Mozaik Peradaban Islam

Bosnia Herzegovina, Keajaiban Eropa : Mengenal Bosnia (4)

in Negara Islam

Negara Bosnia dan Herzegovina modern dikembangkan dari komunitas agama yang didefinisikan dalam sistem millet Kekaisaran Ottoman. Yaitu komunitas religius yang bersifat otonom; yang masing-masing diatur di bawah hukumnya sendiri dan dipimpin oleh seorang pemimpin agama, yang bertanggung jawab kepada pemerintah pusat untuk pemenuhan tugas dan tanggung jawab millet, terutama mereka yang membayar pajak dan menjaga keamanan internal.

—Ο—

 

Bosnian Cultural Profile[1] menyebutkan, sebagai entitas politik terpisah, Bosnia disebut pertama kali dalam De administrando imperio[2] yang ditulis oleh Kaisar Byzantium Konstantin Porfirogenet[3] pada abad 10. Penguasa Bosnia pertama adalah Viceroy (Ban) Borić. Ia menduduki takhta dan memerintah pada paruh pertama abad 12.

Antara 1189 dan 1463 Bosnia telah diakui sebagai sebuah negara merdeka, pertama sebagai Propinsi Ban (Ban’s Province/banat) dan kemudian sebagai kerajaan yang diperintah oleh penguasa lokal. Viceroy Kulin menjadi penguasa independen pertama Bosnia pada 1189 -1203.  Setelah raja Tvrtko I (satu) dimahkotai pada 1376, Bosnia menjadi kerajaan dan terus menjaga statusnya hingga ditaklukkan oleh Kekaisaran Ottoman.

Kekaisaran Ottoman[4] didirikan oleh suku-suku Turki di Anatolia (Asia Kecil) yang tumbuh menjadi salah satu negara paling kuat di dunia selama abad ke-15 dan ke-16. Periode Ottoman membentang lebih dari 600 tahun dan berakhir hanya pada tahun 1922, ketika digantikan oleh Republik Turki dan berbagai negara penerus di Eropa Tenggara dan Timur Tengah. Pada puncaknya, wilayah kekaisaran mencakup sebagian besar Eropa tenggara ke gerbang Wina, termasuk Hongaria saat ini, wilayah Balkan, Yunani, dan sebagian Ukraina; bagian Timur Tengah yang sekarang ditempati oleh Irak, Suriah, Israel, dan Mesir; Afrika Utara sejauh barat Aljazair; dan sebagian besar Jazirah Arab. Istilah Ottoman adalah sebutan dinasti yang berasal dari Osman I (bahasa Arab: Uthmān), pemimpin Turkmen nomaden yang mendirikan baik dinasti dan kekaisaran sekitar 1300.

Setelah menaklukkan Bosnia pada 1463, Sultan Mehmed II Fatiha[5] menghapus kedaulatan Bosnia dan memasukkannya ke dalam Kekaisaran Ottoman. Bukan hanya kehilangan kedaulatan tetapi juga mengganti keeropaannya dan lingkaran peradaban Kristennya dengan Timur Dekat dan Lingkaran peradaban Islam yang ditandai secara permanen dengan identitas Bosnia. Sebagian dari Bosnia (orang asli bosnia) yang kebanyakan berafiliasi dengan Gereja Bosnia, menerima transisi ini sepenuhnya dan  berpartisipasi dalam politik secara setara, terlibat pula dalam urusan budaya dan agama Kekaisaran Ottoman hingga ke posisi administrasi tertinggi.

Peradaban Islam Oriental membawa standar kehidupan yang lebih tinggi terlihat dari pergerakan manusia (urbanisasi), arsitektur, desain interior, pakaian, masakan dan lain-lain. Itu semua adalah peradaban yang benar-benar melayani kebutuhan manusia; produk dan kebutuhan-kebutuhan baru, hidup yang lebih nyaman (rahatluk) dan mengembangkan sensasi estetik baru terutama dalam hubungannya dengan alam seperti taman-taman bunga, penghijauaan, danau-danau dan sumber air.

Pendudukan Austro-Hungaria pada tahun 1878 menyebabkan perubahan peradaban yang telah dibentuk setelah empat abad. Kekaisaran Austria-Hongaria memasuki lagi Bosnia dalam lingkaran budaya Eropa dan Kristen menjadi bagian dari sistem politik Eropa modern. Negara Bosnia dan Herzegovina modern dikembangkan dari komunitas agama yang didefinisikan dalam sistem millet Kekaisaran Ottoman.

