Mozaik Peradaban Islam

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (74): Masa Akhir Genghis Khan (4): Penaklukkan Terakhir (2)

in Sejarah

Dalam perjalanan menuju ke Tangut, Genghis Khan terjatuh dari kudanya. Dia menderita luka dalam dan demam tinggi. Meski demikian dia tetap bersikeras melanjutkan ekspedisi penaklukkannya.

Foto Ilustrasi: Pinterest/Hüseyin Özdal

Pada tahun 1126, atau Tahun Anjing, Genghis Khan dan pasukannya bergerak dari tanah Mongolia menuju ke selatan, ke wilayah suku Tangut. Dia hendak menyelesaikan urusan lamanya dengan Burkhan, khan suku Tangut, beberapa tahun silam. Di antara beberapa wanita yang ikut berangkat ke medan perang adalah Yesui, istri ketiganya, seorang putri Tatar.[1]

Genghis Khan adalah orang yang rasional dan strategis, dia tidak akan berangkat ke sana hanya untuk melampiaskan kedengkiannya terhadap suku Tangut, dia memiliki tujuan lain yang lebih besar, serangan ini hanyalah sebagai pembuka untuk invasi lainnya.

Hampir dapat dipastikan, dia berniat untuk mengamankan sebuah pangkalan militer di wilayah Kekaisaran Tangut dan kemudian bergerak lebih jauh ke selatan untuk menaklukkan Dinasti Sung di China Selatan, sebuah target lama yang dia tunda karena dia hendak fokus terlebih dahulu untuk penaklukkan Kesultanan Khwarizmia di Asia Tengah.

Pada musim dingin tahun 1226-1227, dalam perjalanan menuju ke Tangut, Genghis berhenti di Gobi untuk berburu keledai atau kuda liar. Saat perburuan, dengan mengendarai kuda abu kemerahannya, dia mengejar serombongan kuda liar. Saat pengejaran, tiba-tiba rombongan kuda liar itu berbalik menuju ke arahnya. Kuda Genghis Khan menjadi kaget dan panik, ia gelisah, mencoba menghindar dengan sangat cepat sehingga membuat Genghis Khan terhempas dan jatuh ke tanah.[2]

Tubuhnya kesakitan, dia menderita luka dalam yang membuatnya demam tinggi. Karena itu mereka akhirnya memutuskan untuk bermalam di sana. Besok paginya, Yesui berkata kepada para bawahan Genghis Khan, “Wahai para pangeran dan komandan, diskusikanlah satu sama lain tentang apa yang harus dilakukan. Sang Khan telah menghabiskan malam dengan tubuh yang panas karena demam.”

Salah seorang dari mereka kemudian berpendapat, “Orang-orang Tangut adalah mereka yang memiliki kota dengan dengan dinding-dinding, mereka tinggal di pemukiman yang permanen. Mereka tidak akan pergi membawa kota dengan tembok-temboknya. Mereka tidak akan pergi meninggalkan pemukiman mereka. Mari kita mundur. Kemudian, ketika Sang Khan telah membaik, kita dapat kembali lagi!”

Mendengar hal itu Genghis Khan memberi tanggapannya, “Orang-orang Tangut akan mengatakan bahwa kita mundur karena hilang keberanian. Bagaimanapun, jika kita mengirim utusan kepada mereka dan menunggu di sini sambil membuat sakitku sembuh, dan mundur setelah mempertimbangkan jawaban mereka, itu akan baik-baik saja.”

Genghis Khan lalu mengirim utusannya sambil membawa pesan, mengatakan bahwa dulu Burkhan telah melanggar janji, tidak mengirimkan pasukannya untuk membantu penaklukkan ke Asia Tengah, dan sebaliknya, dia malah mengirimkan kata-kata penghinaan. Di akhir pesannya Genghis Khan berkata, “Sekarang, aku telah datang untuk meminta pertanggungjawabanmu!”

Burkhan lalu mengirmkan balasannya, “Aku tidak mengucapkan kata-kata penghinaan. Aku mengucapkan ejekan. Untuk sekarang, jika engkau wahai orang-orang Mongol, yang terbiasa bertempur, katakanlah, ‘Mari kita berperang!’

“Lalu datanglah ke Alasai kepadaku, karena aku memiliki sebuah perkemahan di Alasai, aku memiliki tenda-tenda dari kain wol tipis, aku memiliki unta yang penuh dengan harta benda. Mari kita berperang di sana! Jika kalian membutuhkan emas, perak, satin, dan barang-barang lainnya, datanglah ke Eriqaya dan Erijeü!”

Ketika kata-kata ini sampai ke Genghis Khan, dia masih demam tinggi. Dia berkata, “Ini sudah cukup! Ketika seseorang membiarkan dirinya ditanggapi dengan kesombongan, bagaimana dia bisa mundur? Bahkan jika kita mati, mari kita tantang kesombongan mereka!”

“Surga Abadi, engkau yang akan menentukan!” Genghis Khan dan pasukannya kemudian bergerak menuju Alasai.

Tiba di Alasai, Genghis Khan dapat mengalahkan orang-orang Tangut dengan mudah, namun Burkhan tidak ada di sana. Dia memberi perintah, “Bunuhlah yang pemberani, tegas, jantan, dan orang-orang Tangut yang masih segar, dan biarkan para prajurit menangkap sebanyak mungkin rakyat Tangut untuk mereka sendiri….”

Selanjutnya dia memerintahkan pasukannya untuk menjarah sebanyak mungkin. Setelah merasa puas, pasukan besar itu menuju Eriqaya, tempat di mana Burkhan berada.[3] (PH)

Bersambung….

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Igor de Rachewiltz, The Secret History of the Mongols: A Mongolian Epic Chronicle of the Thirteenth Century (Western Washington University, 2015), hlm 185.

[2] Jack Weatherford, Genghis Khan and the Making of the Modern World (Crown and Three Rivers Press, 2004, e-book version), Chapter 5.

[3] Igor de Rachewiltz, Op.Cit., hlm 185-187.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*