Mozaik Peradaban Islam

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (41): Menyerang Jurchen Jin (7)

in Sejarah

Last updated on March 26th, 2019 02:11 pm


Dalam pertempuran sengit, pasukan Mongol melarikan diri dengan terbirit-birit, meninggalkan semua barang-barang. Pasukan musuh segera keluar benteng, kegirangan untuk mengambilnya. Di saat seperti itu pasukan Mongol berbalik menyerang dari semua arah.

Lukisan karya prajurit Mongol karya Kyung Chah. Photo: chahart.com

Setelah semua pengintaian, pengorganisasian, dan propaganda, ketika serangan puncak hendak dilakukan, tentara Mongol berusaha menciptakan sebanyak mungkin kebingungan dan kekacauan bagi musuh. Salah satu bentuk serangan yang paling umum, mirip dengan Formasi Semak,[1] adalah serangan Gerombolan Gagak atau Bintang Berjatuhan. Melalui tanda genderang, atau dengan api di malam hari, para penunggang kuda berlari kencang dari semua arah sekaligus.

Dalam kata-kata pengamat China pada masa itu, “Mereka datang seolah-olah langit tengah jatuh, dan mereka menghilang seperti kilatan petir.” Musuh terguncang dan terkaget-kaget oleh serangan mendadak, dan secara mendadak pula mereka menghilang. Gelombang menderu yang bising itu tiba-tiba diikuti oleh keheningan yang amat sangat. Sebelum mereka dapat menanggapi serangan itu dengan benar, bangsa Mongol telah pergi dan meninggalkan musuh yang terluka dan kebingungan.

Dimulai pada saat menyerang orang-orang Tangut (1207-1209), Genghis Khan telah menemukan bahwa para insinyur China tahu bagaimana caranya membangun mesin pengepungan yang dapat menghancurkan tembok kota dengan batu-batu besar dari jauh. Orang China telah mengembangkan sejumlah alat semacam itu: ketapel besar pelontar batu, cairan pembakar, dan zat berbahaya lainnya yang dilemparkan ke atau melintasi tembok kota. Selain itu ada juga yang disebut dengan trebuchet, semacam ketapel yang menggunakan tenaga pemberat yang dijatuhkan kepada ungkitan di sisi lainnya, alat ini bahkan dapat meluncurkan batu dengan lebih kencang ketimbang ketapel raksasa biasa. Lalu ada juga alat yang disebut ballista, alat mekanis yang menembakkan panah besar yang dapat merusak bangunan atau struktur, dan dapat membunuh hewan atau manusia yang berada di jalurnya.  

Meskipun benda-benda tersebut bukan hal yang baru, bahkan sudah cukup lama digunakan oleh militer-militer lainnya di dunia untuk menyerang sebuah kota, namun bagi bangsa Mongol itu semua merupakan hal baru. Meski demikian, alat-alat tersebut segera akan menjadi bagian permanen dari persenjataan milik Genghis Khan, yang kagum akan efisiensi dan kecanggihannya. Lebih dari sekadar hanya menggunakan senjata, Genghis Khan juga menginginkan ilmu dan pengetahuan yang diperlukan untuk membuatnya.[2]

Orang-orang Mongol dengan bersemangat memberi penghargaan kepada para insinyur yang mau membelot ke mereka, dan setiap setelah pertempuran, mereka dengan hati-hati memilah dan mencari para insinyur yang berada di antara para tawanan, dan membujuk mereka agar mau mengabdi kepada Kekaisaran Mongol. Genghis Khan cukup serius dalam hal ini, dia bahkan mendirikan unit khusus teknik persenjataan dalam kesatuan militernya. Dan setelah melalui berbagai pertempuran dan penaklukkan, kompleksitas dan efisiensi mesin perangnya terus berkembang dan semakin mematikan.[3]

Senjata-senjata pengepungan semacam ini memiliki daya tarik khusus bagi bangsa Mongol karena memungkinkan para penyerang untuk dapat tetap berada di luar kota dan jauh dari bahaya pertempuran antar manusia langsung yang sebenarnya mereka juga tidak menyukainya. Pada suatu titik dalam kampanye melawan Dinasti Jurchen Jin, pasukan Mongol menggunakan tabung api, yaitu bambu yang diisi dengan bubuk mesiu, yang ketika dinyalakan apinya merambat secara perlahan, sehingga menghasilkan percikan, api, dan asap yang muncul dari ujung tabung. Tabung api merupakan pengembangan dari petasan, senjata ini digunakan untuk menyalakan api dan sebagai alat untuk mengacaukan musuh dan kuda. Dalam penyempurnaannya kemudian, bangsa Mongol akan mengadaptasinya untuk tujuan militer yang lebih luas.

