Mozaik Peradaban Islam

Invasi Prancis ke Aljazair (14): Abdul Qadir (11)

in Monumental

Semasa hidupnya, di Damaskus Ibnu Arabi menentang ide-ide keagamaan ortodoks, dan dia melontarkan kritik keras terhadap para pemuka agama setempat. Setelah kematiannya, karena kesal, untuk membalas dendam mereka menimbun sampah di makamnya. Bagi Abdul Qadir, Ibnu Arabi adalah guru spiritualnya, oleh karena itulah dia ingin menetap di Damaskus.

Ibnu Arabi dan Damaskus

Setelah tiba di Konstantinopel (sekarang disebut Istanbul), Abdul Qadir dibawa ke Bursa, sekitar satu hari perjalanan jauhnya. Di kota itulah Abdul Qadir dan keluarganya direncanakan untuk menetap. Namun apa yang mereka temui dari orang-orang Ustmaniyah (Ottoman) jauh dari yang diharapkan. Meskipun mereka sama-sama Muslim, namun sikap mereka jauh dari keramahan. Beberapa pejabat Ottoman khawatir bahwa kehadiran Abdul Qadir mungkin akan mengganggu stabilitas politik. Abdul Qadir dikhawatirkan akan membangkitkan ide-ide tentang nasionalisme bangsa Arab di wilayah kekuasaan Ottoman.[1]

Selama lebih dari 350 tahun, Ottoman telah memerintah tanah-tanah Arab, dari yang sekarang disebut Irak di timur hingga Aljazair di barat. Karena kekuatan militernya, mereka dapat menjaga ketertiban dengan sangat baik, tetapi lebih dari itu mereka hanya melakukan sedikit hal bagi rakyat dan cenderung menganggap orang-orang Arab secara kebudayaan lebih rendah. Sementara itu, Abdul Qadir juga tidak melupakan ketidakpedulian sultan Ottoman terhadap perjuangannya ketika melawan penjajahan Prancis atas tanah airnya. Fakta bahwa bahasa Turki dan Arab benar-benar berbeda juga menghalangi kelancaran berkomunikasi di antara mereka. Orang-orang Aljazair merasa bahwa mereka tidak diterima di tanah baru ini.[2]

Abdul Qadir bertahan di pengasingannya di Bursa selama dia bisa. Lalu pada musim panas tahun 1855, sebuah gempa bumi merusak kota itu. Abdul Qadir berpikir bahwa inilah saat yang tepat untuk melakukan perjalanan kembali ke Paris. Di Paris dia memiliki lebih dari satu tujuan dalam pikirannya. Di sana dia ingin mengunjungi pameran ilmu pengetahuan dan teknologi, sebuah acara besar dengan 24.000 peserta dan 5 juta pengunjung. Dia benar-benar mengunjunginya, berulang kali, mengamati dengan cermat penggunaan tenaga uap, mesin cetak modern, perkembangan ilmu kedokteran hewan, dan yang paling penting dari semuanya bagi Abdul Qadir adalah mesin jahit – karena mengingatkan masa mudanya sewaktu dia menjahit sendiri untuk pakaiannya. Bagi Abdul Qadir, teknologi modern disediakan oleh Allah untuk memenuhi kebutuhan bersama.[3]

Namun, tujuan utama Abdul Qadir mengunjungi Paris sebenarnya adalah untuk berbicara dengan terus terang — tetapi dengan bijaksana — kepada Napoleon III. Dia khawatir permintaannya mungkin tidak akan diterima dengan baik, mengingat Turki adalah tempat yang diputuskan oleh kaisar sendiri. Ketika dia dapat bertemu dengan Napoleon III, dia bertanya apakah tempat pengasingannya dapat diubah ke negara Arab. Abdul Qadir memikirkan Damaskus, tempat yang direkomendasikan oleh penerjemahnya, Georges Bullad. Kaisar setuju untuk memindahkan Abdul Qadir ke negara Arab, dan dia menyarankan Damaskus. Segera saja Abdul Qadir menyetujuinya, dan semua orang senang.[4]

Napoleon III menyediakan kapal uap untuk membawa Abdul Qadir kembali ke Turki, dan dari sana dia dan keluarganya akan dibawa ke pelabuhan Beirut (sekarang Lebanon). Pada saat itu jumlah orang-orang Aljazair di Bursa telah bertambah menjadi sekitar dua ratus orang, karena semakin banyak dari mereka yang memilih untuk bergabung dengan Abdul Qadir di pengasingan. Beberapa di antaranya bahkan harus melakukan perjalanan darat ke Beirut. Abdul Qadir tiba di Beirut pada 24 November 1855. Dari sana dia melakukan perjalanan lewat darat melintasi pegunungan-pegunungan ke Damaskus.[5]

Ilustrasi Ibnu Arabi sedang mengajar. Photo: Nadirsyah Hosen

Abdul Qadir memiliki alasan khusus ingin diasingkan ke Damaskus. Damaskus adalah tempat peristirahatan dari seorang guru spiritual dan intelektual, filsuf abad pertengahan dan mistikus Muhyi ad-Din Ibnu Arabi, yang karya-karyanya sangat memengaruhi Abdul Qadir. Ibnu Arabi, yang dianggap sebagai pemikir sufi terbesar abad pertengahan, lahir pada tahun 1165 di Andalusia, Spanyol pada puncak peradaban Islam.[6]

Sepanjang hidupnya Ibnu Arabi melakukan perjalanan, untuk mengajar dan menulis, dan akhirnya dia menetap di Damaskus. Di sana dia wafat pada tahun 1240 dan dimakamkan di desa terdekat yang bernama Salihiyya. Pada masanya, Ibnu Arabi telah menentang ide-ide keagamaan ortodoks, dan dia melontarkan kritik keras terhadap para pemuka agama setempat. Setelah kematiannya, karena kesal, untuk membalas dendam mereka menimbun sampah di makamnya.[7]

Kompleks pemakaman Ibnu Arabi di masa kini. Photo: Suver

Di masa Abdul Qadir tiba, makam tersebut telah dibersihkan, dan kompleks bangunan pemakaman juga telah didirikan. Namun kondisi desa tersebut juga tidak lebih baik, Salihiyya waktu itu merupakan tempat yang kumuh dan merupakan sarang kejahatan. Meskipun demikian, Abdul Qadir bersikeras ingin mengunjungi makam Ibnu Arabi sebelum mereka memasuki kota Damaskus. Di masa depan Salihiyya akan menjadi tempat yang memainkan peran penting dalam babak kehidupan Abdul Qadir.[8]

Kota Damaskus adalah tempat yang menyenangkan yang dikelilingi oleh tebing-tebing batu yang tinggi. Damaskus juga terkenal sebagai tempat yang menghasilkan banyak buah-buahan. Di Damaskus Abdul Qadir membeli rumah yang sangat besar. Rumah itu terletak di pusat kota, dekat dengan kawasan kota tua Kristen dan Masjid Agung, salah satu masjid tertua dan paling mengesankan di seluruh dunia Muslim.[9] (PH)

Bersambung ke:

Invasi Prancis ke Aljazair (15): Abdul Qadir (12)

Sebelumnya:

Invasi Prancis ke Aljazair (13): Abdul Qadir (10)

Catatan Kaki:

[1] Elsa Marston, The Compassionate Warrior: Abd el-Kader of Algeria (Wisdom Tales, 2013), hlm 76.

[2] Ibid.

[3] Ibid., hlm 77.

[4] Ibid.

[5] Ibid., hlm 77-78.

[6] Ibid., hlm 79.

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*