Mozaik Peradaban Islam

Islam dan Perang Dunia I (2): Pembunuhan Franz Ferdinand

in Monumental

“Liga Balkan berhasil mengusir Ustmaniyah dari Balkan. Mabuk kemenangan, Serbia menginginkan perluasan lagi wilayahnya dengan mengusir Austria-Hongaria. Langkah pertama adalah dengan cara membunuh Franz Ferdinand, putra mahkota Austria-Hongaria. Inilah awal mula bencana Perang Dunia I.”

–O–

Franz Ferdinand bersama istrinya keluar dari Balai Kota Sarajevo menuju mobilnya. Lima menit kemudian mereka ditembak mati oleh nasionalis Serbia. Photo: Karl Tröstl

Inti dari penyebab pecahnya Perang Dunia I pada tahun 1914 adalah karena persaingan di antara kekuatan-kekuatan besar di Eropa. Imperium-imperium besar di Eropa, didorong oleh rasa nasionalisme dan kemampuan ekonomi dan militer yang kuat, bersaing satu sama lain memperjuangkan kepentingan negaranya. Singkat kata, mereka adalah negara-negara yang haus akan hegemoni terhadap dunia. Latar belakang keadaan politik di Eropa sebelum pecahnya perang cukup rumit dan juga dinamis. Peta siapa kawan dan siapa lawan dapat berubah-ubah dengan cepat.[1]

Tanpa membicarakan kronologi bagaimana perubahan peta politik yang berubah dengan cepat, menjelang dan saat pecahnya perang, akhirnya kekuatan-kekuatan besar di Eropa mengkristal menjadi dua blok besar. Blok pertama disebut dengan Central Powers (Kekuatan Tengah) yang terdiri dari Jerman dan Austria-Hongaria. Sementara itu blok kedua disebut dengan The Allies (Sekutu), terdiri dari Rusia, Inggris, dan Prancis (belakangan turut juga bergabung Itali, Jepang, dan Amerika Serikat ke dalamnya).[2]

 

Perang Balkan

Pada musim semi tahun 1912, Rusia berinisiasi membentuk sebuah aliansi yang disebut dengan Liga Balkan, negara-negara yang tergabung di dalamnya adalah Bulgaria, Serbia, Yunani, dan Montenegro. Kepentingan Liga Balkan adalah mengusir Kesultanan Ustmaniyah (Ottoman) yang sedang lemah dari wilayah Balkan. Pada Oktober 1912 Liga Balkan mendeklarasikan perang terhadap Ottoman. Pada perang pertama, Liga Balkan meraih kemenangan dengan gemilang. Kekalahan Ottoman di Balkan begitu cepat, sehingga mereka dapat dengan mudah didesak untuk menyepakati perjanjian damai pada Desember 1912 di London, Inggris.[3]

Sementara itu, Ottoman sendiri secara internal sedang mengalami turbulensi politik. Sekelompok anak muda Ottoman yang tergabung dalam Committee of Union and Progress (CUP), atau biasa disebut Young Turks (Turki Muda), membuat pergerakan politik untuk menentang kekuasaan Sultan Abdulhamid II. CUP pada awalnya diinisiasi oleh mahasiswa kedokteran di Akademi Militer Ottoman yang bertujuan untuk membuat Kesultanan Ottoman menjadi negara konstitusional dan parlementer.[4]

CUP berhasil membawa Ottoman menjadi negara konstitusional dan parlementer pada tahun 1908. Sementara itu Sultan Abdulhamid II digulingkan pada tahun 1909. Penggantinya adalah Mehmed V yang dianggap lebih akomodatif untuk membawa Ottoman ke arah konstitusional dan parlementer. Pada saat Perang Balkan pertama berlangsung, Ottoman sudah dipimpin oleh Sultan Mehmed V. Namun karena Ottoman bentuk kenegaraannya sudah berubah ke bentuk konstitusional-parlementer, praktis sultan sudah tidak memiliki kekuatan apa-apa lagi. Posisi sultan hanya sebatas simbol kepemimpinan saja.[5]

Perjanjian damai London tidak berlangsung lama, sebab parlemen Ottoman memutuskan untuk mengambil alih kembali Balkan, maka dimulailah Perang Balkan yang kedua pada Januari 1913. Namun Ottoman sekali lagi harus menenggak pil pahit kekalahan. Meja perundingan perjanjian damai kembali dibawa ke London pada 30 Mei 1913. Hasilnya, Ottoman kehilangan hampir seluruh wilayahnya di Eropa, termasuk seluruh wilayah Makedonia dan Albania. Albania memperoleh kemerdekaannya atas desakan kekuatan-kekuatan Eropa, dan Makedonia harus dibagi di antara negara-negara sekutu Balkan.[6]

 

