Mozaik Peradaban Islam

Invasi Prancis ke Aljazair (17): Abdul Qadir (14)

in Monumental

Ketika orang Kristen di Damaskus hendak dibantai, Abdul Qadir berkata, “Aku akan berangkat ke pemukiman orang Kristen, dan di sana aku akan bertarung selama aku masih bernafas. Aku akan mati, jika diperlukan, demi kehormatan Islam, yang hukumnya melarang kejahatan seperti ini.”

Konspirasi Pembantaian Kristen

Orang-orang Kristen di Damaskus, sebagian besar bermadzhab Ortodoks Yunani dan Katolik Yunani, jumlah mereka sekitar 15.000 dari total populasi sekitar 160.000. Secara alamiah mereka bersuka hati atas diberikannya persamaan hak dengan Muslim – persamaan hak ini merupakan kebijakan pemerintah Ustmaniyah (Ottoman) dalam memenuhi tuntutan dari negara-negara Eropa setelah berakhirnya Perang Krimea pada tahun 1856. Namun, pada saat yang bersamaan beberapa di antara mereka lupa diri, dan tidak cukup bijaksana untuk terus bersikap rendah hati. Di mata banyak Muslim, mereka memamerkan status baru mereka dengan terlalu sombong. Dan ada satu persoalan di mana beberapa orang Kristen jelas bertindak terlalu jauh: mereka menolak untuk membayar pajak.[1]

Sebelumnya, minoritas non-Muslim dilarang mengabdi di institusi militer Ottoman — yang mana merupakan hal terakhir yang ingin mereka lakukan — dan sebagai gantinya mereka diwajibkan untuk membayar pajak. Di bawah peraturan baru, baik orang Kristen maupun Muslim harus membayar pajak untuk menghindari wajib militer, tetapi pajak untuk Muslim jauh lebih tinggi. Dan sekarang beberapa orang Kristen berpendapat bahwa mereka tidak harus membayar pajak sama sekali.[2]

Sementara itu, orang-orang Ottoman memang benar-benar tidak menginginkan orang Kristen berada dalam institusi militer mereka. Ketimbang mereka harus berada di dalam militer, mereka lebih baik cukup membayar pajak saja, pikir Ottoman. Oleh karena itu, pada tahun 1860, Gubernur Ottoman untuk Damaskus memutuskan agar orang-orang Kristen membayar pajak sekaligus untuk jangka waktu empat tahun. Bagi banyak keluarga Kristen, hal itu merupakan beban berat. Beberapa dari mereka menolak untuk membayar, dan sikap ini membuat banyak Muslim yang harus membayar pajak lebih tinggi menjadi tersinggung. Tak ayal, hal itu bagaikan percikan api di atas rumput kering.[3]

Bashar al-Assad, Presiden Suriah hari ini, bersama istrinya sedang mengunjungi pemukiman Kristen di Damaskus pada 25 Desember 2016 dalam rangka peringatan Natal. Photo: Leith Aboufadel

Abdul Qadir cukup peka membaca situasi yang tengah berkembang. Meskipun pada saat itu dia sudah memutuskan untuk hidup sebagai seorang guru spiritual, tapi dia merasa tidak dapat berdiam diri atas kemungkinan pecahnya konflik. Pada Maret tahun 1860, Abdul Qadir mendapatkan informasi bahwa Gubernur Ottoman untuk Damaskus, Ahmad Pasha, bersama beberapa pemimpin Muslim dan Darzi (Druze), sedang merencanakan sebuah skenario untuk “memberi pelajaran” kepada orang-orang Kristen yang arogan. Di tengah situasi yang sedang memanas, “memberi pelajaran” bisa saja sampai pada tahap pertumpahan darah.[4]

Abdul Qadir bergerak cepat dengan memperingati para konsul Eropa di Damaskus: Prancis, Inggris, Rusia, Austria, Yunani, dan Prusia (Jerman). Para konsul kemudian bergerak menemui Ahmad Pasha untuk mengonfirmasi kebenaran berita tersebut. Ahmad Pasha secara diplomatis menyangkal dan menyatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Untuk sementara konspirasi tersebut dapat diredam, tapi Abdul Qadir tetap memberi perintah kepada orang-orang Aljazair pengikutnya supaya waspada, sebab Abdul Qadir merasa, konspirasi masih tetap berlangsung. Selain kepada para konsul, Abdul Qadir juga berbicara kepada para mufti dan pemimpin agama lainnya, dia ditolak. Banyak di antara mereka yang iri dengan pendatang baru yang dikagumi banyak orang ini dan tidak tertarik untuk bekerja sama dengannya.[5]

