Mozaik Peradaban Islam

Habib al-Ajami (1): Sang Rentenir yang Menjadi Wali Allah (1)

in Tasawuf

Last updated on January 26th, 2020 01:35 pm

Habib berkata kepada pengemis, “Jika kami memberimu apa yang kami miliki engkau tidak akan menjadi kaya, dan kami sendiri yang akan menjadi miskin!” Spontan, makanan Habib berubah menjadi darah hitam. Habib ketakutan.

Foto ilustrasi: Lukisan karya Rembrandt (1606–1669) yang berjudul The Philosopher in Meditation, sekarang koleksi milik Louvre Museum.

Habib bin Muhammad al-Ajami al-Basri adalah orang Persia yang menetap di Basrah (sekarang di Irak). Dia juga kadang disebut Habib al-Farisi. Dia dikenal sebagai salah seorang perawi hadis ternama dari jalur al-Hasan al-Basri, Ibnu Sirin, dan otoritas-otoritas lainnya. Pertobatannya dari kehidupannya yang gemar bersenang-senang dikarenakan oleh pengaruh al-Haan; dia sering hadir pada kelas-kelas ceramahnya, dan menjadi salah satu rekan terdekatnya.[1]

Dalam Tarikh Ad Dimasyq karya Ibnu Asakir, dikatakan bahwa Habib juga adalah murid dari Hasan al-Basri dan kelak dia menjadi seorang pemuka sufi pada abad ke-2 H. Habib al-Ajami dikenal sebagai pribadi yang ahli ibadah dan zuhud terhadap dunia. Beliau wafat pada tahun 120 H.[2]

Kisah tentang Habib al-Ajami, sebagian besar akan diambil dari kitab Tadhkirat al-Awliya (Kisah Hidup para Manusia Suci) karya Farid al-Din Attar yang diterbitkan pada tahun 1177 M. Farid al-Din Attar sendiri adalah seorang penyair Persia yang juga dianggap sebagai salah satu sufi mistik terbesar.

Farid al-Din Attar dilahirkan di Nishapur, Iran, pada tahun 1142 M. Semasa hidupnya, setidaknya dia telah menyusun 45.000 bait prosa yang indah. Beberapa karya besar lainnya antara lain Manteq al-Tayr (Musyawarah para Burung), Elahi-nama (Kitab Allah), Mosibat-nama (Kitab Penderitaan), dan Divan (Kumpulan Puisi). Farid al-Din Attar wafat di tempat yang sama dengan kelahirannya pada tahun 1220 M.[3]

Menurut A. J. Arberry, penerjemah Tadhkirat al-Awliya ke dalam bahasa Inggris, seringkali kisah-kisah sufi dipenuhi dengan anekdot, percakapan-percakapan, dan hagiografi yang penuh dengan makna tersembunyi, yang perlu direnungkan kembali pesan dan hikmah yang terkandung di dalamnya, tidak seperti pembelajaran Islam formal pada umumnya.[4]

Dengan demikian, sebagaimana akan disampaikan, kisah hidup Habib al-Ajami tidak mesti saklek dipahami secara harfiah, karena di dalamnya terdapat banyak kisah-kisah yang bernuansa keajaiban (karamah), melainkan ia sebaiknya diresapi hikmah-hikmah dan pelajaran akhlaknya. Meskipun, tentu sah-sah saja apabila pembaca ingin memaknainya secara harfiah. Selamat menyimak.

Kisah Habib al-Farisi

Habib pada awalnya adalah seseorang yang kaya raya dan dia memiliki profesi sebagai rentenir. Dia tinggal di Basrah, dan setiap hari dia akan berkeliling untuk menagih para pengutang. Jika dia tidak mendapatkan uang, dia akan menuntut pembayaran dalam bentuk sepatu kulit.

Dengan cara ini dia mendapatkan pemasukkan hariannya. Suatu hari dia pergi mencari salah seorang pengutang. Orang yang dicari sedang tidak ada di rumahnya; Karena gagal menemuinya, dia menuntut pembayaran dari sepatu kulit.

“Suamiku sedang tidak ada di rumah,” kata istri si pengutang kepadanya.

“Aku sendiri tidak punya apa-apa untuk diberikan padamu. Kami telah memotong seekor domba, tetapi tinggal lehernya yang tersisa. Jika engkau suka, aku akan memberimu itu.”

“Itu adalah sesuatu,” jawab rentenir itu, berpikir bahwa dia setidaknya dapat mengambil leher domba itu darinya dan membawanya pulang. “Letakkan pancinya di atas api.”

“Aku tidak punya roti atau pun bahan bakarnya,” jawab wanita itu.

“Baiklah,” kata orang itu. “Aku akan pergi dan mengambil bahan bakar dan roti, dan itu nanti bisa dibebankan ke sepatu kulit.”

Jadi dia pergi dan mengambil barang-barang itu, dan wanita itu mempersiapkan pancinya. Ketika panci itu selesai dimasak, wanita itu hendak menuangkan isinya ke dalam mangkuk, tiba-tiba seorang pengemis mengetuk pintu.

“Jika kami memberimu apa yang kami miliki,” Habib berteriak kepadanya, “engkau tidak akan menjadi kaya, dan kami sendiri yang akan menjadi miskin!”

Pengemis itu, dengan putus asa, memohon pada wanita itu untuk meletakkan sesuatu di mangkuk. Dia mengangkat tutup panci, dan menemukan bahwa isinya semua telah berubah menjadi darah hitam. Menjadi pucat, dia bergegas kembali dan meraih tangan Habib, mengajaknya melihat isi panci.

“Lihat lah apa yang terjadi pada kami karena riba terkutukmu, dan teriakanmu pada pengemis itu!” serunya. “Apa yang akan terjadi dengan kami sekarang di dunia ini, belum lagi selanjutnya?”

Melihat hal ini, Habib merasakan api di dalam dirinya yang mana tidak akan pernah padam.[5] (PH)

Bersambung ke:

Catatan Kaki:


[1] Farid al-Din Attar, Muslim Saints and Mystics (Tadhkirat al-Auliya’), diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh  A. J. Arberry, (Omphaloskepsis: Iowa, 2000), hlm 19.

[2] Muhammad Fani, “Perjalanan Spritual Habib al-‘Ajami: dari Seorang Rentenir Menjadi Sufi”, dari laman https://islami.co/perjalanan-spritual-habib-al-ajami-dari-seorang-rentenir-sampai-sufi/, diakses 25 Januari 2020.

[3] Encyclopaedia Britannica, “Farīd al-Dīn ʿAṭṭār”, dari laman https://www.britannica.com/biography/Farid-al-Din-Attar, diakses 22 Januari 2020.

[4] Farid al-Din Attar, Op.Cit., hlm xi, pengantar oleh A. J. Arberry.

[5] Ibid., hlm 19-20.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*