Mozaik Peradaban Islam

Penaklukan Persia (16): Strata Sosial di Persia (2)

in Sejarah

Last updated on September 13th, 2020 02:13 pm

Selama berabad-abad rakyat Persia melihat penguasa mereka tenggelam dalam kemewahan. Oleh karena itu, ketika gubernur Muslim baru datang ke wilayah ini hanya dengan keledai, mereka begitu keheranan. Dia adalah salah seorang sahabat Nabi.

Pada masa Sasaniyah, hanya anak-anak orang kaya dan bangsawan yang berhak mengenyam pendidikan. Rakyat umum serta kelas menengah tidak berhak mendapatkan pengetahuan dan kehormatan.

Cacat yang parah pada kultur Persia kuno ini demikian paten sehingga bahkan penulis puisi epik seperti dalam Khudainamah dan Syahnamnah telah mengungkapkannya dengan istilah-istilah ekspresif, walaupun isi pokok yang sesungguhnya dari epik itu adalah riwayat keberhasilan para pahlawan.

Firdausi, penyair epik Persia termasyhur, menulis suatu cerita dalam Syahnamah yang memberikan kesaksian yang jelas tentang hal ini. Kisah itu berasal dari masa Anushirwan (Kisra I), yakni pada masa keemasan Imperium Sasaniyah.

Cerita ini menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Persia yang hampir merupakan keseluruhan penduduk tidak mempunyai hak untuk menjadi orang terpelajar ataupun pencinta kearifan dan keadilan. Anushirwan tidak mengizinkan hak pendidikan diberikan kepada kelas-kelas masyarakat umum lainnya.[1]

Firdausi menuturkan:

Seorang tukang sepatu (atau dalam konteks ini lebih tepat disebut pengusaha sepatu-pen) muncul menawarkan bantuan sejumlah besar emas dan perak untuk memenuhi biaya perang Persia-Romawi.

Pada waktu itu, Anushirwan sangat membutuhkan bantuan keuangan, karena sekitar 30.000 tentara Persia sedang menghadapi kekurangan makanan dan persenjataan. Terjadi kegelisahan di kalangan tentara.

Anushirwan merasa terganggu oleh situasi itu, dan risau atas nasibnya sendiri. Dia segera memanggil menterinya yang bijak, Buzurg Mehr, untuk mendapatkan jalan keluar. Dia memerintahkannya segera ke Mazandaran untuk memenuhi biaya perang.

Namun, Buzurg Mehr berkata, “Bahayanya sudah dekat, karena itu harus segera dilakukan sesuatu untuk mengatasinya.”

Pada saat itu, Buzurg Mehr menganjurkan pinjaman negara. Sarannya disetujui Anushirwan, yang segera memerintahkan untuk menempuh langkah itu tanpa menunda-nunda. Buzurg Mehr mengirim petugas ke kota-kota dan desa terdekat dan memaklumkannya kepada orang-orang kaya di situ.

Si tukang sepatu tadi menawarkan diri unluk menyediakan seluruh biaya perang itu. Satu-satunya imbalan yang diinginkannya atas jasanya itu ialah agar anak tunggalnya yang sangat suka belajar diizinkan untuk mendapatkan pendidikan.

Buzurg Mehr memandang permohonan orang itu sangat kecil dibandingkan dengan jumlah uang yang ditawarkannya. Dia bergegas kepada Raja seraya menyampaikan permohonan tukang sepatu itu.

Anushirwan berang. Dia menegur menterinya dengan mengatakan, “Alangkah ganjil permohonan yang kau ajukan! lni tak dapat dikabulkan, karena bila dia keluar dari penetapan kelas itu, tradisi sistem kelas dalam negara akan runtuh, dan kerugian yang diakibatkannya akan jauh lebih besar daripada emas dan perak yang hendak diberikannya.”

Firdausi menerangkan falsafah Anushirwan dalam syair Sang Raja itu sendiri:

Bila anak saudagar menjadi juru tulis dan mendapatkan kecakapan,

kearifan, dan kecerdasan.

Maka ketika anak kita naik takhta dia memerlukan sekretaris yang dikaruniai

nasib baik.

Apabila anak pengusaha sepatu mendapalkan kecakapan, dia akan meminjamkan

kepadanya mata yang melihat dengan jelas, mau pun telinga.

Dalam hal itu, tak akan ada yang tertinggal pada orang bijak keturunan

bangsawan selain penyesalan dan keluhan sia-sia.

