Mozaik Peradaban Islam

Invasi Prancis ke Aljazair (1): Sebuah Permulaan

in Monumental

“Invasi Prancis ke Aljazair adalah awal dari seluruh rangkaian proses kolonialisasi Eropa di Afrika dan sekaligus awal dari usaha meruntuhkan Kesultanan Ustmaniyah untuk selamanya.”

–O–

Artikel ini akan membahas invasi Prancis ke Aljazair pada tahun 1830, yang merupakan sebuah langkah fundamental pertama yang menandai keseriusan negara-negara Eropa untuk menyerang Kesultanan Ustmaniyah (Ottoman), dengan tujuan untuk menaklukkan dan mengakhiri Dinasti Islam ini untuk selamanya. Selain itu, peristiwa ini juga dapat dilihat sebagai pembukaan dari rangkaian usaha kekuatan-kekuatan besar Eropa untuk mencaplok dan memperebutkan Benua Afrika, yang mana nantinya isu ini akan bergulir pada pertemuan di Berlin tahun 1884 yang bertujuan untuk membagi-bagi seluruh wilayah Benua Afrika di antara mereka sendiri. Invasi Prancis ke Aljazair adalah awal yang nyata dari seluruh proses ini, dan sebagaimana aktivitas kolonial lainnya di kemudian hari di berbagai tempat lain di dunia, invasi ini sama-sama menghadirkan teater pembantaian yang brutal dan berdarah-darah.[1]

Lukisan dari abad ke-19 yang menggambarkan Kapten Kapal Prancis, Abraham Duquesne, yang membebaskan orang-orang Kristen dari Aljazair. Pelukis tidak diketahui.

 

Aljazair

Aljazair adalah negara di barat laut benua Afrika yang berbatasan dengan Laut Mediterania. Aljazair adalah negara terbesar kedua di benua Afrika setelah Sudan. Gurun Sahara yang sangat luas itu, merupakan porsi terbesar dari wilayah Aljazair, yakni sekitar 90 persen wilayah Aljazair. Dataran pesisir Aljazair terletak di dekat laut Mediterania, dipisahkan oleh pegunungan Sahara. Mayoritas penduduk Aljazair tinggal di bagian utara negara itu, mereka hidup di dekat pantai yang langsung menghadap laut Mediterania. Aljir, yang terletak di sepanjang pantai Mediterania, adalah ibu kota negara dan merupakan kota terbesar. Nama Aljazair diambil dari bahasa Arab, al-Jazā’ir (pulau-pulau), mengacu kepada pulau-pulau kecil yang tersebar di lepas pantai dekat ibu kota.[2]

Islam pertama kalinya dibawa ke Aljazair oleh orang-orang Arab yang menyerang Afrika Utara pada abad ke-7. Meskipun suku asli setempat, yakni suku Berber, sempat melakukan perlawanan, namun pada akhirnya mereka tunduk pada Islam dan otoritas Arab, dan Aljazair menjadi salah satu provinsi yang berada di bawah kekuasaan kekhalifahan Umayyah. Orang-orang Arab, setelah kemenangan tersebut, banyak yang menetap di Aljazair, pada waktu itu mereka menjadi golongan elit di Aljazair. Setelah era Umayyah berakhir, beberapa Dinasti Islam beberapa kali menjadi penguasa silih berganti, termasuk di antaranya ia pernah dikuasai oleh sekte radikal Khawarij dan juga Dinasti Islam Syiah Fatimiyyah.[3]

Pada awal abad ke-19, Aljazair pada waktu itu menjadi salah satu provinsi di bawah Kesultanan Ottoman Turki. Ottoman telah menguasai Aljazair dari sejak tahun 1516 ketika laksamana legendaris Ottoman, Barbarossa, menaklukannya. Jarak antara Konstantinopel – ibukota Ottoman, hari ini disebut Istanbul, di Turki – dengan Aljir adalah sekitar 2.250 km. Dengan jarak sejauh itu, maka itu menjadikan Aljazair sebagai wilayah terbarat dari wilayah kekuasaan Ottoman.[4]

