Mozaik Peradaban Islam

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (17): Klan Jurkin

in Sejarah

Last updated on February 28th, 2019 02:05 pm


Klan Jurkin adalah bangsawan Mongol yang menolak mengakui Temujin sebagai khan. Dia kemudian mengalahkan mereka dan membunuh para petingginya. Anggota lainnya diampuni dan diberi tanah, bahkan ada yang diangkat anak. Cara ini adalah revolusi baru dalam dunia Mongol.

Photo ilustrasi: artmediatiq

Tidak lama sebelum penyerangan suku Tatar, Temujin pernah mengundang orang-orang klan Jurkin untuk perjamuan makan. Namun acara yang seharusnya berlangsung akrab dan menyenangkan tersebut berakhir dengan kekacauan. Pada saat acara itu, Belgutei, adik tiri Temujin diserang dengan cara yang sangat merendahkan martabat. Belgutei adalah penanggung jawab kuda-kuda milik klan Mongol Temujin. Perlu diketahui, kuda bagi orang-orang Mongol adalah salah satu aset terpenting, sehingga untuk pengurusannya pun tidak diserahkan kepada sembarang orang.

Pada saat pesta perjamuan berlangsung, Belgutei berdiri mengawasi kuda-kudanya. Lalu seorang pria yang tampaknya dari kelompok Jurkin berusaha mencuri salah satu kuda. Belgutei mengejarnya, tetapi dia dihentikan oleh orang Jurkin lainnya yang dikenal sebagai Buri si pegulat. Sebagai tanda bahwa dia siap melawan Buri, Belgutei menarik bagian atas pakaiannya, membuat sebagian besar tubuh bagian atasnya terbuka. Ketimbang bergulat dengan Belgutei, sebagaimana kebiasaan orang Mongol dalam menyelesaikan perselisihan dalam sebuah pertarungan yang seimbang, Buri malah mengeluarkan pedangnya dan menebas bahu Belgutei.

Buri yang menolak bertarung dan malah menggunakan pedangnya dianggap telah merendahkan. Terlebih, dia menumpahkan darah, meskipun hanya dengan sabetan kecil,  yang mana merupakan hal terlarang dalam keyakinan orang Mongol. Tindakan Buri merupakan penghinaan besar bagi kelompok Temujin. Mengetahui ada perkelahian di luar, para tamu yang mabuk mulai berkelahi satu sama lain. Karena dalam kebiasaan Mongol ketika memasuki sebuah pesta perjamuan harus meninggalkan senjata, maka para tamu mulai saling melemparkan piring makanan, dan saling memukul dengan dayung yang digunakan untuk mengaduk susu kuda yang difermentasi untuk dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Orang-orang Jurkin bukan hanya mengingkari janjinya untuk bergabung dengan pasukan Temujin dalam perang melawan suku Tatar, mereka sekarang mengambil keuntungan dari ketidakhadiran Temujin yang sedang berperang dengan menyerang perkemahannya di rumah. Orang-orang Jurkin membunuh sepuluh pengikut Temujin, mereka menjarah harta benda di perkemahan Temujin, dan bahkan orang-orang yang tersisa pun mereka telanjangi untuk diambil pakaiannya.[1]

Temujin yang sedang berada di lapangan ketika mendengar berita tersebut berkata, “Bagaimana kita dapat diperlakukan sedemikian rupa oleh Jurkin? …. Mereka mengatakan akan berangkat dan bersama-sama menyerang Tatar yang penuh dengan kebencian dan dendam, sejak dari dulu mereka telah membunuh ayah dan nenek moyang kami. Meskipun kita telah menunggu Jurkin selama enam hari, mereka mengecewakan kami dengan tidak datang. Dan sekarang, dengan berpihak pada musuh, mereka sendiri juga telah menjadi musuh kita!”[2]

Lalu ketika Temujin berusaha memperluas wilayah kekuasaannya setelah kemenangannya melawan Tatar, klan Jurkin adalah yang pertama kali dia serang. Dia menyerang mereka pada tahun 1197, dan sebagai bukti keterampilannya yang sekarang sudah terasah sebagai prajurit dan komandan, dia dengan mudah mengalahkan mereka. Pada titik ini, Temujin akan melembagakan perubahan radikal kedua dalam gaya pemerintahannya — yang pertama adalah pengangkatan sekutu yang loyal meski dia bukan kerabat untuk posisi-posisi kunci – yang akan menjadi titik balik dalam usahanya untuk menjadi khan bagi seluruh orang Mongol.

Dalam sejarah panjang peperangan antar suku di padang rumput Mongolia, suku yang kalah akan dijarah, beberapa anggota mereka ditawan, dan sisanya dibiarkan melarikan diri. Kelompok-kelompok yang dikalahkan secara teratur akan mengorganisir diri dan suatu saat akan menyerang balik, atau memisahkan diri dan bergabung dengan suku-suku saingan. Namun, dalam kemenangannya terhadap Jurkin, Temujin membuat kebijakan baru yang radikal. Kebijakan tersebut secara fundamental akan memutus siklus saling serang antar suku dan menutup kemungkinan pecahnya persekutuan di kemudian hari.

