Mozaik Peradaban Islam

Achmad Noe’man (5): Masjid Al-Hurriyyah IPB

in Arsitektur

 

Oleh Mi’raj Dodi Kurniawan[1]

“Desain utama Masjid Al-Hurriyyah IPB berbentuk segitiga. Ia dirancang oleh maestro arsitektur masjid Achmad Noe’man. Bangun segitiga bukan hanya untuk memaksimalkan pencahayaan, tetapi juga berfungsi sebagai saluran sirkulasi udara alami. Masjid kampus ini terbilang mewah dan dapat menampung 5.000 jamaah, sehingga selain masuk satu dari tujuh masjid kampus termegah di Pulau Jawa, ia pun disebut-sebut sebagai masjid kampus terbesar kedua se-Indonesia.”

–O–

Masjid Al-Hurriyyah IPB dengan desain arsitektur segitiga. Photo: mustaqilli

Melalui Masjid Al-Hurriyyah Institut Pertanian Bogor (IPB), Achmad Noe’man (AN), maestro arsitektur masjid di Indonesia yang meraih anugerah MUI Award 2011[2] kembali menunjukkan karya arsitektur masjidnya yang nyaman dan unik. Masjid ini berdiri kokoh di Dramaga, Bogor. Ia disebut-sebut masuk ke dalam satu dari tujuh masjid kampus megah di Pulau Jawa dan masjid kampus terbesar kedua se-Indonesia. Istilah Al-Hurriyyah sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti kebebasan.

Secara arsitektural, masjid ini didesain dalam bentuk rangka utama segitiga. Bentuk tiang segitiganya menjadikan ruang utama masjid semakin luas. Di sini, AN kembali menegaskan ciri khas arsitektur masjidnya: tanpa kubah dan tiang penopang atap di dalam ruangan, sehingga shaf shalat berjamaah dan penglihatan jamaah dengan khatib, tidak terhalang. Bentuk segitiga pun mengoptimalkan ventilasi dan pencahayaan alami di ruangan masjid.[3] Lalu, ciri bangunan tradisional tampak dari atap berbentuk kuncup limas yang dikomposisikan sedemikian rupa.[4]

Interior Masjid Al-Hurriyyah. Photo: takmirnh

Dominasi bentuk segitiga pada Masjid Al-Hurriyyah merupakan penyelarasan atas berbagai bentuk bangunan utama di Kampus IPB Dramaga, Bogor.[5] Secara mekanika struktural, segitiga pun bentuk yang paling stabil.[6] Dan angka tiga kembali menambah kekhasan bangunan, sebab masjid ini terdiri atas tiga lantai. Lantai satu untuk berwudlu, aula, toko buku, dan perpustakaan. Lantai dua, tidak ada kaligrafi di sana, dan tampak lapang untuk ruang utama shalat laki-laki. Di sana juga ada sejumlah ruangan multi fungsi yang dinamai menurut nama-nama Khulafaur Rasyidin. Lantai tiga untuk ruang shalat perempuan. Dilihat dari segi fungsi, arsitektur Masjid Al-Hurriyyah seluruhnya bersifat fungsional.

Masjid Al-Hurriyyah dilihat dari udara. Photo: LPQ Al Hurriyyah IPB

Makna bangunan berbentuk segitiga Masjid Al-Hurriyyah diambil dari ide dasar master plan Kampus IPB di Dramaga. Selain itu, konsep segitiga merupakan perwujudan dari ajaran Islam yang mengajarkan keharmonisan hubungan hamba dengan Allah (hablumminallah), hubungan antar sesama hamba (hablumminannaas), dan hubungan Muslim dengan lingkungan alam.[7] Versi lain menyebutkan bahwa permainan bangun segitiga pada masjid ini pun salah satu bentuk penghormatan kepada mantan Rektor dan Guru Besar IPB Andi Hakim Nasution. Kabarnya, cendekiawan terkemuka dari IPB tersebut pernah mengajukan bentuk segitiga untuk bangunan ini kepada AN.[8]

Di luar, berdekatan dengan Masjid Al-Hurriyyah, tampak terhampar taman yang luas dan asri serta terdapat kediaman Ketua Dewan Keluarga Masjid (DKM) dan pemuda pengurus Masjid Al-Hurriyyah. Selain tempat ibadah, Masjid Al-Hurriyyah pun dimanfaatkan sebagai tempat kajian keislaman mingguan rutin maupun insidental. Kajian ini biasanya diselenggarakan oleh para pengurus masjid dan lembaga kemahasiswaan di IPB.[9]

