Mozaik Peradaban Islam

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (6): Begter si Kakak Tiri

in Sejarah

Last updated on February 18th, 2019 02:14 pm

Begter, kakak tiri Temujin yang usianya tidak berbeda jauh, berdasarkan tradisi Mongol kelak akan menjadi suami Hoelun, ibu Temujin. Temujin tidak pernah menyukai ide tersebut.

Setelah terbuang dari sukunya dan hidup dalam status sosial terendah dalam sistem kemasyarakatan bangsa padang rumput Mongolia, bagaimana mungkin Temujin suatu saat nanti dapat menjadi Khan terbesar bagi bangsa Mongol? Berdasarkan penelitian sejarawan Jack Weatherford dalam bukunya yang berjudul Genghis Khan and the Making of the Modern World, Temujin dapat tumbuh menjadi sosok yang kuat justru karena pengalaman hidupnya yang pahit. Peristiwa traumatis pada awal kehidupan Temujin membentuk karakternya, dan, pada gilirannya, akan mengantarkannya menuju kekuasaan.

Selain itu, tragedi yang dialami keluarganya tampaknya telah menanamkan tekad dalam dirinya yang mendalam untuk menentang struktur kasta masyarakat padang rumput Mongolia yang keras. Belajar dari pengalaman pribadi dan untuk mengubah takdirnya, Temujin, ketimbang mengandalkan suku dan keluarganya, dia lebih percaya kepada seseorang yang dapat dijadikan sebagai sahabat sejati yang dapat selalu mendukungnya dalam berbagai kesulitan.

Ikatan persahabatan pertama yang Temujin dapatkan berasal dari seorang anak lelaki yang sedikit lebih tua darinya, dia bernama Jamuka. Temujin dan Jamuka sebenarnya masih merupakan saudara jauh, tetapi mereka ingin menjadi lebih dekat seperti layaknya kakak dan adik. Dua kali di masa kecil mereka, Temujin dan Jamuka bersumpah untuk menjadi saudara angkat. Dalam tradisi Mongol, melalui sumpah ini, artinya mereka telah mengikat hubungan kekeluargaan sebagaimana kakak dan adik yang sesungguhnya.

Kisah persahabatan mereka dan peristiwa-peristiwa penting dalam hidupnya pada periode awal ini, mengungkapkan banyak detail yang menceritakan tentang kemampuan luar biasa Temujin untuk mengatasi kesulitan dan mengumpulkan sumber daya yang dia butuhkan untuk menentang struktur kekuasaan bangsa Mongol yang semena-mena. Ikatan persahabatan kuat yang dia bangun di masa kanak-kanak, bagaimanapun, kelak akan menjadi aset sekaligus hambatan terbesarnya untuk menapaki tangga kekuasaan. Kisah persahabatan antara Temujin dan Jamuka akan diceritakan kemudian.[1]

Perselisihan dengan Begter

Di kampung halamannya di sisi Sungai Onon, Temujin benar-benar merasa terganggu atas perlakukan intimidatif yang dilakukan oleh kakak tiri laki-lakinya, Begter. Begter adalah anak laki-laki tertua Yesugei dari istri pertamanya yang bernama Sochigel, usianya sedikit lebih tua dibanding Temujin. Mendekati masa remaja, persaingan di antara keduanya semakin kuat. Untuk diketahui, bangsa Mongol memiliki tradisi hirarki yang ketat di dalam kehidupan berkeluarga. Dalam menghadapi begitu banyak bahaya dalam kehidupan sehari-hari, seperti cuaca dan hewan buas, bangsa Mongol mengembangkan suatu sistem di mana anak-anak harus mematuhi orang tuanya secara mutlak.

Ilustrasi Temujin muda. Photo: biography.com

Ketika seorang ayah sedang tidak ada di rumah, baik itu hanya sebentar ataupun berbulan-bulan, maka perannya akan diambil oleh putra tertua. Kakak laki-laki memiliki hak untuk mengendalikan setiap tindakan mereka, memberi tugas apapun kepada adik-adiknya, dan dia juga berhak untuk mengambil barang apa pun yang dia suka dari adik-adiknya. Singkat kata, ketika seorang ayah sedang tidak ada, kakak laki-laki tertua memiliki kekuasaan penuh atas adik-adiknya.

