 1963, IPB merupakan bagian dari Universitas Indonesia (UI), yaitu sebagai Fakultas Pertanian. Pada tanggal 1 September 1963, Presiden Sukarno meresmikan IPB sebagai perguruan tinggi mandiri.[9] Sebelum itu, IPB dibentuk dari lembaga-lembaga pendidikan menengah dan tinggi pertanian serta kedokteran hewan yang dimulai awal abad ke-20 di Bogor.[10]

Sejarah pendirian Masjid Al-Ghifari bermula dari tahun 1960, ketika agama Islam sebagai mata kuliah diwajibkan bagi para mahasiswa yang beragama Islam di IPB dan itu disetujui oleh pimpinan. Sejumlah dosen di kampus ini sudah mempunyai niat mendirikan masjid. Namun, lahannya sulit didapat. Maka, pembangunan masjid baru sebatas niat TPAI IPB saja. Tim ini beranggotakan Abdul Aziz Darwis, A.M. Saefuddin, Amin Aziz, Soepan Kusmamihardja, Muhammad Eidman, dan Didin Hafidhuddin.[11]

Tugas TPAI IPB waktu itu merancang kurikulum dan arah mata kuliah agama Islam. Kegiatan awalnya menyusun buku Studia Islamika. Lalu, muncul kegiatan mentoring yakni pemberian asistensi kepada para mahasiswa Islam tingkat I oleh senior mereka. Mentoring dilaksanakan di luar jam perkuliahan. Tujuannya memperdalam doktrin dan praktik keislaman melalui diskusi. Pola ini mengikuti halaqah yang terdiri atas 5-6 orang di Masjid Salman ITB, sedangkan para mentornya dibekali Latihan Mujahid Dakwah (LMD) yang diselenggarakan Imaduddin Abdurrahim di Masjid Salman ITB.[12]

Selain ketiadaan lahan, pemberlakuan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) turut mengganjal program pembangunan masjid ini. Untungnya, kendati belum beroleh izin dari Rektor IPB, tetapi selang beberapa waktu, Dekan Fakultas Peternakan IPB Hari Murti menyetujui ide pembangunan masjid di fakultasnya. Maka, Masjid Al-Ghifari dibangun dalam ukuran 15 x 20 meter dan pembangunannya selesai tahun 1979.[13]

Sesudah itu, gairah para mahasiswa Islam untuk mendalami keislaman tampak sangat tinggi. Diduga kuat, bukan hanya akibat kebijakan NKK/BKK yang memasung aktivitas politik mahasiswa, tetapi juga tingginya gairah tersebut diakibatkan melubernya informasi tentang suksesnya Revolusi Islam Iran tahun 1979. Jika ditelusuri, Revolusi Islam Iran bukan hanya menjadi tema perbincangan para aktivis mahasiswa IPB waktu itu, melainkan juga telah menginspirasi mereka.[14]

Aktivitas mahasiswa IPB pun tersedot ke dalam Masjid Al-Ghifari. Dengan kata lain, masjid ini menjadi ramai. Seolah-olah, para mahasiswa IPB menemukan kanal penyaluran aspirasinya di sini. Selain Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi-organisasi kemahasiswaan lainnya seperti Pelajar Islam Indonesia (PII), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Hizbut Tahrir, dan Dewan Mahasiswa (Dema), tumplek-blek di masjid ini, di bawah payung Badan Kerohanian Islam (BKI).[15]

Pada tahun 1989, berdirilah Badan Koordinasi Keislaman Mahasiswa (BKIM) yang kemudian berada di bawah koordinasi TPAI IPB. Maka, kegiatan di dalam Masjid Al-Ghifari semakin terstruktur rapi, baik secara harian, mingguan, maupun bulanan. Setiap Sabtu pagi, diadakan riyadloh (olah raga) bersama, sedangkan sore harinya diselenggarakan kajian fiqih, tafsir, dan hadits yang biasanya diisi pembicara dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA).[16]

Bersambung ke:

Achmad Noe’man (5): Masjid Al-Hurriyyah IPB

Sebelumnya:

Achmad Noe’man (3): Masjid Al-Furqon UPI

Catatan Kaki:

[1]     Ketua Bidang Litbang KAHMI Cianjur, Sejarawan UPI Bandung, dan Penulis essay-essay tentang Keislaman di berbagai media Nasional.

[2]     DKM Al-Ghifari IPB. “Profil”. Dalam https://masjidalghifariipb.wordpress.com. Diakses di Cianjur, 5 Oktober 2018.

[3]     Khudori, Deni Muliya Barus, dan Rachmat Hidayat. “Masjid Al-Ghifari IPB: Dua Masjid Satu Komando” dalam http://arsip.gatra.com/2005-11-12/majalah/artikel.php?pil=23&id=89735. Diakses di Cianjur, 3 Oktober 2018.

[4]     Wawancara penulis dengan Achmad Noe’man di Birano Architec, Jalan Ganesha Nomor 5-7 Bandung, Jawa Barat, Desember 2014.

[5]     Agung Sasongko. “Siapa yang Merancang Masjid Istiklal Sarajevo?” dalam https://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/03/02/om6oon313-siapa-yang-merancang-masjid-istiklal-sarajevo. Diakses di Cianjur, 4 Oktober 2018.

[6]     Op.Cit., Khudori, Deni Muliya Barus, dan Rachmat Hidayat. “Masjid Al-Ghifari IPB”…

[7]     Op.Cit., DKM Al-Ghifari IPB. “Profil”…

[8]     Hari Zamharir. “Futuhat Al-Makiyah”. Resensi Buku dalam Jurnal HIMMAH, Vol 1 Nomor 01, Desember 2017.

[9]     Buku Panduan Program Sarjana Institut Pertanian Bogor Edisi 2007.

[10]   Lihat “History of IPB Embrional Step” dalam https://ipb.ac.id/about/history-of-ipb-embrional.step. Diakses 5 Oktober 2018 di Cianjur.

[11]   Loc.Cit., Khudori, Deni Muliya Barus, dan Rachmat Hidayat. “Masjid Al-Ghifari IPB”…

[12]   Ibid.

[13]   Ibid.

[14]   Ibid.

[15]   Ibid.

[16]   Ibid.