Millet [6] adalah bahasa Turki yang berarti “komunitas agama,” atau “orang”, menurut Al-Qur’an, agama yang dianut oleh Ibrahim dan nabi-nabi keturunannya. Di negara-negara Islam abad pertengahan, kata itu diterapkan pada minoritas non-Muslim tertentu, terutama Kristen dan Yahudi. Di dalam Kekaisaran Ottoman yang heterogen (sekitar 1300–1923), sebuah millet adalah komunitas religius yang otonom, masing-masing diatur di bawah hukumnya sendiri dan dipimpin oleh seorang pemimpin agama, yang bertanggung jawab kepada pemerintah pusat untuk pemenuhan tugas dan tanggung jawab millet, terutama mereka yang membayar pajak dan menjaga keamanan internal. Selain itu, setiap millet memikul tanggung jawab untuk fungsi-fungsi sosial dan administratif yang tidak disediakan oleh negara, melakukan urusan melalui dewan komunal (meclisimillî) tanpa intervensi dari luar. Pada 1856, serangkaian dekrit reformasi kekaisaran memperkenalkan kode hukum sekuler untuk semua warga negara, dan banyak otonomi administrasi millet perlahan hilang. (Lj)

Bersambung…

Bosnia Herzegovina, Keajaiban Eropa : Mengenal Bosnia (5)

Sebelumnya:

Bosnia Herzegovina, Keajaiban Eropa : Mengenal Bosnia (3)

Catatan kaki:

[1] Lihat Bosnian Cultural Profile, sub brief historical review hal 10, http://www.fp6migratoryflows.uniba.it/html/BosnianCulturalProfile_En.pdf

[2]  Bila diterjemahkan bebas adalah tata kelola pemerintahan Kekaisaran yang merupaka karya Latin ditulis oleh Kaisar Romawi Timur abad ke-10 Constantine VII. Judul karya Yunani adalah “Untuk putra [saya] sendiri Romanos ” Ini adalah panduan kebijakan domestik dan luar negeri untuk digunakan oleh putra dan penerus Konstantinus, Kaisar Romanos II.

[3] Namanya tertulis dalam bahasa latin (Yunani) adalah Constantine VII Porphyrogennetos or Porphyrogenitus atau Konstantinus VII Porphyrogennetos atau Porphyrogenitus, “Lahir dalam keunguan – (born-Purple) – lahir di kamar tidur kekaisaran dengan warna marmer ungu” adalah Kaisar Dinasti Makedonia Romawi Timur keempat. Ia berkuasa dari tahun 913 hingga 959 dan merupakan putra dari kaisar Leo VI dan istri keempatnya Zoe Karbonopsina, lihat https://en.wikipedia.org/wiki/Constantine_VII.

[4] Ottoman Empire, empire created by Turkish tribes in Anatolia (Asia Minor) that grew to be one of the most powerful states in the world during the 15th and 16th centuries. The Ottoman period spanned more than 600 years and came to an end only in 1922, when it was replaced by the Turkish Republic and various successor states in southeastern Europe and the Middle East. At its height the empire encompassed most of southeastern Europe to the gates of Vienna, including present-day Hungary, the Balkan region, Greece, and parts of Ukraine; portions of the Middle East now occupied by Iraq, Syria, Israel, and Egypt; North Africa as far west as Algeria; and large parts of the Arabian Peninsula. The term Ottoman is a dynastic appellation derived from Osman I (Arabic: ʿUthmān), the nomadic Turkmen chief who founded both the dynasty and the empire about 1300, lihat https://www.britannica.com/place/Ottoman-Empire

[5] Sultan Mehmed II  atau juga dikenal sebagai Muhammad Al-Fatih merupakan seorang sultan Turki Utsmani yang menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur, lihat https://www.britannica.com/place/Ottoman-Empire

[6] Millet, (Turkish: “religious community,” or “people”), according to the Qurʾān, the religion professed by Abraham and other ancient prophets. In medieval Islāmic states, the word was applied to certain non-Muslim minorities, mainly Christians and Jews. In the heterogeneous Ottoman Empire (c. 1300–1923), a millet was an autonomous self-governing religious community, each organized under its own laws and headed by a religious leader, who was responsible to the central government for the fulfillment of millet responsibilities and duties, particularly those of paying taxes and maintaining internal security. In addition, each millet assumed responsibility for social and administrative functions not provided by the state, conducting affairs through a communal council (meclisimillî) without intervention from outside. From 1856 on, a series of imperial reform edicts introduced secular law codes for all citizens, and much of the millets’ administrative autonomy was lost, lihat https://www.britannica.com/topic/millet-religious-group