Mozaik Peradaban Islam

Islam dan Perang Dunia I (1): The Sick Man Of Europe

in Monumental

“Ada dua aspek utama penyebab dari melemahnya Ustmaniyah: peningkatan populasi yang sangat besar, dan penolakan terhadap modernisasi.”

–O–

Pada awal Perang Dunia I, sebagian besar wilayah di Timur Tengah secara politik didominasi oleh Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman). Dengan penguasaan wilayah yang sangat besar, Ottoman kemudian memutuskan untuk ikut terlibat dalam Perang Dunia I, namun apa alasan mereka? Lalu kenapa mereka memasuki perang dengan berada di pihak Jerman dan Kekaisaran Austro-Hungaria? Selain akan membahas pertanyaan-pertanyaan di atas, artikel ini juga akan membahas ruang lingkup konflik di Timur Tengah, dan melihat peran agama dalam perang — khususnya Islam. Kemudian, sebagai efek berantai dari perang tersebut, artikel ini akan membahas tentang Revolusi Arab, yang terjadi di Arab Saudi dan Yordania modern.[1]

Janissari, pasukan elit Ottoman, pada awal abad ke-19. Lukisan karya Julius Túry tahun 1826. Photo: Alexander E. Koller/Schloß Schönbrunn Kultur-und Betriebsges.m.b.H

 

Latar Belakang Situasi Kesultanan Ottoman: The Sick Man Of Europe

Sepanjang abad ke-19, Inggris, Prancis, dan negara-negara Eropa lainnya telah bergelut dengan sebuah pertanyaan penting, yaitu, apa yang harus dilakukan terkait melemahnya Kesultanan Ottoman yang sebelumnya sangat mendominasi dunia?[2] Sejarawan Eropa cenderung menjelaskan melemahnya Ottoman semata-mata dari perspektif karena Ottoman telah berperang dengan Eropa. Namun meskipun perang ini berpengaruh secara signifikan, tetapi kemunduran Ottoman sebenarnya lebih disebabkan karena persoalan internal, yakni melemahnya ekonomi mereka dari sejak abad ke-18. Ada dua aspek utama penyebab dari kemerosotan ini: peningkatan populasi yang sangat besar, dan penolakan terhadap modernisasi.[3]

Bagi Ottoman, abad ke-17 dan ke-18 adalah suatu periode di mana mereka relatif menikmati kemakmuran. Namun akibatnya, bagaimanapun, populasi penduduk kesultanan menjadi berlipat ganda. Hal inilah yang akhirnya malah menimbulkan pengangguran dan kelaparan endemik ketika sumber daya ekonomi negara itu tidak dapat mendukung populasi yang begitu besar.[4]

Ottoman menguasai banyak wilayah dengan kepentingan geo-strategis yang sangat besar, di antaranya adalah Laut Tengah, Laut Hitam, dan Selat Bosphorus yang menjadi jalur penghubung lautan-lautan besar tersebut.[5] Kekayaan Ottoman sebagian besar dihasilkan dari penguasaan mereka atas rute perdagangan. Ottoman berdiri tegak di persimpangan-persimpangan semua benua dan sub-benua: Afrika, Asia, India, dan Eropa. Namun, ekspansi kolonialisme Eropa menciptakan rute perdagangan baru tanpa perlu melewati wilayah Ottoman. Sejumlah besar pendapatan Ottoman mulai menghilang karenanya. Ottoman terbiasa memungut tarif terhadap siapapun yang melewati wilayah mereka, dengan hilangnya orang-orang ini, maka mereka kehilangan banyak sekali pendapatan.[6]

Selain itu, Ottoman juga tidak melakukan industrialisasi seperti yang dilakukan orang Eropa pada abad ke-18. Industrialisasi bukanlah mekanisasi. Ini terutama terkait perombakan menyeluruh dari praktik perburuhan. Ottoman mempertahankan praktik kerja lama, di mana produksi terkonsentrasi di kalangan serikat pekerja. Sementara itu, bentuk hubungan ekonomi antara Ottoman dan Eropa bergeser. Orang Eropa semakin hari hanya membeli bahan mentah dari Ottoman, dan kemudian mengirimkan kembali produk jadi yang diproduksi di Eropa. Karena produk jadi ini diproduksi dengan metode industri baru, harganya menjadi jauh lebih murah ketimbang produk serupa yang diproduksi di wilayah Ottoman. Praktek ini secara efektif menghancurkan industri kerajinan Ottoman pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.[7]

