Mozaik Peradaban Islam

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (55): Khan Versus Sultan (6)

in Sejarah


Ketika kota Bukhara dibumihanguskan, Juvaini menyandingkannya dengan ayat Alquran, “Maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali.”


Ilustrasi kota terbakar. Foto: tonkyp/Deviant Art

Ketika Genghis Khan dan pasukannya mulai menyerang benteng Bukhara, dia benar-benar memamerkan kekuatannya. Pameran unjuk kekuatan ini bukan ditujukan untuk orang-orang Bukhara yang sudah ditaklukkan, namun untuk pasukan Sultan dan penduduknya yang masih jauh, yakni Samarkand, kota berikutnya yang hendak mereka serang.[1]

Sebagai awalan, Genghis Khan memerintahkan agar setiap sudut kota dibakar.[2] Para penyerbu Mongol kemudian mulai mendorong senjata-senjata pengepungan yang baru mereka bangun — ketapel, trebuchet, dan mangonel (ketiganya merupakan mesin pelontar benda-benda berat) yang tidak hanya melontarkan batu dan api, seperti yang biasa dilakukan pasukan pengepungan lainnya selama berabad-abad, tetapi juga pot berisi cairan pembakar, benda-benda yang dapat meledak, dan material-material pembakar lainnya.[3]

Mereka juga membawa busur raksasa yang dibangun di atas roda. Pada bagian lain, sekelompok besar pasukan mendorong menara portabel (dapat dipindah-pindahkan). Menara tersebut dilengkapi dengan tangga yang ketinggiannya dapat diatur sedemikian rupa, sehingga para pemanah dapat menembak pasukan musuh yang berada di bagian atas tembok benteng. Pada saat bersamaan, pasukan penggali mulai menggali terowongan bawah tanah untuk meruntuhkan dinding benteng dengan cara merusak bagian dasarnya.

Sambil mempertontonkan kecakapan yang luar biasa dari teknologi perang melalui udara, darat, dan bawah tanah yang mereka kuasai, Genghis Khan menaikkan kembali tensi psikologis dengan cara memaksa para tawanan perang, dalam beberapa kasus mereka merupakan kawan-kawan dari pasukan yang berada di dalam benteng, untuk maju ke depan sampai tubuh mereka mengisi parit benteng. Sementara yang lainnya diperintahkan untuk mendorong senjata-senjata besar untuk lebih dekat ke benteng. Para tawanan itu telah dijadikan tameng hidup.

Bangsa Mongol merancang dan menggunakan senjata dari berbagai budaya yang pernah mereka temui dalam peperangan sebelumnya, dan melalui akumulasi pengetahuan ini, mereka menciptakan senjata baru yang penggunaannya dapat disesuaikan dengan situasi apa pun yang mereka hadapi. Bangsa Mongol juga bereksperimen dengan senjata peledak dan pembakar, yang mana nantinya ini akan menjadi cikal bakal dari persenjataan modern, yakni mortir dan meriam.[4]

Juvaini, ketika menuliskan babak sejarah ini, menangkap kebingungan dari para saksi tentang senjata-senjata orang Mongol, mereka tidak mengetahui benda apa yang sedang mereka lihat pada waktu itu. Juvaini menggambarkannya dengan kata-kata, “Itu seperti tungku panas memerah yang diisi oleh tongkat keras yang ditekan ke dalam ceruk dari luar, dengan demikian dari perut tungku, api menyembur ke udara.”[5]

Apa yang sedang dipertontonkan oleh Genghis Khan, merupakan kombinasi dari keganasan dan kecepatan prajurit padang rumput tradisional dengan kecanggihan teknologi tertinggi peradaban China. Genghis Khan menggunakan kavaleri yang mampu bergerak cepat dan terlatih dengan baik untuk melawan pasukan infanteri musuh di darat, sambil menekan pertahanan di dinding benteng dengan teknologi baru pemboman menggunakan senjata dan mesin pemusnah yang belum pernah ada sebelumnya. Dengan api yang menghujani orang-orang di dalam benteng, para prajurit sultan berguguran.[6] Dalam kata-kata Juvaini, situasi itu digambarkan, “Mereka sekarang terperangkap dalam kehinaan dan tenggelam dalam lautan kemusnahan.”[7]