Temujin memanggil para pengikutnya untuk menyelenggarakan khuriltai, semacam parlemen yang diwakili oleh perwakilan dari keluarga atau klan. Di sana mereka kemudian melakukan pengadilan publik untuk para pemimpin aristokrat Jurkin karena telah gagal memenuhi janji mereka untuk bergabung dalam perang melawan Tatar, dan karena itu, sebaliknya, mereka malah menyerang perkemahan Temujin di saat dia sedang tidak berada di tempat.

Setelah khuriltai menyatakan mereka bersalah, Temujin meminta mereka dieksekusi sebagai pelajaran tentang nilai kesetiaan kepada sekutu, tetapi juga sebagai peringatan yang keras kepada kelompok bangsawan dari semua garis keturunan bahwa mereka tidak lagi berhak atas perlakuan khusus. Klan Jurkin adalah salah satu klan dari garis keturunan tulang putih (bangsawan) yang dianggap berdarah murni.

Temujin kemudian mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menyita tanah Jurkin dan mendistribusikannya kembali kepada mereka yang diampuni dan menjadikan mereka sebagai bagian dari kelompok Temujin. Meskipun beberapa menafsirkan tindakan ini sebagai bentuk lain dari perbudakan, sebagaimana kebiasaan-kebiasaan sebelumnya, namun menurut dokumen Sejarah Rahasia Bangsa Mongol, Temujin membawa mereka ke dalam sukunya bukan untuk menjadi budak, tetapi untuk diperlakukan dengan terhormat dan penuh dengan kesetaraan.

Hal lainnya yang dia lakukan adalah mengadopsi seorang anak laki-laki yatim dari klan Jurkin dan menyerahkannya ke Hoelun, Ibu Temujin, untuk dibesarkan di tendanya sendiri, bukan sebagai budak, tetapi sebagai putranya. Temujin meminta Hoelun untuk mengangkat anak dari klan Jurkin, seperti sebelum-sebelumnya yang telah dia lakukan terhadap orang-orang Merkid, Tayichiud, dan Tatar yang telah dikalahkannya. Dengan diangkat anak oleh Hoelun, maka anak-anak laki-laki yatim tersebut menyandang status baru sebagai adik Temujin.

Terlepas apakah pengadopsian ini dilakukan karena alasan sentimental atau politis, namun Temujin telah menunjukkan kepekaan yang tajam terhadap signifikansi simbolis dan manfaat praktis dari tindakan semacam itu untuk menyatukan para pengikutnya melalui hubungan kekerabatan (pengangkatan anak). Selain itu, untuk orang-orang lainnya yang telah dia ampuni dan dijadikan sebagai anggota sukunya, Temujin memastikan bahwa di masa depan mereka akan memperoleh keadilan dalam pembagian hasil jarahan dan kesejahteraan masing-masing prajuritnya.

Pada puncak acara penyelesaiannya dengan orang-orang Jurkin, untuk unjuk kekuatan, Temujin mengundang semua pengikutnya dalam pesta perjamuan makan untuk menyambut orang-orang Jurkin sebagai keluarganya sekaligus sebagai perayaan atas kemenangannya melawan Tatar. Di tengah-tengah pesta, Temujin kemudian memanggil Buri si pegulat yang telah menebas bahu Belgutei pada tahun sebelumnya, dan memerintahkan Belgutei dan Buri untuk melakukan pertandingan gulat.

Belum pernah ada yang mengalahkan Buri sebelumnya dalam pertandingan gulat, namun karena takut terhadap Temujin, Buri sengaja mengalah dan membiarkan dirinya dikunci Belgutei. Pada titik ini pertandingan biasanya akan selesai, tetapi Temujin dan Belgutei tampaknya memiliki rencana lain. Belgutei kemudian menarik bahu dan leher Buri sambil mendudukinya di bagian tulang belakang, dan setelah menerima tanda dari Temujin, dia menarik terus tubuh Belgutei ke belakang sampai tulang belakangnya patah. Belgutei kemudian menyeret tubuh Buri yang lumpuh ke luar area perkemahan dan membiarkannya mati sendirian.

Temujin telah menyingkirkan semua pemimpin Jurkin. Pesan-pesan yang dia sampaikan terhadap klan-klan lainnya di padang rumput sangat jelas: Siapapun yang mengikutinya dengan loyal akan mendapatkan penghargaan dan perlakukan yang baik. Dan bagi mereka yang memilih untuk menjadi musuhnya, dia tidak akan menunjukkan belas kasihan.[3] (PH)

Bersambung ke:

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (18): Menyerang Klan Tayichiud

Sebelumnya:

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (16): Menyerang Tatar

Catatan Kaki:


[1] Jack Weatherford, Genghis Khan and the Making of the Modern World (Crown and Three Rivers Press, 2004, e-book version), Chapter 2.

[2] Igor de Rachewiltz, The Secret History of the Mongols: A Mongolian Epic Chronicle of the Thirteenth Century (Western Washington University, 2015), hlm 55.

[3] Jack Weatherford, Loc.Cit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*