Lambat laun setelah ditinggal mati ayah mereka, Begter mulai menggunakan hak prerogatifnya sebagai lelaki tertua di dalam keluarga itu. Dalam sebuah kisah dalam dokumen Sejarah Rahasia Bangsa Mongol, ketidaksukaan Temujin digambarkan memuncak karena sebuah hal yang tampaknya sepele. Waktu itu Begter mengambil seekor burung yang ditembak jatuh oleh Temujin. Begter mungkin mengambilnya bukan karena benar-benar menginginkan burung tersebut, melainkan karena dia ingin menegaskan klaimnya sebagai kepala keluarga.

Pada kesempatan lainnya, yang terjadi tidak begitu lama setelah peristiwa pengambilan burung, Temujin dan adik kandung laki-lakinya, Khasar, duduk bersama dengan Begter dan adik kandung laki-lakinya, Belgutei. Mereka sedang memancing bersama di Sungai Onon. Temujin berhasil menangkap seekor ikan kecil, tetapi Begter mengambilnya. Marah dan kesal, Temujin dan Khasar kemudian berlari ke ibu mereka, Hoelun, untuk memberitahunya apa yang telah terjadi. Namun, alih-alih memihak putranya sendiri, Hoelun malah berpihak kepada Begter, memberi tahu mereka bahwa ketimbang bertengkar dengan kakak tiri lelaki mereka, lebih baik mereka mengkhawatirkan musuh-musuh mereka, yakni keluarga Tayichiud yang telah membuang mereka.[2]

Temujin dan Khasar berkata, “Ikan kecil yang mengkilap menggigit kail kami, tetapi itu direnggut dari kami oleh Begter dan Belgutei.” Mendengar hal itu, Hoelun yang sudah paham dengan situasi yang tengah berkembang menjawab, “Mengapa mesti begitu gusar? Hentikan itu! Mengapa kalian kakak beradik berperilaku seperti ini satu sama lain? Tepat ketika kita tidak punya teman selain bayangan kita sendiri, kita tidak memiliki cambuk kecuali ekor kuda kita, dan ketika kita bertanya pada diri sendiri bagaimana membalas dendam atas perlakuan keluarga Tayichiud, bagaimana kalian bisa saling berselisih!?”[3]

Keberpihakkan Hoelun kepada Begter, memberikan visi masa depan yang tidak akan pernah disukai oleh Temujin. Sebagai putra tertua, Begter bukan hanya dapat memberi perintah kepada adik-adiknya, tetapi dia juga memiliki hak prerogatif yang luas, termasuk hak-hak seksual, kepada janda ayahnya, selain dari ibunya sendiri. Sebagai seorang janda yang tidak menikahi salah seorang saudara laki-laki almarhum suaminya, kemungkinan besar pasangan Hoelun di masa depan adalah Begter, karena dia adalah putra suaminya dari istrinya yang lain.

Berdasarkan tradisi, Hoelun akan menerima Begter sebagai suaminya ketika dia sudah cukup umur, sehingga menjadikannya sebagai kepala keluarga dalam segala hal. Namun, Temujin memutuskan untuk tidak mentolerir situasi seperti itu dengan Begter. Setelah konfrontasi emosional dengan ibunya terkait Begter, Temujin menarik dan menghempaskan tirai berbulu penutup tenda mereka yang berfungsi sebagai pintu masuk, sekaligus pelindung dari udara luar. Sikapnya itu, menurut budaya Mongol, adalah sebuah tindakan yang sangat ofensif. Temujin dengan marah kemudian bergegas pergi, diikuti oleh adiknya Khasar.[4] (PH)

Bersambung ke:

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (7): Pembunuhan Begter

Sebelumnya:

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (5): Kematian Yesugei

Catatan Kaki:

[1] Jack Weatherford, Genghis Khan and the Making of the Modern World (Crown and Three Rivers Press, 2004, e-book version), Chapter 1.

[2] Ibid.

[3] Igor de Rachewiltz, The Secret History of the Mongols: A Mongolian Epic Chronicle of the Thirteenth Century (Western Washington University, 2015), hlm 19.

[4] Jack Weatherford, Loc.Cit.

1 Comment

  1. Looking through your blog gives me the chance to realize precisely why I like reading things with so much understanding. It truly is wonderful to know there are still terrific authors around that will put wit into knowledgable information. I appreciate you for your contributions and eagerness to share your thoughts with us.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*