Mozaik Peradaban Islam

Hudzaifah bin al-Yaman (7): Perang Khandaq (Parit) [4]

in Tokoh

Last updated on July 20th, 2019 03:09 pm

Hudzaifah menyaksikan seluruh rangkaian peristiwa dalam Perang Khandaq, dan dia menjadi saksi penutup dan satu-satunya atas perang ini. Di akhir, dia juga menyaksikan turunnya Surat Al-Ahzab ayat 9-25.

Situs bersejarah Perang Khandaq pada masa kini. Foto: Md iet/Wikimedia

Setelah menerima perintah dan didoakan Rasulullah SAW, Hudzaifah bin al-Yaman berangkat menempuh jarak yang terbentang di antara dua perkemahan dan berhasil menembus kepungan, lalu secara diam-diam dia menyelinap ke perkemahan musuh.

Ketika itu angin masih berhembus sangat kencang dan telah memadamkan sebagian besar penerangan pihak musuh sehingga mereka berada dalam keaadaan gelap. Hudzaifah kemudian berhasil bergabung dan duduk bersama dengan barisan musuh.[1]

Diriwayatkan dari Abdul Aziz (keponakan Hudzaifah), berkata Hudzaifah, “Ketika mendekati pasukan musuh, aku melihat cahaya api yang telah mereka nyalakan. Di sana aku melihat seorang pria besar berkulit gelap, menghangatkan tangannya di api dan menggosoknya di sampingnya, sambil berkata, ‘Mari kita mundur! Mari kita mundur!’ Aku belum pernah tahu Abu Sufyan sebelumnya.”[2]

Dalam riwayat versi lainnya yang lebih detail, dikatakan bahwa karena Abu Sufyan takut kegelapan malam itu dimanfaatkan oleh mata-mata pihak Muslim, maka dia berkata, “Wahai segenap golongan Quraish, hendaklah kalian memperhatikan kawan duduknya dan memegang tangan serta mengetahui siapa namanya.”

Hudzaifah bertindak cepat merespon pernyataan Abu Sufyan, dia bercerita, “Maka segeralah aku menyalami tangan laki-laki yang duduk di dekatku, kataku kepadanya, ‘Siapa engkau ini?’ Dia menjawab, ‘Aku si Fulan putra si Fulan.’.”

Hudzaifah berhasil mengamankan penyamarannya, Abu Sufyan lalu berkata kembali, “Wahai orang-orang Quraish, kekuatan kalian sudah tidak utuh lagi. Kuda-kuda kita telah binasa, demikian juga halnya unta. Bani Quraizhah juga telah mengkhianati kita sehingga kita mengalami akibat yang tidak kita inginkan.

“Dan sebagaimana kalian saksikan sendiri, kita telah mengalami bencana angin badai, periuk-periuk berpelantingan, api menjadi padam, dan tenda-tenda berantakan. Maka mundurlah kalian, aku pun akan mundur!” Abu Sufyan lalu naik ke punggung untanya dan mulai berjalan.[3]

Melanjutkan riwayat dari Abdul Aziz, Hudzaifah lalu berkata, “Aku mengeluarkan anak panah dengan bulu putih dari wadahnya dan menempatkannya di busurku untuk menembaknya (Abu Sufyan) dalam cahaya (maksudnya selagi masih terlihat-pen), namun aku teringat perintah Rasulullah, ‘Jangan melakukan apa pun terhadap mereka sampai engkau kembali.’

“Aku kemudian menahan diri dan memasukkan panah kembali ke wadahnya. Aku kemudian mengumpulkan keberanianku dan melanjutkan (pencarian informasi) di antara prajurit (musuh).”

Hudzaifah melanjutkan, “Orang-orang yang paling dekat dengaku adalah suku Bani Amir, yang berteriak, ‘Wahai keluarga Amir! Mundur! Mundur! Kalian tidak bisa tetap di sini!’ Angin bertiup kencang ke dalam barisan mereka tanpa membuat satu jengkal tangan pun ke luar dari tempat kemah mereka. Demi Allah! Aku bisa mendengar suara bebatuan menghantam gerobak dan tempat tidur mereka ketika angin menghempaskan mereka.”

Setelah peristiwa itu, Hudzaifah memutuskan untuk kembali kepada Rasulullah, “Aku kemudian pergi untuk kembali ke Rasulullah. Ketika aku telah mencapai setengah perjalanan, atau hampir setengah perjalanan, aku bertemu sekitar dua puluh penunggang kuda yang semuanya mengenakan turban. Mereka berkata kepadaku, ‘Beri tahu pemimpinmu bahwa Allah telah bertindak atas nama-Nya.’

“Ketika aku kembali ke Rasulullah, aku mendapatkan beliau sedang melakukan salat dengan berbalutkan  selendang kecil. Demi Allah! Rasa dingin segera kembali kepadaku setelah aku kembali, dan aku mulai menggigil.

“Saat melakukan salat, Rasulullah melambaikan tangannya kepadaku. Ketika aku lebih dekat dengannya, dia menaruh ujung selendangnya kepadaku. Itulah yang dilakukan Rasulullah, melaksanakan salat, setiap kali ada sesuatu yang membuatnya khawatir.

“Aku kemudian memberi tahu Rasulullah tentang apa yang telah terjadi dan mengatakan kepadanya bahwa musuh telah mundur ketika aku meninggalkan mereka. Saat itulah Allah menurunkan ayat-ayat Alquran berikut ini:

‘Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara (sekutu), lalu Kami kirimkan (untuk pertahanan kalian) kepada mereka angin topan dan tentara (malaikat) yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan…. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu (agar kembali ke Makkah) yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun (mereka tidak berhasil mencapai tujuan mereka untuk menghancurkan Islam dan Muslim). Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan (mengalahkan musuh meskipun kekurangan sumber daya). Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.’ (Surat Al-Ahzab ayat 9-25)[4] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Khalid Muhammad Khalid, Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah, terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Mahyuddin Syaf, dkk (CV Penerbit Diponegoro: Bandung, 2001), hlm 238.

[2] Hakim dan Bayhaqi (Vol 9, hlm 148) sebagaimana dikutip dalam Al-Bidaaya wan Nihaaya (Vol 4,  hlm 114); Abu Dawud dan lbnu Asakir juga meriwayatkan hadis ini dengan detail sebagai dikutip dalam Kanzul Ummaal (Vol 5, hlm 279); dalam Hazrat Maulana Muhammad Yusuf Kandehelvi, The Lives of The Sahabah (Vol.1), diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Mufti Afzal Hossen Elias (Zamzam Publisher: Karachi, 2004) hlm 336.

[3] Khalid Muhammad Khalid, Op.Cit., hlm 239.

[4] Hakim dan Bayhaqi, Loc.Cit, dalam dalam Hazrat Maulana Muhammad Yusuf Kandehelvi, Loc.Cit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*