Mozaik Peradaban Islam

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (50): Khan Versus Sultan (1)

in Sejarah

Last updated on April 8th, 2019 02:40 pm


Genghis Khan sepanjang hidupnya tidak pernah masuk ke dalam bangunan apapun, kecuali satu, Masjid Agung Bukhara. Kota Bukhara pada waktu itu merupakan “perhiasan bagi umat Islam,” karena di sanalah Imam Bukhari lahir.

Masjid Kalyan di Bukhara pada hari ini. Tidak diketahui secara pasti masjid mana yang dimasuki oleh Genghis Khan, sebab di sana ada banyak masjid bersejarah.
Masjid Kalyan baru mulai dibangun kembali oleh kaisar lainnya jauh hari setelah Genghis Khan meninggal, yaitu oleh Timur Lang (berkuasa 1370–1405). Photo: Advantour

Genghis Khan berangkat ke barat, menuju ke wilayah Kesultanan Khwarizmia pada tahun 1219, atau Tahun Kelinci. Dari ribuan kota yang telah ditaklukkan oleh bangsa Mongol, sejarah mencatat bahwa hanya satu kota yang ingin dimasuki oleh Genghis Khan. Biasanya, ketika kemenangan sudah pasti, dia dan orang-orang lingkaran terdekatnya akan mengundurkan diri dari medan perang dan menuju ke perkemahannya yang lebih jauh dan tenang. Sementara itu, tugas terakhir untuk “membereskan” kota diserahkan kepada bawahan dan prajurit-prajuritnya.

Pada suatu hari di bulan Maret tahun 1220, atau Tahun Naga, ketika pasukan Mongol sudah memenangkan pertempuran, Genghis Khan meninggalkan tradisi lamanya, dia bersama pasukan kavaleri masuk ke dalam pusat kota Bukhara yang baru saja ditaklukkan. Meskipun Bukhara bukan ibu kota atau pun pusat perdagangan, namun ia adalah salah satu kota paling penting milik Sultan Khwarizmia, pada masa kini, kota ini berada di Uzbekistan.[1]

Bagi Muslim, Bukhara menempati posisi yang agung dan terhormat. Pada masanya, di tempat inilah agama Islam tumbuh dan berkembang sehingga ia dijuluki “perhiasan dan cahaya bagi Islam.”[2] Seorang Imam besar dan ahli hadist, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizyah Al-Jufri Al-Bukhari, atau lebih tenar dengan sebutan Imam Bukhari saja, lahir pada tahun 810 dan tumbuh besar di kota ini.[3]

Setelah mengembara untuk menuntut ilmu ke Mekkah dan Madinah, dan beberapa kota lainnya, Imam Bukhari kembali ke Bukhara untuk mendirikan madrasah, di mana dia disambut dengan gegap gempita dan penuh semangat oleh penduduk setempat. Di antara seluruh karyanya, Imam Bukhari menulis satu yang paling terkenal, yaitu Al-Jami As-Shahih, atau lebih populer disebut Sahih Al-Bukhari, yang isinya merupakan kumpulan hadist sahih Nabi Muhammad SAW, yang mana kini telah menjadi salah satu kitab rujukan yang paling banyak dipakai di dunia.[4]

Mengetahui nilai manfaatnya yang besar bagi propaganda perang, Genghis Khan dengan kudanya memasuki kota Bukhara melalui gerbangnya dengan penuh kemenangan. Dia melewati rumah-rumah penduduk dan kios-kios pedagang yang terbuat dari kayu, menuju ke pusat kota di mana bangunan-bangunan besar yang terbuat dari batu atau bata berada. Penyerangan pasukan Mongol ke Bukhara, bahkan sampai saat ini, barangkali masih dianggap sebagai serangan mendadak yang paling berani dalam sejarah militer.

Sementara salah satu bagian pasukannya mengambil rute langsung dari Mongolia untuk menyerang kota-kota perbatasan Khwarizmia secara langsung, tetapi secara diam-diam dia menarik dan mendorong divisi prajurit lainnya dari jarak yang lebih jauh ketimbang yang pernah dicapai oleh pasukan lain mana pun, yakni sejauh sekitar 3.200 km melintasi padang rumput, gunung, dan gurun. Pasukan ini muncul jauh dari garis belakang pertahanan musuh, tempat yang tidak pernah diduga.

