Mozaik Peradaban Islam

Hudzaifah bin al-Yaman (6): Perang Khandaq (Parit) [3]

in Tokoh

Last updated on July 19th, 2019 02:00 pm

Ketika Rasulullah SAW sedang memimpin salat, banyak di antara jamaah yang ambruk karena kelaparan. Juga dilaporkan beberapa sahabat memakan dedaunan yang berjatuhan karena saking kelaparannya.

Peta sederhana Perang Khandaq. Keterangan warna dan gambar: (1) 10.000 Pasukan Sekutu [di belakang panah warna pink]; (2) Parit [garis biru]; (3) 3.000 pasukan Muslim (warna hijau); (4) Gunung-gunung dan bebatuan [warna coklat]; (5) Kota Madinah [gambar masjid]; (6) Kaum Yahudi Bani Quraizhah [warna kuning]. Sumber: I’timaar/Pinterest

Di tengah udara yang begitu dingin karena badai yang didatangkan oleh Allah SWT, dan kelaparan yang amat sangat karena Madinah dikepung dan diblokade oleh Pasukan Sekutu ketika Perang Khandaq, Rasulullah memimpin salat.

Fadhalah bin Ubaid meriwayatkan, bahwa ketika Rasulullah SAW sedang memimpin salat, banyak di antara mereka yang ambruk karena kelaparan. Mereka adalah orang-orang Suffa. (Melihat mereka) Beberapa Badui akan berkomentar bahwa mereka sudah gila.

Setelah menyelesaikan salat, Rasulullah menoleh kepada mereka dan berkata, “Jika kalian tahu apa yang akan diberikan Allah untuk kalian (sebagai imbalan atas penderitaan kalian), kalian akan berharap bahwa kelaparan dan kemiskinan kalian terus bertambah.”[1] Beberapa sahabat juga dilaporkan memakan dedaunan yang berjatuhan karena saking kelaparannya.[2]

Malam itu Rasulullah lalu bertanya kepada umatnya, “Siapa yang akan pergi dan mengumpulkan informasi tentang musuh? Allah akan menjadikannya sebagai pendampingku pada hari kiamat.” Tidak ada seorangpun yang berdiri maupun merespon.

Rasulullah bertanya kembali, “Siapa yang akan pergi dan mengumpulkan informasi tentang musuh? Allah akan menjadikannya sebagai pendampingku pada hari kiamat.” Reaksi mereka masih sama, diam. Karena masih belum ada yang menanggapi akhirnya Rasulullah memanggil Hudzaifah bin al-Yaman, “Wahai Hudzaifah….”[3]

Demikianlah, Rasulullah menunjuk Hudzaifah untuk melaksanakan tugas yang sulit tersebut. Itulah sebabnya di kemudian hari, ketika ada seseorang yang berbual, “Demi Allah! Seandainya kami berada di zaman Rasulullah, kami tidak akan membiarkan dia berjalan di muka bumi, melainkan kami akan menggendongnya di atas bahu kami,” maka jawaban Hudzaifah sederhana, “Benarkah itu yang akan engkau lakukan?”[4]

Hudzaifah telah menyaksikannya sendiri, baik dia maupun sahabat yang lain ketika ditimpa keadaan yang sulit, meskipun di sana masih ada Rasulullah, belum tentu orang-orang akan serela itu.

Abdul Aziz, keponakan Hudzaifah, bercerita, suatu waktu Hudzaifah bercerita tentang keberanian para sahabat dalam Perang Khandaq. Orang-orang yang hadir dalam pertemuan itu begitu terinspirasi dan masing-masing dari mereka berandai-andai, seandainya mereka hidup di masa Rasulullah, mereka akan melakukan ini dan itu, sambil menyebut berbagai tindakan heroik yang pernah dilakukan oleh para sahabat.