Kemudian pecahlah konflik di Gunung Lebanon, dan gelombang pengungsi Kristen yang ketakutan membanjiri Damaskus. Selain itu, suasana bertambah mencekam karena beredar desas-desus liar yang mengatakan bahwa orang-orang Kristen akan melakukan penyerangan terhadap Muslim. Sekarang Abdul Qadir mengambil peran yang lebih aktif. Dia pergi beberapa kali menemui Ahmad Pasha, mengatakan kepadanya bahwa penyerangan terhadap orang-orang Kristen bukan hanya tindakan pengecut, tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap hukum Islam dan kemanusiaan.[6]

Abdul Qadir beragumen, orang-orang Kristen tidak memiliki senjata dan pengalaman militer, dan mereka juga tidak tahu bagaimana caranya untuk mempertahankan diri. “Aku akan berangkat dan menempatkan diriku dengan kavaleri di tengah-tengah pemukiman orang Kristen, dan di sana aku akan bertarung selama aku masih bernafas. Aku akan mati, jika diperlukan, demi kehormatan Islam, yang hukumnya melarang kejahatan seperti ini,” kata Abdul Qadir kepada Ahmad Pasha.[7]

Abdul Qadir juga mencoba menghubungi orang-orang Darzi — yang telah memberinya sambutan hangat lima tahun sebelumnya, tetapi sekarang mereka tampaknya sudah menjadi bagian dari konspirasi tersebut. Dia mengirimi para pemimpin Darzi surat yang tegas tapi dengan hati-hati, isinya antara lain mengatakan, “Beberapa pasukan kuda Anda telah menjarah di sekitar Damaskus. Tindakan semacam itu tidak pantas bagi kelompok yang sebelumnya dikenal berakal sehat dan bijaksana.”[8]

Pada saat yang sama, Abdul Qadir memutuskan untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Berbekal kedekatannya dengan konsul Prancis, Monsieur Lanusse, dia meminta kepadanya untuk menggunakan hak diplomatik khususnya untuk membeli semua senjata dan amunisi yang dia bisa. Konsul Prancis segera melakukannya dan menyerahkannya kepada orang-orang Aljazair. Abdul Qadir memberi perintah kepada para pengikutnya yang tinggal di luar Damaskus untuk datang secara diam-diam dalam kelompok-kelompok kecil agar tidak diketahui. Abdul Qadir juga secara aktif terus berusaha menyerukan perdamaian kepada para penduduk kota. Dia berbicara dengan setiap pemimpin yang dia bisa, mulai dari dewan kota Damaskus sampai ke syekh di desa-desa. Dalam upaya berunding dengan para pemimpin agama, lagi-lagi dia hanya mendapatkan tanggapan yang dingin.[9]

Sekarang, Ahmad Pasha mulai gelisah. Kekuatan-kekuatan Eropa akan menganggapnya bertanggung jawab jika terjadi gangguan terhadap orang-orang Kristen, Lanusse telah memperingatkannya. Dia memindahkan keluarganya ke sebuah benteng, daerah berbenteng besar di dekat pusat kota, supaya aman. Kemudian, seperti yang telah dijanjikannya kepada Abdul Qadir, dia mengirim pasukan ke daerah Kristen untuk mengamankan mereka — tetapi alih-alih mereka malah mengarahkan senjatanya kepada mereka. Beberapa orang Kristen mencoba membujuk para prajurit dengan makanan dan hadiah, dan beberapa lainnya dengan bijak memilih untuk melarikan diri dari Damaskus. Akhirnya Ahmad Pasha mencoba membujuk para pemimpin Darzi di sekitar kota untuk menunda penyerangan. Tapi sudah terlambat, seluruh Damaskus kini tinggal menunggu percikan pemantik pertikaian.[10] (PH)

Bersambung ke:

Invasi Prancis ke Aljazair (18): Abdul Qadir (15)

Sebelumnya:

Invasi Prancis ke Aljazair (16): Abdul Qadir (13)

Catatan Kaki:

[1] Elsa Marston, The Compassionate Warrior: Abd el-Kader of Algeria (Wisdom Tales, 2013), hlm 84.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Ibid., hlm 84-85.

[5] Ibid., hlm 85.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] Ibid., hlm 86.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*