Mozaik Peradaban Islam

Al-Quran dan Perempuan (4): Para Perempuan Penerjemah Al-Quran (3)

in Studi Islam

Last updated on November 6th, 2018 06:34 am

“Mendengarkan lantunan ayat-ayat al-Quran selalu menyemburatkan kilauan dan mutiara yang tak terkira. Pantulan cahayanya mampu menembus kebekuan hati para pencaci dan mereka yang memusuhi. Keindahan bahasanya yang tak tertandingi melampaui susastra pada setiap tempat dan masa. Pesan-pesan bijaknya menyadarkan pembacanya untuk selalu ingat akan keberadaannya di dunia yang sementara. Membangkitkan jiwa-jiwa yang lemah, mengobarkan api semangat untuk senantiasa kembali kepada-Nya. Bahwa manusia adalah makhluk yang penuh dosa dan lemah, dan al-Quran menjadi anugerah terindah yang lebih baik dari dunia seisinya”   

—Ο—

 

Selain akal-pikiran, manusia dikaruniai wahyu yang berupa Kitab Suci sebagai pembimbing kehidupan jasmani dan ruhani dalam kehidupannya. Ia hadir memberikan kabar gembira, perintah, peringatan, ancaman, dan pemantik sejarah masa silam. Bahasanya yang indah membuatnya tak bosan-bosan untuk dibaca. Gudang ilmunya yang tak pernah kering mengabarkan kepada kita bahwa ia bukan kata-kata manusia, melainkan ucapan Tuhan bagi umat manusia: laki-laki dan perempuan. Darinya lahir peradaban tertinggi dan ragam keilmuan, serta memunculkan perbincangan yang tak pernah habis.

Memang, harus diakui bahwa kerumitan bahasa al-Quran memunculkan ranah interpretasi yang tak mengenal kata henti. Ungkapan-ungkapan di dalamnya mengandung hal-hal yang telah jelas (muhkam) dan samar (mutasyabih). Misalnya, tidak semua kata ganti (dhamir) sesuai dengan kehendak manusia, antara laki-laki dan perempuan. Bagi sebagian kalangan, hal ini memunculkan interpretasi yang bias, sehingga perlu dijelaskan lebih lanjut. Terlebih dalam kesejarahannya, proses-proses dari turunnya sampai kodifikasi didominasi peran laki-laki, dan karenanya ‘harus’ ditafsir ulang, atau setidaknya perlu penerjemahan yang memihak perempuan. Sebagian lagi lebih memilih berhati-hati dengan menerima dan memaknai sebagaimana adanya. Dia sekadar melakukan alih bahasa, dan menambah anotasi-anotasi ringan dan yang perlu sedikit keterangan. Tidak lebih. Termasuk apa yang dilakukan oleh perempuan penerjemah al-Quran bahasa Inggris berkebangsaan Iran, Taheereh Saffarzadeh.

 

Taheereh Saffarzadeh

 

Taheereh Saffarzadeh. Sumber gambar: irna.ir

 

Seorang muslimah yang lahir pada tahun 1936 di kota Sirjan, dekat Kerman, Iran. Dia memeroleh gelar BA dalam bidang sastra dan bahasa Inggris dari Pahlavi University, Iran, tahun 1958. Pada tahun 1961, dia bekerja sebagai penerjemah dan editor buklet ilmiah di perusahaan kilang minyak (Oil Operation Companies). Setelah beberapa tahun bekerja di perusahaan tersebut, dia dipaksa berhenti dari pekerjaannya karena memberikan ceramah kepada anak-anak pekerja di kamp musim panas. Namun dia justru memandang hal ini sebagai peluang untuk belajar lebih banyak, terlebih setelah perceraiannya dengan suaminya dan meninggalnya anak semata wayangnya. Karena itulah, pada tahun 1967 dia memutuskan untuk meninggalkan Iran dan melanjutkan studinya di luar negeri.[1]

Pertama-tama Saffarzadeh pergi ke Inggris, lalu ke Amerika Serikat. Dia diterima kuliah pascasarjana pada International Writing Program di Iowa University dan memeroleh gelar master dalam bidang penulisan kreatif. Di kampus tersebut dia mengambil bidang studi baru dalam sastra dunia kontemporer, terutama fokus pada kritik sastra praktis dan penerjemahan. Kemudian dia juga mendaftar ke MFA, sebuah organisasi yang dirancang untuk mempersiapkan para penulis, penyair, pelukis, dll. untuk mengajar bidang seni, baik dalam lokakarya praktis maupun teoritis di tingkat universitas.