Ketika para kafilah dagang biasanya menghindari gurun merah Kyzyl Kum dan lebih memilih jalan memutar sejauh ratusan kilometer, pasukan Mongol justru datang dan menyerang dari arah itu. Dengan menjalin persahabatan dengan suku-suku nomaden di daerah itu, Genghis Khan mampu memimpin pasukannya melalui jalur yang bahkan sampai sekarang tidak diketahui, karena di sana hanya ada bebatuan dan gurun pasir.

Kota Bukhara yang menjadi targetnya berdiri di tengah oasis subur yang menjadi hulu bagi salah satu anak sungai Amu Darya yang sebagian besar dihuni oleh orang-orang Tajik atau Persia. Meski demikian, wilayah ini dikuasai oleh dinasti yang didirikan oleh orang-orang dari suku Turk, yakni Kesultanan Khwarizmia. Sultan Muhammad II, kaisar Khwarizmia pada saat itu melakukan sebuah kesalahan yang teramat fatal, memprovokasi permusuhan dengan Genghis Khan dengan menjarah karavan dagang Mongol, dan membunuh dan merusak wajah – dalam arti harfiah – para duta besar Mongol yang dikirim untuk menegosiasikan hubungan kerja sama perdagangan yang damai.[5]

Meskipun pada waktu itu usia Genghis Khan hampir mencapai 60 tahun, ketika dia mendengar tentang serangan terhadap anak buahnya, dia tidak ragu-ragu memerintahkan pasukannya yang disiplin dan berpengalaman, untuk sekali lagi naik ke tunggangan mereka dan berperang. Sebagaimana yang dikatakan oleh Giovanni Da Pian Del Carpini, utusan Paus Innosensius IV yang ditugaskan untuk menemui bangsa Mongol pada tahun 1245,[6] bahwa bangsa Mongol tidak pernah berdamai dengan siapapun yang telah membunuh utusan mereka, mereka akan membalasnya.[7]

Saksi mata melaporkan bahwa setelah mencapai pusat kota Bukhara, Genghis Khan menunggangi kuda menuju ke masjid yang besar. Karena masjid itu adalah bangunan terbesar di Bukhara, dia menyangka dan menanyakan apakah itu istana sultan? Ketika diberi tahu bahwa itu adalah rumah Tuhan, bukan sultan, dia tidak berkata apa-apa. Bagi bangsa Mongol, satu-satunya Tuhan (atau Dewa) adalah Langit Biru Abadi yang membentang dari horizon ke horizon di keempat penjuru dunia.

Bagi Genghis Khan, Tuhan memimpin seluruh bumi, dia tidak bisa dikurung di dalam rumah batu seperti tahanan atau binatang, atau, seperti yang diklaim oleh penduduk kota, kata-kata Tuhan dicatat dalam sebuah buku – maksudnya adalah Alquran. Dalam pengalaman pribadinya, Genghis Khan sering merasakan kehadiran dan mendengar suara Tuhan yang berbicara langsung kepadanya di udara terbuka yang luas di pegunungan di tanah airnya, dan dengan mengikuti kata-kata Tuhan, dia telah menjadi penakluk kota-kota dan negara-negara besar.

Genghis Khan kemudian turun dari kudanya dan berjalan masuk menuju Masjid Agung Bukhara, satu-satunya bangunan yang pernah dimasukinya sepanjang hidupnya….[8] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Jack Weatherford, Genghis Khan and the Making of the Modern World (Crown and Three Rivers Press, 2004, e-book version), Chapter 1.

[2] Ibid.

[3] Islamic Finder, “Short Biography of Imam Bukhari”, dari laman https://www.islamicfinder.org/knowledge/biography/story-of-imam-bukhari/, diakses 4 April 2019.

[4] Ibid.

[5] Jack Weatherford, Loc.Cit.

[6] Eila M.J. Campbell, “Giovanni Da Pian Del Carpini”, dari laman https://www.britannica.com/biography/Giovanni-da-Pian-del-Carpini, diakses 4 April 2019.

[7] Peter Jackson, The Mongols and The Islamic World (Yale University Press, 2017), hlm 72.

[8] Jack Weatherford, Loc.Cit.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*