Ketika tidak bisa mengambil alih benteng, Genghis Khan mencoba menarik musuh keluar dari garis pertahanannya melalui strategi berpura-pura melarikan diri. Seperti yang dilakukan Jebe ketika mengepung Liaoyang, dalam sebuah taktik yang disebut Pertarungan Sengit, dia memerintahkan pasukannya untuk meninggalkan banyak peralatan dan benda-benda mereka seolah-olah sedang melarikan diri dengan sangat tergesa-gesa. Melihat itu, perwira musuh mengirimkan pasukannya untuk mengumpulkan barang rampasan. Ketika itu terjadi, pasukan Mongol lainnya segera mengganjal gerbang yang terbuka dengan hewan-hewan dan gerobaknya yang membawa berbagai macam barang. Dengan keberadaan pasukan musuh yang berada di tempat terbuka, dan gerbang yang terbuka, pasukan Mongol segera kembali menghantam mereka dan kemudian secepat kilat memasuki gerbang yang terbuka untuk merebut kota.

Sebagai bangsa pengembara, orang-orang Mongol dari sejak kecil sudah belajar bertahan hidup ke mana pun mereka pergi. Lain halnya dengan prajurit yang dibesarkan dalam lingkungan peradaban pertanian, melarikan diri berarti sama dengan akhir, dan berhasil mengusir dan mengejar musuh berarti kemenangan. Perbedaan latar belakang ini telah menjadi pola pikir yang mendasar dari kedua belah pihak yang berperang. Tujuan utama bangsa Mongol adalah meraih kemenangan, dan bagi mereka tidak penting apakah proses membunuh lawan itu dengan cara menyerang ataupun melarikan diri. Bagi bangsa Mongol, kedua cara ini mewakili pertempuran; penaklukkan dengan cara melarikan diri terlebih dahulu sama baiknya dengan penaklukkan di satu tempat.

Begitu orang Mongol memancing lawan untuk keluar dari kota-kota bertembok mereka, mereka menerapkan teknik yang telah mereka pelajari untuk mengelola pergerakan kelompok besar hewan. Cara yang paling umum, mereka membuat para pengejar berbaris dalam satu barisan panjang yang tipis, sehingga ketika mereka menyerang balik, musuh lebih mudah dikalahkan karena bagian depan mereka jumlah prajuritnya menjadi sedikit, dan kemudian pasukan Mongol memahat barisan panjang itu sedikit demi sedikit dengan kekuatan penuh. Atau cara lainnya, pasukan Mongol ketika dikejar memecah diri dalam kelompok-kelompok kecil, sehingga pasukan musuh yang besar pun akan terpecah-pecah dalam pengejaran, saat itu terjadi pasukan musuh dapat lebih mudah diatasi.

Bahkan ketika terjebak atau dikejar oleh musuh yang lebih kuat dan ngotot, parjurit Mongol masih dapat menggunakan lebih banyak trik untuk meloloskan diri. Jika mereka diserang mendadak pada saat sedang berpatroli, mereka biasanya membawa beberapa barang berharga untuk dijatuhkan ke tanah saat melarikan diri. Pasukan musuh biasanya selalu memisahkan diri dari barisan untuk mengambil barang-barang itu, bahkan mereka sering berkelahi satu sama lain dalam perebutan, dan dengan situasi seperti itu prajurit Mongol dapat melarikan diri. Pada kesempatan lainnya, pasukan Mongol menghambur-hamburkan pasir ke angin yang berhembus atau mengikat ranting-ranting pohon ke ekor kuda mereka supaya debu beterbangan. Hal ini dilakukan untuk membuat para pengejar berpikir bahwa jumlah pasukan Mongol jauh lebih banyak daripada yang mereka ketahui.[4]

Setelah melewati tahun pertama dalam penyerangan Dinasti Jurchen Jin, semuanya menjadi jelas bahwa bahaya terburuk bagi bangsa Mongol bukan berasal dari pertempuran, tetapi dari iklim yang tidak cocok. Rendahnya ketinggian dan kedekatan wilayah Jurchen dengan sungai-sungai besar dan lautan membuat kelembaban udara menjadi tinggi, dan di musim panas, kelembaban dan panasnya udara menjadi hampir tak tertahankan bagi orang-orang Mongol dan kuda-kuda mereka yang lusuh. Berulang kali, mereka dilaporkan jatuh sakit oleh berbagai penyakit mengerikan ketika berada di daerah pertanian dan perkotaan. Kampanye penyerangan hampir terhenti di musim panas, ketika sejumlah besar prajurit Mongol dan kawanan kuda mereka menarik diri untuk sementara ke dataran padang rumput yang lebih tinggi dan dingin di Mongolia Dalam.[5] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Nama lengkapnya adalah Formasi Semak Belukar Tertiup Angin, formasi ini pertama kali dilakukan oleh pasukan Mongol ketika mereka melakukan serangan terhadap suku Naiman. Selengkapnya dapat dilihat dalam “Bangsa Mongol dan Dunia Islam (25): Penaklukkan Suku Naiman (2)”, dalam laman https://ganaislamika.com/%EF%BB%BFbangsa-mongol-dan-dunia-islam-25-penaklukkan-suku-naiman-2/.

[2] Jack Weatherford, Genghis Khan and the Making of the Modern World (Crown and Three Rivers Press, 2004, e-book version), Chapter 4.

[3] Amy Chua, Day of Empire: How Hyperpowers Rise to Global Dominance — and Why They Fall (Doubleday, 2007), hlm 99-100.

[4] Jack Weatherford, Loc.Cit.

[5] Amy Chua, Ibid., hlm 100.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*