Saat kembali ke Iran, dia bekerja di workshop penerjemahan di Departemen Bahasa Asing yang kemudian menjadi Universitas Nasional. Setelah tujuh tahun mengajar, lagi-lagi dia dipecat karena perlawanannya yang keras terhadap rezim Shah karena puisi-puisinya yang menuntut kebebasan. Selepas itu, dia pun banyak menghabiskan waktu luangnya yang kedua untuk mempelajari al-Quran dan tafsirnya dalam bahasa Persia dan Inggris. Terutama setelah kemenangan Revolusi Islam pada tahun 1979, dia kembali mengajar dan bergerak pada projek FLSP (foreign languages for specific purposes), aktivitas melancarkan program bahasa asing untuk tujuan-tujuan khusus selama hampir 16 tahun. Sebagian waktunya digunakan untuk menyelesaikan terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Inggris yang telah dimulai jauh sebelumnya.

Kontirbusi kreatifnya dalam pengajaran dan penerjemahan yang secara intens dilakukannya ini membuahkan hasil yang membanggakan. Dia berhasil terpilih sebagai salah satu dari lima pendiri Komite Penerjemahan Asia pada Festival Puisi Internasional Dhaka di Bangladesh pada 1987. Pada bulan Maret 2006, Afro-Asian Writers Organization (Organisasi Penulis Afro-Asia) memilihnya sebagai sosok teladan (exemplary personality). Dalam deklarasi tersebut dikatakan bahwa: “Tahun ini, Afro-Asian Writers Organization memilih Tahereh Saffarzadeh. Sosok penyair dan penulis Iran ternama sekaligus contoh bagi para perempuan Muslim yang sangat baik. Mengingat latar belakang politiknya sebagai pencari kebebasan selama masa-masa tirani Pahlavi, ditambah dengan pengetahuannya yang mendalam.”

Sebagai seorang penerjemah, Saffarzadeh telah menulis 10 buku tentang prinsip-prinsip penerjemahan karya sastra, tulisan ilmiah, dan teks al-Quran. Dia secara spesifik menulis mengenai penerjemahan dan telah mempresentasikan sejumlah teori tentang progres keilmuan melalui kegiatan penerjemahan. Dia juga menulis buku berjudul Translating the Fundamental Meanings of the Holy Quran (1999). Buku ini merupakan hasil penelitiannya tentang terjemahan al-Quran dalam bahasa Inggris dan Persia.

Demikian pula sebagai penyair, dia pun telah menerbitkan 14 volume karya syairnya. Karya pertamanya diterbitkan pada tahun 1960-an. Berisi protes pada keterasingan dan ketidaberdayaan perempuan dalam masyarakat yang didominasi laki-laki. Sebagai contoh, dalam syairnya yang bertajuk, “Pilgrimage to My Birthplace [Ziarah ke Tempat Kelahiran]” dalam antologi Tanin Dar Delta (Bisikan di Pantai), Saffarzadeh menggambarkan masa-masa kelahirannya sendiri dan pencarian identitas baru yang terpisah dari ibunya. Sikap pasif dan diam dia dan ibunya menjadikan keduanya sebagai korban supremasi laki-laki.[2]

Salah satu karya monumentalnya adalah terjemahan al-Quran yang berjudul The Holy Quran: Translation with Commentary. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2001, di Iran. Dalam pengantar terjemahan al-Quran, Saffarzadeh mengatakan bahwa dia tidak berusaha untuk mereproduksi pola-pola retorik Arab al-Quran dalam bahasa Inggris atau Persia. Namun, memasukkan inti pengetahuan dan informasi berkaitan dengan setiap ayat dalam terjemahannya secara soft melalui kata-kata di dalam kurung dan anotasi.[3]

Berbeda dengan terjemahan Camille Adams Helminski yang cenderung menyuarakan kesetaraan jender, Saffarzadeh menampilkan al-Quran sebagaimana adanya sebagai bentuk alih bahasa dari bahasa Arab ke Inggris. Sepertinya dia tetap mempertahankan bahasa patriarki—jika itu dianggap demikian, sebagai cerminan dari lingkungan budaya, sosial, dan agama mereka. Dia tidak berusaha merubah atau memberikan anotasi khusus dengan menyesuaikan nada patriarki. Meski demikian, bukan berarti kehidupan Saffarzadeh terbebas dari intimidasi komunitas laki-laki. Bahkan dalam beberapa puisinya, sebagaimana telah disebutkan di atas, sindiran pada dominasi kaum laki-laki atas perempuan begitu kentara. Ia pun mengakui bahwa penggunaan kata ganti maskulin yang juga menjadi bagian dari perempuan merupakan hal yang wajar dan bentuk idiomatik dari bahasa Arab. Karena itu dia lebih memilih untuk mempertahankan penggunaaan yang sama dalam bahasa Inggris.

Hal ini misalnya tampak dalam penerjemahan QS al-Jatsiyah [45]: 15[4]

If a person does good deeds, it is for his own benefit and if he does evil, it will be against himself, since at the end all of you will be returned to your Creator.

 Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, hal itu untuk dirinya sendiri. Dan siapa saja yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. (QS al-Jatsiyah [45]: 15)

Dalam terjemahan di atas, Saffarzadeh tetap menggunakan kata ganti maskulin sesuai dengan bahasa aslinya. Meskipun di kalangan para feminis dinilai memiliki dampak patriarki sebagai bentuk dominasi maskulin dalam bahasa al-Quran. Begitu pula dengan ayat lain, misalnya, QS al-Balad [90]: 1-5.[5]

I swear by this [Makkah] City

And you are native of this city

And the Father and the Son*

Verily, We created man [Adam] in

The space [somewhere between the sky and the earth]

Does man think that Allah the One [the Ahad] has no power over him?

* Ibrahim and Ismail, who built the Sacred House of Ka’bah in Makkah City by Allah’s command.

Artinya: (1) aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah); (2) dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini; (3) dan demi bapak dan anaknya; (4) Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah; (5) Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya?;

Dalam terjemahan di atas, Saffarzadeh tetap mengartikan kata Arab walid dan walad dengan father (bapak) dan son (anak). Dia tidak berusaha mengubah atau mendialogkan isu-isu patriarkal. Justru, dia memberikan keterangan dalam kurung (brackets) setelah kata ‘man’ dengan kata dalam kurung ‘Adam’. Dan pada ayat berikutnya menambahkan anotasi khusus bahwa yang dimaksudkan dengan ‘bapak’ dan ‘anak’ dalam ayat tersebut tidak lain adalah Ibrahim dan Ismail. Dua sosok yang telah membangun Ka’bah di Kota Makkah atas perintah Allah.

Akan tetapi tidak menutup kemungkinan para feminis menilai bahwa dengan terjemahan tersebut dia menegaskan interpretasi patriarkal dalam penciptaan manusia. Sebagaimana kita ketahui bahwa makhluk pertama adalah laki-laki, sehingga pesan ini mendasari keyakinan bahwa wanita merupakan bagian dari manusia, dan karena itu derajatnya lebih rendah dan tidak setara dengannya. Jika asumsi di atas benar, tentu ini merupakan problem kebahasaan yang perlu dijembatani dengan barbagai riwayat yang banyak menegaskan bahwa pada dasarnya semua manusia itu sama. Bisa jadi bagi Saffarzadeh, tanpa perubahan dan penambahan bahasa maskulin dan feminim umat Islam sebagai pembaca dan pengkaji al-Quran telah mengetahui bahwa semua perintah yang tersurat dari al-Quran ditujukan untuk laki-laki dan perempun. Artinya, kejelasan verbatim-nya melampaui apa yang terpikirkan dalam benak pembacanya. Sedangkan yang membedakan mereka adalah siapa yang paling bertakwa dan tunduk di hadapan Tuhannya.

Problematika al-Quran dengan bahasa maskulin tidak lantas menegasikan peran perempuan sebagai makhluk kedua atau second creation. Kompleksitas bahasa al-Quran juga berkaitan nilai-nilai estetis bahasa Arab yang harus dipertahankan untuk menjaga sakralitasnya. Tidak semua bahasa dalam al-Quran membutuhkan verbalitas, namun pemaknaan kontekstual bisa menjadi alternatif dalam mengatasi ‘kemiskinan’ lingua verbal dengan mengacu pada kitab-kitab tafsir baik klasik maupun kontemporer, sejarah sosial dan kehidupan Nabi dan para sahabat, dan makna tersirat yang lebih kaya dan luas daripada yang tersurat. Bahwa al-Quran adalah kitab yang ‘diam’ dan manusialah yang harus menyuarakannya. [KHI]

Bersambung…

Al-Quran dan Perempuan (5): Para Perempuan Penerjemah Al-Quran (4)

Sebelumnya:

Al-Quran dan Perempuan (3): Para Perempuan Penerjemah Al-Quran (2)

 

Catatan kaki:

[1] Md. Mumit Al Rashid, “Tahereh Saffarzadeh Poet of Humanity” dalam Jurnal Philosophy and Progress: Vol. LI-LII, January-June, July-December, 2012, hlm. 91-92

[2] Rim Hassen, English Translations of the Quran by Women: Different or Derived? (UK: Departement English and Comparative Literary Studies, University of Warwick, 2012), hlm. 83

[3] Ameneh Mohagheh dan Hossein Pirnajmuddin, “The trace of translators’ ideology: A case study of English translations of the Qur’an” dalam The Southeast Asian Journal of English Language Studies,  Vol 19 (1): hlm. 51

[4] Rim Hassen, “English Translation of The Quran by Women: The challenges of “Gender Balance” in and Through Language”., hlm. 225

[5] Ibid., hlm. 226

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*