Artikel Terkait:

Konsekuensi terbesar dari keterpencilan Aljazair dari Konstantinopel adalah melemahnya kontrol pemerintah pusat terhadap provinsi ini. Sehingga tidak dibutuhkan waktu yang cukup lama sampai pejabat Ottoman yang ditunjuk untuk menjadi Gubernur menjadikan Aljazair semacam kerajaan kecilnya sendiri, yang secara turun-temurun mewariskan kekuasaannya, dan hanya lingkungan keluarganya saja yang dapat menjadi pejabat di sana. Dan memang benar, di sana terjadi perebutan kekuasaan di antara keluarga-keluarga kuat, sehingga dalam setiap masanya terjadi perpindahan kekuasaan dari satu keluarga ke keluarga yang lainnya. Meskipun pemerintah pusat Ottoman menginginkan kontrol yang lebih besar terhadap Aljazair, tapi hanya sedikit yang dapat mereka lakukan, sehingga perpindahan kekuasaan seringkali terjadi secara otonom. Pada awal tahun 1700-an, meskipun Aljazair statusnya masih merupakan bagian dari Ottoman, namun Sultan Ottoman sudah tidak memiliki pengaruh sama sekali terhadap wilayah ini.[5]

Dari pantai Atlantik Afrika Utara bagian timur sampai ke Mediterania, terdapat negara-negara yang di masa kini dikenal sebagai Maroko, Aljazair, Tunisia, dan Libya. Namun di masa lalu, orang-orang Eropa menyebut wilayah ini dengan Pesisir Barbary. Sepanjang tahun 1700-an, Pesisir Barbary terkenal dengan para bajak lautnya.[6] Bahkan Laksamana Ottoman Barbarossa, jauh hari sebelum memulai karirnya di pemerintahan Ottoman, dulunya adalah seorang bajak laut ulung yang menguasai Laut Mediterania.[7]

Namun apa yang disebut oleh orang-orang Eropa sebagai bajak laut, pada kenyataannya mereka adalah semacam tentara (angkatan laut) bayaran. Perbedaannya adalah jika tentara bayaran beroperasi atas izin/permintaan dari suatu pemerintahan tertentu, sedangkan bajak laut bertindak secara independen tanpa izin/permintaan pemerintahan mana pun. Aktivitas yang mereka lakukan sama: menjarah kapal dagang yang membawa benda-benda berharga. Bahkan dalam beberapa kasus seorang bajak laut dapat menjadi tentara bayaran juga, atau sebaliknya.[8] Aljazair, ketika masih merupakan bagian dari Ottoman, telah tumbuh menjadi provinsi yang kaya karena aktivitas pembajakan – meskipun sebenarnya aktivitas pembajakan di wilayah itu sudah menjadi tradisi jauh hari sebelum masuknya Ottoman. Apa yang mereka bajak di antaranya kapal-kapal pengangkut budak yang hendak dijual di Eropa, para pelaut, dan apapun yang dapat mereka temukan di laut Mediterania.[9] (PH)

Bersambung ke:

Invasi Prancis ke Aljazair (2): Tragedi Kipas

Catatan Kaki:

[1] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 249.

[2] “Algeria.” Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.

[3] Ibid.

[4] Eamon Gearon, Loc.Cit.

[5] Ibid.

[6] Ibid., hlm 250.

[7] John P. Rafferty, “From Pirate to Admiral: The Tale of Barbarossa”, dari laman https://www.britannica.com/story/from-pirate-to-admiral-the-tale-of-barbarossa, diakses 5 Maret 2018.

[8] “Pirates, Privateers, Corsairs, Buccaneers: What’s the Difference?”, dari laman https://www.britannica.com/story/pirates-privateers-corsairs-buccaneers-whats-the-difference, diakses 5 Desember 2018.

[9] Eamon Gearon, Loc.Cit.