Mozaik Peradaban Islam

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq (12): Laki-Laki Pertama yang Masuk Islam (2)

in Tokoh

Last updated on May 12th, 2020 03:11 pm

Furat bin as-Saib berkata: Aku bertanya kepada Maimun bin Mihran, “Apakah Ali lebih baik dalam pandanganmu, atau Abu Bakar dan Umar?” Dia berguncang sampai tongkatnya jatuh dari tangannya.

Lukisan dari halaman Kitab Jami’ al-Tawarikh karya Rashid al-Din yang menggambarkan bertemunya Muhammad muda dengan Bahira Sang Rahib. Sumber: Public Domain

Al-Tabari dalam kitabnya, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk, berkata, “Ada perbedaan pendapat di antara para ulama terdahulu mengenai siapa, setelah istrinya Khadijah binti Khuwalid, yang pertama-tama mengikuti Rasulullah, beriman kepadanya, meyakini pesan yang dibawanya dari Allah, dan salat bersamanya.”[1]

Perbedaan pendapat tersebut, menurut al-Tabari, berputar di antara tiga orang, yaitu Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, atau Zaid bin Haritsah. Selanjutnya, al-Tabari memaparkan riwayat-riwayat terkait yang mungkin dapat memperkuat pendapat mengenai siapa yang pertama di antara mereka.

Sebagai permulaan, penulis akan menyampaikan riwayat-riwayat tentang Abu Bakar sebagai orang yang pertama masuk Islam, termasuk juga riwayat yang menolaknya.

Al-Shabi berkata:

Aku berkata kepada Ibnu Abbas, “Siapa yang pertama masuk Islam?”

Dia menjawab, “Apakah engkau tidak pernah mendengar bait-bait (diwan) dari Hassan bin Tsabit?[2]:

Apabila engkau mengingat pria yang dapat dipercaya yang berduka untuk mereka,

sebutkanlah saudaramu Abu Bakar dan perbuatan-perbuatannya.

Pria terbaik, yang paling saleh dan paling adil

setelah Nabi, dan yang paling setia dalam memenuhi

apa yang dia perjuangkan.

Yang kedua, sebagai pengikut, semoga kuburannya dipuji,

dan orang pertama yang beriman kepada para nabi.[3]

Riwayat lainnya disampaikan oleh Amru bin Abasah, dia berkata:

Aku datang kepada Rasulullah ketika beliau tinggal di Ukaz[4] dan berkata, “Wahai Rasulullah, siapa yang telah mengikutimu dalam agama ini?”

Beliau menjawab, “Dua orang telah mengikutiku di dalamnya, seorang pria merdeka dan seorang budak: Abu Bakar dan Bilal.”

Kemudian aku masuk Islam dan menganggap diriku sebagai salah seorang dari seperempat yang telah beriman kepada Islam.[5]

Indikasi lainnya diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar, dia berkata, “Yang kuketahui kedua orangtuaku sudah memeluk agama ini, dan setiap kali lewat di depan rumah kami, Rasulullah selalu singgah ke tempat kami, pagi atau sore.”[6]

Meski demikian, ada juga riwayat lainnya yang menyangkal bahwa Abu Bakar adalah laki-laki pertama yang masuk Islam, sebagaimana diriwayatkan oleh Muhammad bin Saad bin Abi Waqqas (as-Suyuti mengatakan riwayat ini isnad-nya kuat):

Aku berkata kepada ayahku (Saad bin Abi Waqqas), “Apakah Abu Bakar adalah yang pertama dari mereka yang masuk Islam?”

Dia menjawab, “Tidak, lebih dari lima puluh orang telah masuk Islam sebelum dia, tetapi dia adalah Muslim yang terbaik di antara kita.”[7]

Abu Nuaim meriwayatkan bahwa Furat bin as-Saib berkata:

Aku bertanya kepada Maimun bin Mihran, “Apakah Ali lebih baik dalam pandanganmu, atau Abu Bakar dan Umar?”

Dia berguncang sampai tongkatnya jatuh dari tangannya dan menjawab, “Aku tidak pernah berpikir bahwa aku masih hidup pada masa ketika seseorang akan dibandingkan dengan mereka. Perbuatan baik mereka adalah milik Allah! Mereka adalah pemimpin Islam.”

Aku berkata, “Ali adalah yang pertama masuk Islam atau Abu Bakar?”

Dia berkata, “Demi Allah, Abu Bakar beriman kepada Nabi SAW pada saat Bahira Sang Rahib bertemu dengannya.”[8]

Mengenai perbedaan di antara berbagai riwayat dan pendapat para ulama terdahulu, as-Suyuti berkomentar:

Ada perbedaan pendapat tentang dia (Abu Bakar) dan Khadijah (yang mana dari mereka yang pertama kali masuk Islam) sampai (dikatakan bahwa) dia menikah dengan dia SAW, dan semua itu sebelum kelahiran Ali.

Seluruh kelompok sahabat dan para pengikut mengatakan bahwa dia (Abu Bakar) adalah yang pertama masuk Islam, dan beberapa dari mereka mengklaim bahwa ada konsensus tentang itu. (Namun) telah dikatakan, “Yang pertama masuk Islam adalah Ali.” Juga dikatakan, “Khadijah.”

Jalan tengah antara pernyataan yang tampaknya bertentangan ini adalah bahwa Abu Bakar adalah laki-laki dewasa pertama yang masuk Islam, Ali adalah anak-anak pertama yang masuk Islam, dan Khadijah adalah wanita pertama yang masuk Islam.

Yang pertama yang mengambil jalan tengah dengan cara seperti ini adalah Imam Abu Hanifah, semoga Allah merahmatinya.[9] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk: Volume 6, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh W. Montgomery Watt dan M. V. McDonald (State University of New York Press: New York, 1988), hlm 80.

[2] Hassan bin Tsabit adalah seorang penyair Arab dan salah satu sahabat Nabi.

[3] Al-Tabari, Ibid., hlm 84-85. Riwayat ini juga dikutip oleh At-Tabarani dalam Kabir, Abdullah bin Ahmad(Ibnu Hanbal) dalam Zawa’id az-Zuhd, lihat Jalal ad-Din as-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dengan judul The History of the Khalifahs who took the right way oleh Abdassamad Clarke (Ta-Ha Publishers Ltd: Turki, 1995), hlm 8-9.

[4] Sebuah wilayah di antara Nakhlah dan Thaif.

[5] Al-Tabari, Op. Cit., hlm 85.

[6] Muhammad Husain Haekal, Abu Bakar As-Siddiq: Sebuah Biografi, diterjemahkan dari Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia oleh Ali Audah (Litera Antar Nusa: Jakarta, 2003, Cet. Ketiga), hlm 5.

[7] Al-Tabari, Loc.Cit. Menurut as-Suyuti, riwayat ini memiliki isnad yang kuat, lihat Jalal ad-Din as-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Op.Cit., hlm 10.

[8] Jalal ad-Din as-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Op.Cit., hlm 9. Kisah mengenai bertemunya Rasulullah dengan Bahira Sang Rahib masyhur dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah, waktu itu Rasulullah diriwayatkan masih berusia 12 tahun. Jika yang dikatakan oleh Maimun bin Mihran benar, maka Abu Bakar juga waktu itu masih kecil, 11 atau 12 tahun. Riwayat lengkap pertemuan antara Rasulullah dan Bahira di antaranya dapat dilihat dalam Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm 81.

[9] Jalal ad-Din as-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*