Demikianlah, uang si tukang sepatu pun dikembalikan atas perintah Sang Raja Adil. Ini membuat si tukang sepatu yang tak berdaya itu bersedih, dan, sebagaimana jamak bagi orang tertindas, dia pun mengadu kepada Tuhan Yang Mahakuasa pada malam hari dan membunyikan lonceng keadilan ilahi.

Dalam kata-kata Firdausi, “Si pesuruh kembali dengan uang itu, dan si tukang sepatu sangat sedih karenanya. Hatinya sangat pilu karena kata-kata Raja itu, dan ketika malam tiba, dia membunyikan lonceng ilahi.”[2]

Ketika berbicara tentang penyebab kemunduran, keresahan, dan kekacauan pada masa Sasaniyah, penulis Tarikh-i Ijtima’i Iran, yang merupakan salah seorang pelopor kaum nasionalis Iran, memberikan gambaran tentang hak beroleh pendidikan yang terbatas pada lingkungan kelas tinggi, “Pada masa itu, pendidikan dan pengajaran berbagai pengetahuan yang umum adalah monopoli anak-anak kaum bangsawan dan pendeta, dan hampir semua anak lainnya tidak memperoleh hak itu.”[3]

Sesungguhnya, tradisi mempertahankan agar rakyat tetap bodoh demikian pentingnya di mata Dinasti Sasaniyah sehingga mereka tak mau meninggalkannya walau dengan risiko apa pun. Karena itu, mayoritas orang Persia tidak diberi hak atas pendidikan maupun hak-hak sosial lainnya.[4]

Oleh karena itu, di kemudian hari, ketika umat Islam sudah berhasil membebaskan Persia, dan mereka mengirimkan gubenur-gubernurnya untuk memerintah wilayah-wilayah Persia, dalam banyak riwayat dikisahkan bahwa rakyat Persia begitu keheranan melihat sosok para gubernur Muslim tersebut.

Salah satunya dapat kita simak dalam riwayat berikut ini:

Khalifah Umar bin Khattab ra menunjuk Hudzaifah bin al-Yaman ra untuk menjadi gubernur di Madain (Ctesiphon, bekas ibukota Persia). Ketika Hudzaifah tiba, penduduk kota itu berduyun-duyun keluar untuk menyambut gubernur baru mereka.

Ketika mereka menunggu rombongan gubernur, ternyata yang mereka lihat hanyalah seorang laki-laki yang sedang mengendarai keledai dengan wajah berseri-seri.

Foto Ilustrasi: Penduduk asli Palestina di Betlehem dengan Keledainya. Foto diambil antara tahun 1890-1900 di Tepi Barat. Sumber: Public Domain

Di atas keledai itu, dia beralaskan kain usang, sedang kedua kakinya menjuntai ke bawah, di kedua tangannya terlihat dia sedang memegang roti dan garam, sedang mulutnya sedang mengunyah.

Mereka akhirnya tahu bahwa itu adalah gubernur mereka, namun mereka hampir-hampir tidak dapat percaya. Sebelumnya di Persia tidak pernah ditemui seorang pembesar yang begitu sederhana seperti Hudzaifah.[5]

Artikel terkait:

Setelah membacakan surat pengangkatannya kepada mereka, penduduk berkata, “Engkau diperkenankan meminta kepada kami apapun yang engkau mau.”

Hudzaifah berkata, “Yang aku minta hanyalah makanan untuk dimakan dan makanan untuk keledai ini selama aku bersama kalian.”[6] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Ja’far Subhani, Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW, (Jakarta: Lentera, 2000), hlm 40.

[2] Firdausi, Syahnamah (Vol VI, hlm 257-260), dalam Ja’far Subhani, Ibid., hlm 41-42.

[3] Murtaza Ravandi, Tarikh-i ljtima’i Iran (Vol II, hlm 26), dalam Ja’far Subhani, Ibid., hlm 42.

[4] Ja’far Subhani, Ibid.

[5] Khalid Muhammad Khalid, Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah, terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Mahyuddin Syaf, dkk (CV Penerbit Diponegoro: Bandung, 2001), hlm 231.

[6] Hazrat Maulana Muhammad Yusuf Kandehelvi, The Lives of The Sahabah (Vol.2), diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Mufti Afzal Hossen Elias (Zamzam Publisher: Karachi, 2004) hlm 581.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*