Kesultanan Demak (2); Setting Sejarah (1)

in Islam Nusantara

Last updated on August 19th, 2019 08:53 am

Menurut catatan Prof. Dr. Slamet Mulyana, Kesultanan Demak pertama berdiri pada tahun 1475 M, setelah berhasil meruntuhkan negara Majapahit. Pada periode yang sama, peta politik nusantara dan dunia sedang mengalami pancaroba.  

Lukisan karya Andries van Eertvelt berjudul: The Return to Amsterdam of the Second Expedition to the East Indies on 19 July 1599. Sumber gambar: https://collections.rmg.co.uk

Berdasarkan catatan sejarah, Kesultanan Demak diperkirakan eksis pada sekitar akhir abad ke 15 sampai pertengahan abad ke 16 Masehi. Periode ini adalah masa dimana di peta politik global sedang mengalami pergeseran kekuatan yang signifikan.

Ketika itu, Kesultanan Turki Utsmani sedang memasuki era keemasannya.[1] Kekuasaannya membentang dari pesisir Samudera Hindia di selatan, hingga ke Laut Mediterania dan Laut Hitam di utara. Dengan rentangan kekuasaan sebesar ini, Kesultanan Utsmani nyaris memonopoli sistem perdagangan dari selatan bumi hingga ke utara di Eropa. Persoalannya, komoditi yang diberasal dari selatan bumi tersebut – khususnya rempah-rempah dari Nusantara – adalah satu hal yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Eropa untuk bertahan hidup.

Sebagaimana dikatakan oleh M.C. Ricklefs, bahwa “rempah-rempah bagi masyrakat Eropa, merupakan kebutuhan dan juga cita rasa. Selama musim dingin di Eropa, tidak ada satu cara pun yang dapat dijalankan untuk mempertahankan agar semua hewan-hewan ternak dapat tetap hidup; oleh karenanya, banyak hewan ternak disembelih dan dagingnya kemudian harus diawetkan. Untuk itu dibutuhkan sekali adanya garam dan rempah-rempah. Dan di antara rempah-rempah yang diimpor, cengkih dari Nusantara adalah yang paling berharga…”[2] Sehingga praktis, masyarakat Eropa kala itu memiliki ketergantungan yang tinggi pada Kesultanan Ustmani.

Tapi persoalan itu terpecahkan setelah pada 25 November 1491 Raja Ferdinand dan Ratu Isabella berhasil menaklukkan Kesultanan Granada yang merupakan kekuatan Islam terakhir di bumi Andalusia. Bersamaan dengan takluknya Andalusia, pantai-pantai di selatan Eropa sampai Selat Gibraltar terbuka lebar. Bangsa Eropa menemukan jalur alternatif untuk melakukan perjalanan dagang, tanpa harus berdarah-darah memaksakan diri melalui jalur yang dikuasai Kesultanan Utsmani.[3]

Wilayah Andalusia yang berhasil ditaklukkan oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella itu, pada hari ini kita kenal sebagai Negara Spanyol. Sedang tetangganya, yang juga masih dalam satu rumpun dinasti dengan Raja Ferdinand, bernama Portugis. Selagi Raja Ferdinan sibuk mengalahkan Kesultanan Granada, Kerajaan Portugis – yang letak wilayahnya langsung menghadap ke Samudera Atlantik – sudah terlebih dahulu melakukan pelayaran mencari rempah-rempah. Meski begitu, capaian pelayaran mereka belum terlalu jauh. Masih sebatas mencapai Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika.[4]

Ferdinand, dengan segala kemampuan armada yang dimilikinya, sebenarnya memiliki peluang untuk melampaui capaian Portugis. Hanya saja dia terpancing dengan proposal menggiurkan dari Colombus yang datang ke Istana Al-Hambra pada Januari 1492, atau sesaat setelah Raja Boabdil – Sultan terakhir Granada – angkat kaki dari Istana tersebut. Alhasil, proposal Colombus disetujui. Maka berlayarlah orang-orang Spanyol ke kawasan barat dunia. Dan kita pun mengetahui kisah perjalanan itu selanjutnya.[5]

Tak lama setelah itu, pelaut kenamaan Portugis bernama Vasco da Gama bertemu dengan seorang pelaut Muslim yang cukup terkenal pada masanya, bernama Ibnu Majid. Konon, Ibnu Majid inilah yang memperkenalkan kompas kepada Vasco da Gama. Kompas ini sudah dirancangnya sedemikian rupa, dengan akurasi lebih optimal dari yang dimiliki masyarakat pada umumnya. Ibnu Majid lah yang kemudian menunjukkan jalan kepada Vasco da Gama, sehingga dia berhasil mencapai Tanjung Harapan pada tahun 1497.[6]

Di titik ini dia melihat sebuah mega kawasan Samudera Hindia, yang namanya sudah terkenal sejak zaman purba. Di tepian kawasan yang besar inilah lahir semua bangsa dan peradaban terkemuka di dunia. Vasco da Gama melihat masa depan di hadapannya. Dia memutuskan melanjutkan ekspedisinya ke Samduera Hindia. Dan akhirnya, pada tahun 1498 – atau hanya setahun setelah berhasil melewati Tanjung Harapan – Vasco da Gama sudah berhasil mencapai India, salah satu pusat peradaban terbesar di pesisir Samudera Hindia.[7]

