Diskursus Sufi (6): Gerak Ruhani

in Tasawuf

Last updated on March 29th, 2019 05:01 am

Manusia adalah gabungan ruh dan jism (badan), maka geraknya pun ada yang bersifat ruhani (metafisik) dan ada yang bersifat jismani (fisik). Gerak keduanya terjadi di “alam” yang berbeda dengan hukum-hukum yang berbeda. Tapi, ada persamaan antara keduanya.


Gambar ilustrasi. Sumber: khazanah.republika.co.id


Guman Makun keh Chu To Beguzary Jahan Guzarad,

Hezar Syam’ Bekusytan va Anjuinan Baqi-ist.

(Jangan pikir karena kau hengkang, duniapun turut hilang,

Ribuan lilin ‘tlah tiada, tapi Anjuinan tetap ada.)

Puisi ini mengisyaratkan kedawaman gerak segenap anak manusia menuju Allah. Puisi Persia kaum Sufi ini menggambarkan bahwa meski manusia telah meninggalkan dunia, geraknya menuju Allah tiada pernah tuntas. Anjuinan ialah perkumpulan kaum Sufi untuk menjalankan berbagai aktivitas mereka. Intisari yang ingin mereka ungkapkan adalah bahwa gerak ruhani manusia menuju Allah itu panjang nan terus-menerus. Dari satu alam ke alam yang lain. Demikian seterusnya.

Ada ungkapan lain kaum Sufi yang juga cukup unik. “Khuliqal insanu lil abad walakinnahu intaqala min darin ila dar,” kata mereka. Artinya, manusia itu dicipta untuk keabadian, tapi dia berpindah dari satu persinggahan ke persinggahan yang lain. Tujuan penciptaannya tidak akan pernah selesai. Karena itu, dia tidak akan punya “waktu kosong”.

Mungkin tidak ada yang tidak sepakat bahwa manusia itu bergerak. Manusia tidak kenal diam. Gerak itu sendiri adalah suatu manifestasi penyempurnaan. Walaupun, sering kali manusia salah dalam mengidentifikasi kesempurnaan. Maka, dia menganggap yang tidak sempurna sebagai sesuatu yang sempurna.

Walhasil, tidak ada dua kepala yang berselisih, ihwal adanya gerak pada manusia. Dan, karena manusia adalah gabungan ruh dan jism (badan), maka geraknya pun ada yang bersifat ruhani (metafisik) dan ada yang bersifat jismani (fisik).

Ruh adalah kutub yang berkilauan cahaya dalam jiwa manusia. Sedang jism adalah kutub yang penuh kegelapan. Adapun nafs (jiwa) ialah zona netral yang dijadikan ajang tarik-menarik manusia. la adalah media yang bisa mengantarkan manusia menuju kepada Allah, tapi ia juga bisa menjadi media untuk menggulung manusia dengan jilatan api jahanam.

Gerak ruhani, ialah gerak menuju Allah (liqa’ullah) atau mendekat kepada-Nya (taqarrub). Perlu diingat bahwa gerak ruhani dan jismani itu tentu berbeda. Perbedaan itu antara lain karena keduanya terjadi di “alam” yang berbeda dengan hukum-hukum yang berbeda. Namun, bagaimanapun juga, ada persamaan antara keduanya.

Sebagai contoh, keduanya sama-sama butuh kepada penggerak, obyek gerak. Tiadanya penghalang, dan seterusnya. Tengoklah kepada gerak pintu. Pada peristiwa itu, ada beberapa hal yang mesti terjadi. Antara lain adanya pintu (1), adanya tangan yang menggerakkan (2), sentuhan antara tangan dan pintu (3), tiadanya batu yang melintang atau merintang (4), dan lain-lain.

Gerak ruhanipun demikian juga, meski unsur yang terlibat jauh lebih banyak dan kompleks. Gerak ruhani butuh kepada jiwa (nafs) sebagai tempat gerak (1), fitrah sebagai penggerak (2), akal sebagai “bahan utama” gerak (3), terkuasanya hawa nafsu dan setan (4), dan lain-lain. Masing-masing bagian ini merupakan suatu bidang studi yang sangat panjang. Namun, ada baiknya kalau saya, semampunya, menganalisis bagian-bagian di atas.

Jiwa manusia adalah tempat gerak ruhani. Jiwa adalah media insani menuju kepada Nur Ilahi, bila yang menggerakkannya adalah fitrah yang suci dengan bahan akal sejati. Tetapi, jika penggeraknya adalah hawa nafsu yang berbahan sifat-sifat syaithany, maka jiwa akan menjadi skateboard yang meluncurkan manusia ke lubang neraka.

Di dalam jiwa, terpatrilah juga fitrah. la selalu menggerakkan manusia kepada Allah dan seluruh kebaikan. la mengendarai jiwa manusia dengan bahan akal menuju kepada Allah.

Akal adalah bahan jiwa menuju Allah. la membakar jiwa manusia dengan api yang sangat panas. la “memaksa” manusia bergerak menuju Allah. Dalam sebuah riwayat, yang dikutip oleh Syaikh Muhammad Mahdi Al-Ashify, disebutkan bahwa akal mempunyai 75 bala tentara. Dari masing-masingnya akal mendapat bantuan. Dengan demikian, kita dapat mengerti bahwa akal adalah suatu kemampuan yang luar biasa dahsyatnya.[1]

Akan tetapi, bila hawa nafsu mampu menguasai akal dan memaksakan pelbagai kehendaknya atas akal, maka la akan menjadi bahan api neraka. Hawa nafsu akan menggunakannya untuk mencerap seluruh sifat setan, bahkan mungkin lebih jauh dari itu.[2]

Dalam “perang” yang terjadi dalam jiwa manusia itu, barangkali hawa nafsu adalah kerajaan yang paling luas wilayahnya dan dominan kekuatannya. Tak diragukan lagi, bahwa hawa nafsu adalah faktor yang penting sekali dalam jiwa manusia. la selalu bertempur dengan akal untuk memperebutkan jiwa secara utuh.[3]

Di samping itu, hawa nafsu juga memiliki peran yang sangat positif dan konstruktif bagi kehidupan manusia. Tanpanya, spesies manusia akan punah. Dengannya, manusia bisa melejit ke haribaan Ilahi mengungguli segala makhluk lainnya. Itu semua, bila akal yang menjadi sopir jiwa. Tetapi, sebaliknya, bila hawa nafsu sudah memegang kendali jiwa, maka semuanya akan berbalik. Manusia akan menjadi lebih keji dan sesat dari segala macam setan. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk mengenali hawa nafsu ini dengan baik dan sempurna. (MK)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, Syaikh Muhammad Mahdi Al-Ashify, Mencerdaskan Hawa Nafsu Melalui Metode Pengajaran Alquran, Jakarta, Misbah, 2004, hal. 89-120

[2] Ibid, hal. 127

[3] Ibid, hal. 105

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*