Implikasi dari turunnya kekuatan Ottoman, kerentanan dan daya tarik kepemilikan terhadap wilayah kekuasaan Ottoman yang sangat luas, bangkitnya nasionalisme penduduk-penduduk di wilayah kekuasaan Ottoman, dan krisis periodik yang dihasilkan dari ini secara kolektif oleh para diplomat Eropa pada abad ke-19 dikenal dengan sebutan “the Eastern Question” (Pertanyaan Timur). Atau secara sederhana, hendak diapakan Ottoman yang sedang melemah itu?[8]

Pada tahun 1853 Tsar Nicholas I dari Rusia menggambarkan Ottoman sebagai “the sick man of Europe” (orang sakit di Eropa). Dari sudut pandang diplomasi Eropa, terkait melemahnya Ottoman, apabila mereka hendak dijatuhkan, bagaimana caranya agar sehalus mungkin sehingga tidak ada satu pun kekuatan yang akan mendapatkan keuntungan dengan mengorbankan yang lain dan merusak keseimbangan politik di Eropa.[9]

 

Situasi di Eropa

Dengan melemahnya kekuatan mereka yang lebih disebabkan persoalan internal, Kesultanan Ottoman yang pernah ditakuti kerena reputasinya sebagai penakluk, kini malah menjadi target ambisi imperialis kekuatan kolonial Eropa. Ottoman ditekan dari banyak sisi. Inggris mengkonsolidasikan posisi mereka di timur Mediterania dan Timur Tengah, Prancis dan kemudian Italia membangun koloni di Afrika Utara, dan Rusia memperluas lingkup pengaruh mereka di wilayah Laut Hitam dan Kaukasus.[10]

Rusia menganggap dirinya sebagai pelindung orang-orang Balkan yang beragama Kristen Ortodoks, dan mereka memiliki tujuan jangka panjang untuk merebut Konstantinopel, bekas ibukota Kekaisaran Bizantium. Demi kepentingan geopolitiknya, bagi Rusia penguasaan terhadap Selat Bosphorus dan Dardanella sangat penting, karena ia merupakan jalur penghubung ke Laut Tengah. Pada saat itu Rusia ingin membangun pengaruhnya tidak hanya di Laut Norwegia tetapi juga di selatan Eropa.[11]

Perbedaan kepentingan yang menonjol dari para kekuatan besar Eropa muncul pada tahun 1853 seiring pecahnya Perang Krimea. Sebuah aliansi anti-Rusia dibentuk oleh kekuatan besar Eropa Barat untuk membendung kebangkitan Rusia. Dalam hal ini Kerajaan Inggris pada umumnya memiliki kebijakan mendukung integritas teritorial Ottoman. Mengapa? Karena banyak bagian dari wilayah Ottoman yang berbatasan — atau dekat — dengan Rusia, yang merupakan saingan imperial terbesar Inggris pada akhir abad ke-19. Melemahnya Ottoman malah menjadi ancaman bagi Inggris – terutama terkait Terusan Suez yang merupakan jalur utama perdagangan menuju ke India, yang dibuka pada tahun 1869. Dalam situasi seperti ini, ketimbang sebagai subjek aktif, Ottoman lebih diposisikan sebagai objek dari para kekuatan Eropa.[12]

Sementara itu, hubungan antara Kerajaan Habsburg (Austria) dengan Kesultanan Ottoman justru relatif baik. Perang Ottoman-Austria terakhir terjadi ketika Austria berada di bawah kepemimpinan Joseph II, yang mana berakhir dengan kekalahan Austria. Meskipun mengalami kekalahan, pada kenyataannya Austria terbukti masih tetap dapat bertahan hidup. Seiring berjalannya waktu, hubungan kedua imperium tersebut berubah menjadi kemitraan (1791). Perjanjian dagang menggantikan perang dan penaklukan, dan pada abad ke-19 poros persahabatan Wina-Istanbul menjadi semakin kuat.[13] (PH)

Bersambung ke:

Islam dan Perang Dunia I (2): Pembunuhan Franz Ferdinand

Catatan Kaki:

[1] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 280.

[2] Ibid.

[3] “History: 1800-1900”, dari laman http://www.theottomans.org/english/history/history1800.asp, diakses 26 September 2018.

[4] Ibid.

[5] Eamon Gearon, Loc.Cit.

[6] “History: 1800-1900”, Ibid.

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] Martin Mutschlechner, “The Sick Man of Europe – A Major Power in Decline”, dari laman http://ww1.habsburger.net/en/chapters/sick-man-europe-major-power-decline, diakses 26

[11] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Ibid.