Ibnu Bathuthah, Penjelajah Terbesar Sepanjang Masa (7): Ibadah Haji

in Travel

Last updated on January 29th, 2018 01:41 pm

Untuk mencapai Mekah dari kampung halamannya, Maroko, Ibnu Bathuthah telah menempuh perjalanan selama 1,5 tahun. Perjalanan haji Ibnu Bathuthah merupakan perjalanan haji terlama yang pernah tercatat di dalam sejarah.”

–O–

Seiring dengan beberapa pergantian penguasa di dunia Islam, maka bentuk Ka’bah pun pernah berganti beberapa kali. Ketika Ibnu Bathuthah tiba di Mekah, bentuk Ka’bah sudah tidak seperti bentuk pertamanya ketika dibuat. Gambar di bawah ini adalah lukisan Ka’bah pada tahun 1432 M yang berasal dari Persia, kira-kira sekitar 100 tahun setelah  Ibnu Bathuthah naik haji.[1]

Lukisan Ka’bah pada tahun 1432 M yang berasal dari Persia, kira-kira sekitar 100 tahun setelah Ibnu Bathuthah naik haji. Photo: orias.berkeley.edu

Hari ini Ka’bah memiliki tinggi sekitar 15 m, dan dinding batunya dilapisi oleh kain hitam halus yang bertuliskan ayat suci al-Quran berwarna emas. Di sudut timur Ka’bah terdapat sebuah batu hitam (hajar aswad), berukuran sekitar 12 cm. Batu tersebut dilapisi oleh perak, sementara bagian tengah perak tersebut berlubang, sehingga batu tersebut masih terlihat dan dapat disentuh. Dalam keyakinan Islam, Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim—awalnya terbuat dari kayu—atas perintah Allah SWT. Pada masa pra-Islam, Ka’bah dapat menampung sebanyak 360 berhala, dan digunakan untuk ritual-ritual agama pagan.[2]

Ka’bah di masa kini. Photo: sinertour.co.id
Batu Hitam (Hajar Aswad) di sudut timur Ka’bah. Photo: pakbrands.pk

Setelah datangnya Islam, Nabi Muhammad mengembalikan fungsi Ka’bah sebagai tempat penyembahan bagi Tuhan yang satu.[3] Nabi Muhammad membakar Ka’bah lama, kemudian dibangun kembali dengan bantuan seorang pria yang bernama Baqum. Dibangun dari lapisan batu dan kayu alternatif, kemungkinan serupa dengan rumah-rumah tradisional Mekah. Ka’bah yang baru ini memiliki tinggi dua kali lipat dari sebelumnya, dan ditutupi dengan atap. Pintu masuk ke dalamnya agak lebih tinggi dari permukaan tanah, sehingga untuk memasukinya harus dijangkau dengan sebuah tangga.[4]

Ibnu Bathuthah kemudian menggambarkan “berdiri di Arafah” (Wukuf)—merupakan bagian terpenting dari ibadah haji. Pada hari ke-9 bulan haji, para peziarah pergi ke dataran yang disebut Arafah, terletak sekitar 19 km ke arah timur dari Mekah. Di sini mereka berdiri di sebuah tempat yang diyakini sebagai tempat Nabi Adam berdoa. Dalam sejarah Islam, dikisahkan Nabi Muhammad menyampaikan khotbah terakhirnya di tempat ini pada tahun 632 M. Kemudian para peziarah tersebut berdoa, dan mendengarkan khotbah sampai matahari terbenam.[5]

Pada hari ke-10, di pagi hari para peziarah mengadakan perjamuan, setelahnya mereka mengambil batu kerikil dan masing-masing melemparkannya sebanyak tujuh kali ke tiang yang terletak di sebelah barat Mina. Ritual ini merupakan reka ulang dari peristiwa ketika Nabi Ibrahim melempar batu kepada setan yang membujuknya untuk mengabaikan perintah Allah SWT untuk mengorbankan putranya.[6]

