Mozaik Peradaban Islam

Habib al-Ajami (4): Membocorkan Tempat Persembunyian Hasan al-Basri

in Tasawuf

Tentara al-Hajjaj, Gubenur Dinasti Umayyah, memburu Hasan al-Basri. Hasan bersembunyi di tempat Habib, namun dia malah membocorkannya kepada mereka.

Foto ilustrasi: mahdiehkerman.com

Farid al-Din Attar dalam Tadhkirat al-Awliya menuturkan:

Suatu hari para petugas Hajjaj[1] mencari Hasan al-Basri. Dia bersembunyi di tempat penyepian Habib.

“Apakah engkau melihat Hasan hari ini?” tanya para petugas kepada Habib.

“Aku melihatnya,” jawabnya. “Di mana dia?”

“Di penyepian ini.”

Para petugas memasuki tempat penyepian, tetapi setelah mereka mencari-cari, mereka tidak menemukan Hasan.

(“Tujuh kali tangan mereka menyentuhku,” Hasan kemudian menceritakan, “tetapi mereka tidak dapat melihatku.”)

“Habib,” kata Hasan saat keluar dari tempat penyepian, “engkau tidak menghormati kewajibanmu pada gurumu. Engkau malah menunjukkan (tempat persembunyian)ku.”

“Guru,” jawab Habib, “itu karena aku mengatakan yang sebenarnya jika engkau memang melarikan diri. Jika aku berbohong, kita berdua yang akan ditangkap.”

“Apa yang engkau baca, sehingga mereka tidak dapat melihatku?” tanya Hasan.

“Aku membaca Ayat Kursi sepuluh kali,” jawab Habib. “Sepuluh kali aku membacakan kesaksian terhadap Sang Nabi, dan sepuluh kali aku berkata, ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa.’ Lalu aku berkata, ‘Ya Allah, aku memasrahkan Hasan kepada-Mu. Lindungilah dia.’.”[2]

Dalam versi lainnya, sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Ad Dimasyq, kisahnya berlangsung seperti ini:

Pernah suatu ketika, Habib al-Ajami sedang ber-uzlah di suatu gua. Tiba-tiba Imam Hasan al-Basri datang untuk bersembunyi. Ternyata, Hasan al-Basri sedang dikejar-kejar oleh tentaranya Hajjaj sebab permasalahan kenegaraan. Hasan al-Basri pun bersembunyi dalam gua tersebut agar tak tertangkap.

Selang beberapa waktu, para tentara itu tiba di mulut gua. Mereka bertanya kepada Habib al-Ajami, “Apakah kau melihat Hasan al-Basri hari ini?”

Habib menjawab, “Iya. Dia ada di dalam gua.”

Mendengar jawaban tersebut, segera para tentara memasuki gua untuk menyusuri gua guna menemukan Hasan al-Basri. Setelah sekian lama, mereka tidak menemukan Hasan al-Basri, para tentara itu pun bergegas pergi.

Imam Hasan al-Basri keluar dari persembunyiannya, seraya berkata, “Habib, engkau adalah murid yang berbakti kepada guru. Mengapa engkau memberitahu persembunyianku?”

Habib al-Ajami menjawab, “Duhai Imam, andai kata tadi aku berdusta niscaya kita berdua akan ditangkapnya dan tak ada yang selamat di antara kita.”

Mendengar jawaban sang murid, Hasan al-Basri berkata, “Lantas, ayat-ayat apa yang engkau baca sehingga aku terlindungi dari kejaran dan penglihatan mereka.”

Habib pun menjawab, “Tadi aku membaca Ayat Kursi sepuluh kali, dua ayat terakhir al-Baqarah sepuluh kali, dan surat al-Ikhlas sepuluh kali. Lalu aku berdoa kepada Allah SWT, ‘Ya Allah, telah kutitipan guruku Hasan al-Basri kepada-Mu, maka lindungilah dia.’.” Mendengar hal itu, Hasan al-Basri merasa takjub dengan keluasan ilmu sang murid.[3] (PH)

Seri Habib al-Ajami selesai.

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Al-Hajjaj, nama lengkapnya adalah al-Hajjaj bin Yusuf ath-Thaqafi, (lahir tahun 661 M di at-Taif, Hijaz, Arab [sekarang di Arab Saudi] — meninggal pada Juni 714 M di Wasi, Irak), salah satu gubernur provinsi kekhalifahan Bani Umayyah (661-750 M) yang paling cakap. Dia memainkan peran penting dalam mengkonsolidasikan struktur administrasi Dinasti Umayyah pada tahun-tahun awal.

Sewaktu masih muda, al-Hajjaj adalah seorang guru sekolah di kota asalnya, tetapi hanya sedikit yang diketahui tentang tahun-tahun awalnya. Dia pertama kali aktif di depan umum ketika, pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik, dia memulihkan disiplin di antara pasukan-pasukan yang akan digunakan untuk menekan pemberontakan di Irak.

Pada tahun 692 M, dia secara pribadi memimpin pasukan untuk menghancurkan pemberontakan Abdullah bin az-Zubair di Makkah. Kebrutalan yang dia lakukan untuk memperoleh kemenangan terus dia lakukan selama sisa kehidupan publiknya.

Selama beberapa tahun dia adalah gubernur dari provinsi-provinsi yang mengelilingi Makkah, tetapi pada tahun 694 M dia diangkat menjadi Gubernur Irak. Dia ditempatkan di sana karena lokasi dan karena banyaknya letupan politik dari berbagai sekte di sana. Irak dianggap sebagai tempat yang paling harus diperhatikan dan paling penting bagi administrasi Kerajaan Islam Dinasti Umayyah pada waktu itu.

Hidup al-Hajjaj, sepenuhnya didekasikan untuk mengabdi kepada Bani Umayyah, dan belakangan, dia tidak pernah takut terhadap kekuatan besar dinasti ini. Dia berperan penting dalam membujuk Khalifah Abdul Malik agar pergantian khalifah diberikan kepada al-Walid. Setelah al-Walid menjadi khalifah, dia memberikan kebebasan penuh kepada al-Hajjaj dalam mengatur pemerintahannya di Irak.

Al-Hajjaj melakukan banyak hal untuk meningkatkan kesejahteraan di provinsinya. Dia mulai menerapkan kebijakan penggunaan mata uang Arab sepenuhnya untuk menggantikan mata uang lama. Dia menghentikan migrasi penduduk pedesaan ke kota-kota dalam upaya untuk meningkatkan produksi pertanian, dan dia memastikan bahwa sistem irigasi harus tetap berada dalam kondisi yang baik.

Dari Encyclopaedia Britannica, “Al-Ḥajjāj: Umayyad Governor of Iraq”, dari laman https://www.britannica.com/biography/al-Hajjaj, diakses 30 Januari 2020.

[2] Farid al-Din Attar, Muslim Saints and Mystics (Tadhkirat al-Auliya’), diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh  A. J. Arberry, (Omphaloskepsis: Iowa, 2000), hlm 26-27.

[3] Muhammad Fani, “Perjalanan Spritual Habib al-‘Ajami: dari Seorang Rentenir Menjadi Sufi”, dari laman https://islami.co/perjalanan-spritual-habib-al-ajami-dari-seorang-rentenir-sampai-sufi/, diakses 30 Januari 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*