Masjid Al-Hurriyyah berdiri tahun 1965. Bentuknya bukan hanya kecil dan sederhana, tetapi juga jauh dari keramaian karena berada di tengah hutan. Oleh karena itu, masjid ini kurang ramai. Pada tahun 1992, di samping kiri masjid dibangun lagi masjid yang lebih besar dan mampu menampung 1.000 jamaah. Tahun 1997, pengelolaan masjid ini masih di bawah Yayasan Al-Ghifari yang juga mengelola Masjid Al-Ghifari di Komplek Kampus IPB Gunung Gede.[10]

Masjid Al-Hurriyyah yang pertama. Photo: Hysocc/Wikimedia

Kemudian, masih di tahun 1997, kegiatan DKM Al-Hurriyyah berkembang pesat, terutama pasca diadakannya Lokakarya Pengelolaan dan Pemakmuran Masjid Al-Hurriyyah IPB. Maka, untuk merenovasi masjid yang lama, IPB membangun masjid lagi yang lebih besar pada tahun 1998. Masjid inilah yang dimaksud dengan Masjid Al-Hurriyyah sekarang. Pengelolaannya telah bersifat mandiri alias tidak lagi berada di bawah Yayasan Al-Ghifari.[11]

Lantaran aktivitas mahasiswa IPB jenjang S1 hingga S3 sekarang berpusat di kawasan Dramaga, Bogor, maka Kampus IPB di Dramaga lebih ramai ketimbang Kampus IPB di Gunung Gede. Sebab, jumlah mahasiswa IPB jenjang S1 hingga S3 lebih banyak ketimbang mahasiswa IPB jenjang D3. Otomatis, jamaah Masjid Al-Hurriyah pun lebih banyak. Dengan demikian, tak berlebihan jika dikatakan bahwa Masjid Al-Ghifari IPB di Gunung Gede merupakan masjid bersejarah, karena sebelumnya, masjid inilah yang menjadi pusat kegiatan keislaman di kampus bahkan di Bogor. Namun, sepertinya, Masjid Al-Hurriyyah tengah menyiapkan diri untuk membangun sejarah baru dalam kegiatan keislaman di IPB.

Seru Achmad Noe’man selesai.

Sebelumnya:

Achmad Noe’man (4): Masjid Al-Ghifari IPB

Catatan Kaki:

[1] Ketua Bidang Litbang KAHMI Cianjur, Sejarawan UPI Bandung, dan Penulis essay-essay tentang Keislaman di berbagai media Nasional.

[2] Agung Sasongko. “Siapa yang Merancang Masjid Istiklal Sarajevo?” dalam https://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/03/02/om6oon313-siapa-yang-merancang-masjid-istiklal-sarajevo. Diakses di Cianjur, 4 Oktober 2018.

[3] Chaerul Akhmad. “Masjid Al-Hurriyyah, IPB Bermain dengan Bangun Segitiga (1)” dalam https://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/01/18/mgr7u9-masjid-alhurriyyah-ipb-bermain-dengan-bangun-segitiga-1. Diakses di Cianjur 6 Oktober 2018.

[4] Dewan Kemakmuran Masjid. “Sejarah Al-Hurriyyah”. Dalam http://alhurriyyah.lk.ipb.ac.id/dewan-kemakmuran-masjid/. Diakses di Cianjur 6 Oktober 2018.

[5] Chaerul Akhmad. “Masjid Al-Hurriyyah, IPB Bermain dengan Bangun Segitiga (2)” dalam https://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/01/18/mgr81c-masjid-alhurriyyah-ipb-bermain-dengan-bangun-segitiga-2. Diakses di Cianjur 6 Oktober 2018.

[6] Chaerul Akhmad. “Masjid Al-Hurriyyah, IPB Bermain dengan Bangun Segitiga (3)” dalam https://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/01/17/mgr86r-masjid-alhurriyyah-ipb-bermain-dengan-bangun-segitiga-3. Diakses di Cianjur 6 Oktober 2018.

[7] Loc.Cit., Dewan Kemakmuran Masjid. “Sejarah Al-Hurriyyah”…

[8] Op.Cit., Chaerul Akhmad. “Masjid Al-Hurriyyah, IPB Bermain dengan Bangun Segitiga (3)”…

[9] Chaerul Akhmad. “Masjid Al-Hurriyyah, IPB Bermain dengan Bangun Segitiga (4)” dalam https://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/01/17/mgr8rl-masjid-alhurriyyah-ipb-bermain-dengan-bangun-segitiga-4habis. Diakses di Cianjur 6 Oktober 2018.

[10] Dewan Kemakmuran Masjid. “Sejarah Al-Hurriyyah”…

[11] Ibid.