Mozaik Peradaban Islam

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq (27): Hijrah

in Tokoh

Nabi berkata, “Allah telah memberiku izin untuk hijrah ke al-Madinah.” Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku menemanimu?” “Ya,” jawabnya.

Foto ilustrasi: Morocco Exotic Adventures

Mari kita lanjutkan riwayat yang disampaikan oleh Muhammad bin Kaab al-Qurazi pada artikel sebelumnya:

Beberapa dari mereka (para periwayat) menyatakan bahwa Abu Bakar datang ke Ali dan bertanya kepadanya tentang Rasulullah. Dia mengatakan kepadanya bahwa beliau telah pergi ke gua Tsaur dan berkata, “Jika engkau memiliki urusan dengannya, bergabunglah dengannya di sana.”

Abu Bakar pergi dengan tergesa-gesa dan menyusul Rasulullah di jalan. Rasulullah mendengar suara Abu Bakar datang dalam kegelapan malam dan menyangka bahwa dia adalah salah seorang musyrik.

Beliau mempercepat langkahnya dan tali sandalnya putus, dan kulit jempol kakinya terkelupas karena tersandung batu. Jempolnya berdarah dengan deras, dan beliau jalan dengan lebih cepat lagi. Abu Bakar khawatir bahwa dia akan membuat Rasulullah tertekan, dan dia mengeraskan suaranya dan berbicara kepada beliau.

Rasulullah mengenalinya, dan berhenti sampai Abu Bakar mencapainya. Mereka kemudian berjalan lagi, dengan kaki Rasulullah yang mengucurkan darah. Gua itu tercapai saat fajar dan mereka masuk ke dalamnya bersama.

Ketika pagi, sekelompok orang yang telah mengintai dan menunggu Rasulullah masuk ke dalam rumahnya. Ali bangkit dari tempat tidurnya, dan ketika mereka mendekatinya, mereka mengenalinya dan berkata, “Di mana temanmu?”

Dia menjawab, “Aku tidak tahu. Apakah kalian mengharapkan aku untuk terus mengawasinya? Kalian menyuruhnya untuk pergi (lihat artikel seri sebelumnya tentang diskusi para bangsawan Quraisy di Darun Nadwah-pen), dan dia telah pergi.”

Mereka membentak dan memukulinya. Kemudian mereka membawanya ke masjid dan memenjarakannya untuk sementara waktu, tetapi setelah itu mereka meninggalkannya sendirian. Demikianlah, Allah menyelamatkan utusan-Nya dari rencana mereka (untuk membunuhnya).

Mengenai peristiwa ini, Allah berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS al-Anfal [8]: 30)[1]

Dalam penjelasan dari sejarawan O. Hashem, seseorang yang datang belakangan, yang memberitahu para pemuda Quraisy bahwa Rasulullah telah meninggalkan rumahnya, adalah orang tua dari Najd (yaitu Iblis yang menyaru). Mereka baru menyerbu ke dalam rumah Rasulullah ketika diberitahu olehnya Rasulullah telah pergi.[2]

Kemudian, Urwah bin az-Zubair menyampaikan riwayat lainnya dengan kronologi yang agak sedikit berbeda. Urwah tidak menceritakan tentang peristiwa pengepungan di rumah Rasulullah, melainkan langsung melompat ke pertemuan antara Rasulullah dan Abu Bakar sebelum peristiwa hijrah mereka berdua. Berkata Urwah bin az-Zubair:

Aisyah mengatakan kepadaku, bahwa pada suatu hari, ketika mereka berada di rumah mereka pada siang hari, di sana tidak ada seorang pun yang sedang bersama Abu Bakar, kecuali putri-putrinya, Aisyah dan Asma. Rasulullah tiba-tiba datang ketika matahari siang sedang berada di puncaknya.

Sudah menjadi kebiasaannya untuk datang ke rumah Abu Bakar pada setiap harinya tanpa terlewat, yaitu pada permulaan dan akhir hari. Dan ketika Abu Bakar melihat Nabi datang pada siang hari dia berkata kepadanya, “Wahai Rasulullah, hanya sesuatu yang istimewa yang membawamu ke sini. “

Ketika beliau masuk, Nabi berkata kepada Abu Bakar, “Mintalah siapapun yang sedang bersamamu untuk keluar (dari rumah ini).”

Dia menjawab, “Tidak ada yang memata-matai kita di sini. Mereka hanya kedua putriku.”

Kemudian Nabi berkata, “Allah telah memberiku izin untuk hijrah ke al-Madinah.”

Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku menemanimu?”

“Ya,” jawabnya.

Abu Bakar berkata, “Ambillah salah satu unta tunggangan ini.”

Mereka adalah unta-unta tunggangan yang telah dia pelihara untuk persiapan hijrah ketika izin telah diberikan kepada Rasulullah.

Dia memberinya salah satu dari mereka dan berkata, “Ambillah, wahai Rasulullah, dan naiklah.”

Nabi menjawab, “Aku menerimanya, ini sungguh berarti.”[3]

Dalam riwayat lainnya yang masih selaras dengan riwayat dari Urwah bin az-Zubair, Aisyah berkata:

Kemudian Rasulullah berkata, “Allah telah memberiku izin untuk meninggalkan Makkah dan hijrah.”

Abu Bakar berkata, “Bolehkah aku menemanimu, wahai Rasulullah?”

“Engkau boleh menemaniku,” jawab beliau.

Demi Allah, aku tidak pernah tahu bahwa ada orang yang bisa menangis karena sukacita hingga hari itu, ketika aku melihat Abu Bakar menangis karena sukacita.[4] (PH)

Bersambung….

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk: Volume 6, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh W. Montgomery Watt dan M. V. McDonald (State University of New York Press: New York, 1988), hlm 144.

[2] O. Hashem, Muhammad Sang Nabi: Penelusuran Sejarah Nabi Muhammad Secara Detail (Ufuk Press: Jakarta, 2007), hlm 102.

[3] Al-Tabari, Op.Cit., hlm 145-146.

[4] Ibid., hlm 147.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*