Ibnu Bathuthah menghabiskan waktu di Mekkah selama tiga minggu. Selain beribadah haji, dia juga melakukan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah lainnya, dan bertemu dengan orang-orang suci  dan belajar bersama mereka. Dengan usainya ibadah haji, maka Ibnu Bathuthah berhak menyandang status sebagai “al-Hajji”, yakni gelar informal yang diberikan kepada seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji.[7]

Untuk mencapai Mekah dari kampung halamannya, Maroko, Ibnu Bathuthah telah menempuh perjalanan selama 1,5 tahun. Douglas Bullis, seorang sejarawan Timur Tengah mengatakan bahwa perjalanan haji Ibnu Bathuthah merupakan perjalanan haji terlama yang tercatat di dalam sejarah.[8] Dalam seluruh hidupnya, dikisahkan Ibnu Bathuthah melakukan ibadah haji sebanyak tiga kali.[9]

Sebelum sampai di Mekah, di Alexandria, Ibnu Bathuthah sempat bermimpi, “aku bermimpi bahwa aku berada di sayap seekor burung besar yang terbang bersamaku ke Mekah, lalu ke Yaman, lalu ke arah timur, dan kemudian menuju ke selatan, lalu terbang jauh ke arah timur, dan akhirnya mendarat di sebuah negara yang gelap dan hijau, di mana dia meninggalkanku.”[10]

Atas mimpi tersebut, orang suci yang bernama Burhan Al-Din menafsirkannya,[11] “engkau akan melakukan ziarah (ke Mekah) dan mengunjungi (makam) Nabi, dan engkau akan melakukan perjalanan melalui Yaman, Irak, negara-negara Turki, dan India. Engkau akan tinggal di sana untuk waktu yang lama dan bertemu dengan saudaraku, Dilshad, orang India, dia yang akan menyelamatkanmu dari bahaya dimana engkau akan terjatuh.”[12]

Setelah ibadah haji yang pertamanya ini, teringat atas mimpi tersebut, Ibnu Bathuthah memutuskan tidak untuk segera kembali pulang, dia masih menginginkan penjelajahan ke tempat lain dan menekuni profesi sebagai hakim (qadi) atau ulama. Dia mendapatkan informasi bahwa Sultan India membutuhkan seseorang untuk menjabat sebuah posisi di institusi peradilan di India. Namun, sebelum ke India, Ibnu Bathuthah masih akan melanjutkan penjelajahan dan petualangannya ke tempat-tempat lain.[13] (PH)

Bersambung ke:

Ibnu Bathuthah, Penjelajah Terbesar Sepanjang Masa (8): Mengenal Sufi

Sebelumnya:

Ibnu Bathuthah, Penjelajah Terbesar Sepanjang Masa (6): Kehidupan Penduduk Mekah

Catatan Kaki:

[1] Nick Bartel, “The Travels of Ibn Battuta, The Hajj – from Medina to Mecca: 1326”, dari laman https://orias.berkeley.edu/resources-teachers/travels-ibn-battuta/journey/hajj-medina-mecca-1326, diakses 28 Januari 2018.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Khairul Imam, “Islam dan Arsitektur (2)”, dari laman https://ganaislamika.com/islam-dan-arsitektur-2/, diakses 28 Januari 2018.

[5] Nick Bartel, Ibid.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] Douglas Bullis, “The Longest Hajj: The Journeys of Ibn Battuta”, dari laman http://archive.aramcoworld.com/issue/200004/the.longest.hajj.the.journeys.of.ibn.battuta-editor.s.note.htm, diakses 28 Januari 2018.

[9] Nick Bartel, Ibid.

[10] Ibn Battuta, Travels In Asia And Africa 1325-1354, (London: Routledge & Kegan Paul Ltd, Broadway House, Carter Lane; 1929), diterjemahkan dari bahasa Arab ke Inggris oleh H.A.R Gibb, hlm 48.

[11] Janet Hardy-Gould, The Travels of Ibn Battuta, (New York: Oxford University Press, 2010), hlm 4.

[12] Ibn Battuta, Loc. CIt.

[13] Nick Bartel, Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*