Mendengarnya Hudzaifah lalu berkata kepada mereka, “Jangan berharap untuk itu. Aku telah menyaksikan suatu malam dalam Perang Ahzab ketika kami duduk berbaris dengan pasukan Abu Sufyan di atas kami (di luar Madinah), dan orang-orang Yahudi dari Bani Quraizhah di bawah kami (di dalam Madinah) yang kami khawatirkan mereka akan menyerang keluarga kami.

“Kami belum pernah mengalami malam yang lebih gelap dari malam itu, atau malam di mana angin bertiup lebih kencang. Angin menimbulkan suara yang menyerupai guntur dan kegelapan begitu pekat, yang mana bahkan kami tidak bisa melihat jari-jari kami.

“Orang-orang munafik mulai meminta izin kepada Rasulullah untuk pulang ke rumah dengan alasan bahwa rumah mereka terbuka (untuk diserang) padahal sebenarnya tidak. Rasulullah mengizinkan setiap orang dari mereka untuk pulang. Ketika Rasulullah memberi mereka izin, mereka diam-diam pergi dan kami tinggal tersisa sekitar 300 orang.

“Rasulullah mendekati setiap orang sampai dia datang kepadaku. Aku tidak memiliki perlengkapan untuk melawan musuh dan semua perlengkapanku terhadap dingin hanyalah selendang wol istriku yang nyaris menutupi lututku. Aku sedang berjongkok ketika Rasulullah datang kepadaku dan bertanya siapa aku.

“Ketika aku memberi tahunya bahwa aku adalah Hudzaifah. Dia memanggilku, mengatakan, ‘Wahai Hudzaifah!’ Karena enggan berdiri, aku menyusut ke tanah saat aku menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah!’ Ketika aku berdiri, Rasulullah berkata, ‘Sesuatu telah terjadi di antara musuh. Aku ingin engkau memberiku beberapa informasi dari mereka.’

“Meskipun aku adalah yang paling ketakutan pada saat itu dan merasa yang paling kedinginan, aku pergi. Kemudian Rasulullah berdoa, ‘Ya Allah! Lindungilah dia dari depan, dari belakang, dari kanan, dari kiri, dari atas, dan dari bawah.’.”

Hudzaifah melanjutkan, “Aku bersumpah demi Allah, bahwa (setelah doa itu) setiap rasa takut dan dingin di dalam diriku kemudian pergi dan aku tidak merasakannya sedikitpun. Ketika aku pergi, Rasulullah memberi perintah, ‘Wahai Hudzaifah! Jangan melakukan apa pun terhadap mereka sampai engkau kembali.’.”[5] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Tirmizhi dan Ibnu Hibban sebagaimana dikutip dari Targheeb wat Tarheeb (Vol 5, hlm 176); Riwayat ini juga diriwayatkan secara singkat oleh Abu Nuaim dalam Hilyat al-awliya (Vil 1, hlm 339); dalam Hazrat Maulana Muhammad Yusuf Kandehelvi, The Lives of The Sahabah (Vol.1), diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Mufti Afzal Hossen Elias (Zamzam Publisher: Karachi, 2004) hlm 327.

[2] Tabraani. Haythami (Vol 10, hlm 322), dalam Hazrat Maulana Muhammad Yusuf Kandehelvi, Ibid.

[3] Abu Nuaim dan Duwali sebagaimana dikutip dalam Isaaba (Vol 4, hlm 35), dalam Hazrat Maulana Muhammad Yusuf Kandehelvi, Ibid., hlm 326.

[4] Lihat Ibnu Ishak, al-Sira, dalam Hazrat Maulana Muhammad Yusuf Kandehelvi, Ibid., hlm 276.

[5] Hakim dan Bayhaqi (Vol 9, hlm 148) sebagaimana dikutip dalam Al-Bidaaya wan Nihaaya (Vol 4,  hlm 114); Abu Dawud dan lbnu Asakir juga meriwayatkan hadis ini dengan detail sebagai dikutip dalam Kanzul Ummaal (Vol 5, hlm 279); dalam Hazrat Maulana Muhammad Yusuf Kandehelvi, Ibid., hlm 335-336.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*