Selain di Goa, simpul perdagangan paling penting dalam skema perdagangan di Samudera Hindia adalah Kesultanan Malaka. Di perkirakan, pada masa ini Kesultanan Demak sudah berdiri dengan rajanya yang pertama bernama Raden Patah. Menurut catatan Prof. Dr. Slamet Mulyana, Kesultanan Demak pertama berdiri pada tahun 1475 M, setelah berhasil meruntuhkan negara Majapahit.[8]

Tapi agaknya, Demak ketika itu belum berhasil mewarisi legitimasi Majapahit di laut Nusantara. Karena Kesultanan Malaka masih cukup kuat pengaruhnya karena di dukung secara politik dan militer oleh Kekaisaran China. Dan yang tak kalah penting, Malaka memiliki oleh sosok perdana meteri kharismatik bernama Tun Perak. Dialah sosok yang membangun sistem ordonansi laut di Nusantara setelah runtuhnya pengaruh Majapahit. Sehingga perairan ini aman dilalui dan disinggahi. [9]

Menurut M.C. Ricklefs, sejak adanya Malaka, seluruh komiditi di gugusan pulau Nusantara di kirim ke sini. Sehingga membentuk satu sistem jaring perdagangan tersendiri. Di Malaka, sistem perdagangan Nusantara itu dihubungkan dengan jalur-jalur yang membentang ke barat sampai India, Persia, Arabia, Suriah, Afrika Timur, dan Laut Tengah: ke Utara sampai ke Siam dan Pegu; serta ke Timur sampai ke China dan mungkin Jepang. Ini adalah sistem perdagangan yang terbesar di dunia masa itu.[10]

Tapi pada tahun 1498 itu – atau bersamaan dengan tibanya Vasco dan Gama ke Goa – Tun Perak wafat, setelah mengabdi selama lebih dari 50 tahun sebagai Bendahara Negara (perdana meteri); terhitung sejak masa pemerintahan Sultan Muzaffar Syah (1446-1459), Mansyur Syah (1459-1477), Alauddin Rikayat Syah (1477-1488), hingga Mahmud Syah (1488-1528). Banyak sejarawan menilai, bahwa sistem pengandalian pasar perdagangan yang demikian besar, tidak bisa dilepaskan dari peran Tun Perak. [11]

Namun sejak kepergian Tun Perak, Malaka mulai mengalami kemunduran. Konflik internal kerajaan mulai mencuat. Pada saat ini, Kesultanan Demak sudah matang, dan bersiap mengambil alih legitimasi di laut Nusantara. Sedang di Goa, Vasco da Gama mulai frustasi karena kalah bersaing secara sehat di pasar Asia. Kerajaan Portugis mulia berpikir untuk menggunakan cara paling purba, yaitu merampas dengan paksa. (AL)

Bersambung..

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Uraian lebih jauh mengenai sejarah Kesultanan Utsmani, dapat merujuk link berikut: https://ganaislamika.com/dinasti-utsmaniyah-aura-kebangkitan-turki-utsmani-1-buah-kekalahan-dinasti-seljuk-munculnya-dinasti-utsmaniyah/, simak juga kisah Sultan terbesar Utsmani dengan mengakses link berikut: https://ganaislamika.com/yavuz-sultan-selim-1-sang-khalifah-ustmaniyah/

[2] Lihat, M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 1991, hal. 32

[3] Uraian lebih lengkap tentang kisah runtuhnya Kesultanan Granada dan situasi terakhir yang berkembang di Andalusia pada masa itu, bisa mengakses link berikut: https://ganaislamika.com/runtuhnya-kesultanan-granada-sebuah-titik-balik-sejarah-islam-1/

[4] Hingga pada tahun 1487, capaian terbesar mereka hanya sampai ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Ketika itu Bartolomeu Diaz, berhasil mengitari ujung selatan Afrika, tapi tidak bergerak lebih jauh dari itu. Lihat, M.C. Ricklefs, Op Cit.

[5] Lihat, Eamonn Gearon, Turning Points in Middle Eastern History; Course Guidebook, United States of America, The Teaching Company, 2016, Hal. 191

[6] Lihat, Ibnu Majid, Penemu Kompas dan Navigator Terbesar dalam Sejarah Islam, https://www.gomuslim.co.id/read/khazanah/2017/06/09/4355/ibnu-majid-penemu-kompas-dan-navigator-terbesar-dalam-sejarah-islam.html, diakses 19 Maret 2019

[7] Lihat, M.C. Ricklefs, Op Cit.

[8] Lihat, Prof. Dr. Slamet Mulyana, Runtuhnya Kerjaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, Yogyakarta, LkiS, 2005, hal. 193

[9] Uraian lebih jauh mengenai sejarah Kesultanan Malaka bisa merujuk link berikut: https://ganaislamika.com/kesultanan-malaka-1/

[10] Lihat, M.C. Ricklefs, Op Cit, hal. 30

[11] Lihat, Prof. Dr. Slamet Mulyana, Runtuhnya Kerjaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, Yogyakarta, LkiS, 2005, hal. 150

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*