Demikianlah, para prajurit Turki yang masih hidup akhirnya menyerah. Jika pada saat penaklukkan orang-orang Tatar, Genghis Khan memerintahkan untuk membunuh laki-laki Tatar yang tingginya melebihi pasak roda sebuah gerobak, kali ini dia menggunakan ukuran lain, setiap laki-laki Turki yang tingginya melebihi gagang cambuk, maka dia harus dibunuh. Juvaini mengatakan, total korban dalam pertempuran Bukhara ini mencapai 30.000 orang. “Sementara itu anak-anak kecil Turki, anak-anak bangsawan dan kaum wanita mereka, diturunkan derajatnya dalam perbudakan,”[8] kata Juvaini.[9]

Usai pertempuran, benteng Bukhara telah runtuh, dan seluruh kota Bukhara terbakar dan menjadi rata dengan debu. Semua penduduk kota, mengungsi ke halaman masjid, karena itu satu-satunya tempat yang tersisa. Karena sejak awal penduduk kota telah menyerah, hidup mereka diampuni, dan kini mereka menjadi bagian dari Kekaisaran Mongol. Para pemuda dan laki-laki dewasa dikumpulkan, mereka diwajibkan untuk bergabung bersama prajurit Mongol untuk serangan berikutnya ke Samarkand dan Dabusiya. Sementara itu sisanya, laki-laki tua, wanita, dan anak-anak mengungsi ke pedesaan dan kota-kota kecil di sekitar kota Bukhara, karena di sana sudah tidak ada apa-apa lagi yang tersisa.

Juvaini menyandingkan situasi Bukhara dengan salah satu ayat dalam Alquran yang membicarakan tentang kiamat, “Maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali,” (Surat Ta Ha Ayat 106).[10]

Melalui pertempuran ini Genghis Khan memperlihatkan alam berpikirnya, dia menunjukkan bahwa perang bukanlah suatu kompetisi belaka di antara para rival, melainkan sebuah komitmen total dari suatu suku bangsa terhadap yang lainnya. Kemenangan tidak datang kepada orang yang bermain sesuai aturan, namun kepada orang yang menciptakan aturan dan memaksa musuh untuk mengikutinya. Kemenangan tidak mungkin parsial, ia mesti lengkap, total, dan tidak dapat disangkal — kalau tidak itu itu tidak akan menjadi apa-apa. Dalam konteks pertempuran, ini berarti teror dan serangan mendadak; dalam kondisi damai, ini berarti ketaatan terhadap hukum dasar yang tidak tergoyahkan, sehingga akan tercipta kesetiaan dari rakyat. Singkat kata, beginilah filosofi Genghis Khan, “Siapa yang melawan akan menghadapi kematian, dan siapa yang setia akan menikmati keamanan dan kesejahteraan.”[11] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Jack Weatherford, Genghis Khan and the Making of the Modern World (Crown and Three Rivers Press, 2004, e-book version), Chapter 1.

[2] Ala-ad-Din Ata-Malik Juvaini, Tarīkh-i Jahān-gushā, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh John Andrew Boyle, The History of The World-Conqueror: Vol 1 (Harvard University Press Cambridge, 1958), hlm 106.

[3] Jack Weatherford, Loc.Cit.

[4] Ibid.

[5] Ala-ad-Din Ata-Malik Juvaini, Loc.Cit.

[6] Jack Weatherford, Loc.Cit.

[7] Ala-ad-Din Ata-Malik Juvaini, Loc.Cit.

[8] Dalam dokumen Sejarah Rahasia Bangsa Mongol, Genghis Khan justru digambarkan sebagai seorang sosok pembebas yang menghapuskan perbudakan. Dan di lain sisi, dia menghapuskan derajat kebangsawanan suatu kelompok agar mereka dapat melebur dengan orang-orang Mongol melalui sistem perkawinan dan adopsi anak. Selain itu, mereka juga menjadi memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan orang-orang biasa, mereka mesti bekerja dan mengabdi kepada negara. Barangkali, dalam perspektif Juvaini, ketika hak-hak istimewa bangsawan dihilangkan, dan mereka mesti bekerja sebagai orang biasa, itu dianggapnya mirip dengan perbudakkan. Selengkapnya tentang hal ini lihat Igor de Rachewiltz, The Secret History of the Mongols: A Mongolian Epic Chronicle of the Thirteenth Century (Western Washington University, 2015), hlm 72-75.

[9] Ala-ad-Din Ata-Malik Juvaini, Op.Cit., hlm 107.

[10] Ibid.

[11] Jack Weatherford, Loc.Cit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*