Pembunuhan Franz Ferdinand

Dengan kemenangan pada dua Perang Balkan, salah satu negara Liga Balkan, yakni Serbia, merasakan mabuk kemenangan yang menggebu-gebu. Rasa nasionalisme bangkit di antara orang-orang Serbia. Para nasionalis Serbia kini mengalihkan perhatian mereka kembali kepada gagasan “pembebasan” wilayah Slavs Selatan yang dikuasai oleh Austria-Hongaria. Kolonel Dragutin Dimitrijević, kepala intelijen militer Serbia, yang juga merupakan seorang pimpinan organisasi rahasia Union or Death (Persatuan atau Kematian/Ujedinjenje ili Smrt), berjanji untuk mewujudkan ambisi pan-Serbia ini. Dragutin Dimitrijević percaya cita-cita Serbia akan terwujud jika Pangeran Franz Ferdinand, putra mahkota Austria-Hongaria, menemui ajalnya. Mengetahui bahwa Franz Ferdinand hendak mengunjungi Bosnia dalam rangka tur inspeksi militer, maka Dragutin Dimitrijević merencanakan pembunuhan terhadapnya.[7]

Pada pukul 11:15 tanggal 28 Juni 1914, di ibu kota Bosnia, Sarajevo, Franz Ferdinand dan istrinya Sophie, bangsawan Hohenberg, ditembak mati oleh seorang Serbia-Bosnia, Gavrilo Princip, salah seorang anggota Union or Death. Atas tindakannya ini, di Slavs Selatan Gavrilo dianggap sebagai pahlawan.[8] Sementara itu pihak Austria-Hongaria berang, mereka memberikan ultimatum terhadap Serbia pada 23 Juli. Serbia yang merasa mendapatkan dukungan dari Rusia mengabaikan ultimatum tersebut. Pada 28 Juli, Austria-Hongaria yang didukung oleh Jerman menyatakan perang terhadap Serbia. Sementara itu Rusia sebelumnya sudah menyatakan akan mendukung Serbia apabila perang pecah. Pada 31 Juli, Jerman memberikan ultimatum terhadap Rusia agar menghentikan aktivitas militer mereka untuk persiapan perang. Rusia mengabaikannya, merasa diabaikan, maka Jerman menyatakan perang terhadap Rusia.[9]

Kepada pihak Prancis, Jerman memberikan ultimatum agar tidak terlibat dalam konfrontasi Jerman-Rusia . Prancis bukannya menurut, mereka malah mempersiapkan pasukannya untuk berperang. Mendengar itu, maka Jerman pada 3 Agustus juga menyatakan perang terhadap Prancis. Keadaan semakin diperumit ketika pasukan Jerman meminta Belgia sebagai pihak yang netral untuk mengizinkan pasukannya melintasi wilayah Belgia. Pada 3-4 Agustus, pasukan Jerman secara paksa memasuki Belgia. Inggris, yang sebenarnya tidak memiliki urusan apapun dengan masalah yang terjadi di Serbia, didorong oleh komitmen mereka untuk melindungi Belgia, pada 4 Agustus menyatakan perang terhadap Jerman.[10]

Maka yang terjadi selanjutnya adalah turbulensi peperangan di antara negara-negara Eropa (dan Jepang). Austria-Hongaria menyatakan perang melawan Rusia pada 5 Agustus; Serbia berperang dengan Jerman pada 6 Agustus; Montenegro berperang dengan Austria-Hongaria pada 7 Agustus dan dengan Jerman pada 12 Agustus; Perancis dan Inggris berperang dengan Austria-Hongaria, masing-masing pada 10 dan 12 Agustus; Jepang berperang dengan Jerman pada 23 Agustus; Austria-Hongaria berperang dengan Jepang pada 25 Agustus dan dengan Belgia pada 28 Agustus. Perang Dunia I telah pecah.[11] (PH)

Bersambung ke:

Islam dan Perang Dunia I (3): Alasan Kesultanan Ustmaniyah Ikut Berperang

Sebelumnya:

Islam dan Perang Dunia I (1): The Sick Man Of Europe

Catatan Kaki:

[1] Lebih detail tentang kronologi perubahan peta politik sebelum Perang Dunia I dimulai lihat C N Trueman, “Background to World War One”, dari laman https://www.historylearningsite.co.uk/world-war-one/causes-of-world-war-one/background-to-world-war-one/, diakses 27 September 2018.

[2] John Graham Royde-Smith dan Dennis E. Showalter, “World War I: 1914–1918”, dari laman https://www.britannica.com/event/World-War-I, diakses 27 September 2018.

[3] “Balkan Wars”, dari laman https://www.britannica.com/topic/Balkan-Wars, diakses 27 September 2018.

[4] Caroline Finkel, Osman’s Dream: The Story of the Ottoman Empire 1300-1923 (Basic Books: 2006), hlm 255.

[5] Ibid., hlm 260-261.

[6] “Balkan Wars”, Ibid.

[7] John Graham Royde-Smith dan Dennis E. Showalter, Ibid.

[8] “Gavrilo Princip”, dari laman https://www.britannica.com/biography/Gavrilo-Princip, diakses 28 September 2018.

[9] C N Trueman, Ibid.

[10] John Graham Royde-Smith dan Dennis E. Showalter, Ibid.

[11] Ibid.