Mozaik Peradaban Islam

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq (8): Dialah Muhammad al-Amin

in Tokoh

Last updated on May 7th, 2020 02:22 pm

Ketika Muhammad membawa barang dagangan Khadijah ke Bostra, dia beristirahat di bawah pohon rindang di dekat biara. Melihatnya, Nestor, pendeta biara tersebut berkata, “Dia tak lain adalah seorang nabi.”

Pohon rindang yang kini diyakini sebagai tempat bersandarnya Nabi Muhammad SAW pada waktu sebelum menjadi nabi. Sekarang berada di Yordania. Foto: Sacred Footsteps

Al-Baihaqi berkata, “…. dia (Abu Bakar) telah melihat bukti-bukti kenabian Rasulullah SAW dan mendengar jejak-jejaknya sebelum dia diajak (ke Islam), sehingga ketika beliau (Rasulullah) mengajaknya dia sudah merenung dan berpikir tentang itu, dan dia segera menerima dan masuk Islam.”[1]

Ketika Muhammad masih berusia 25 tahun, waktu itu dia belum menikah, di seluruh penjuru Makkah dia telah dikenal dengan sebutan al-Amin, yaitu orang yang terpercaya, dapat diandalkan, dan jujur. Julukan tersebut berasal dari orang-orang yang telah beberapa kali mempercayakan barang dagangannya kepada Muhammad.

Reputasi ini jugalah yang akhirnya membuat Khadijah, seorang saudagar wanita terkaya di Makkah untuk mempercayakan barang dagangannya kepada Muhammad, yang mana akibat dari pertemuan dan kerjasama di antara mereka itu membuat keduanya saling jatuh hati dan menikah.

Suatu waktu, ketika mereka belum menikah, Muhammad membawa barang dagangan Khadijah ke utara, sesampainya di Bostra, daerah di sebelah selatan Suriah, Muhammad berteduh di bawah sebuah pohon rindang yang tidak jauh dari tempat seorang pendeta yang bernama Nestor.

Maisarah, budak Khadijah yang ikut bersama Muhammad, melihat pendeta itu keluar dari biara dan bertanya kepadanya, “Siapa orang yang berteduh di bawah pohon itu?”

“Dia orang Quraisy,” kata Maisarah, “dari keluarga penjaga Tanah Suci.”

“Dia tak lain adalah seorang nabi,” kata Nestor.[2]

Kembali kepada perkataan al-Baihaqi di atas, “…. dia (Abu Bakar) telah melihat bukti-bukti kenabian Rasulullah SAW dan mendengar jejak-jejaknya sebelum dia diajak (ke Islam).” Kiranya, peristiwa atau jejak-jejak apa yang membuat Abu Bakar begitu terkesan terhadap Muhammad?

Sejarawan Khalid Muhammad Khalid, memaparkan, bahwa Abu Bakar begitu terkagum-kagum melihat Muhammad dalam sekitar peristiwa pemugaran Kabah. Mari kita lanjutkan kisah dari artikel sebelumnya, yaitu ketika Kaum Quraisy selesai merubuhkan Kabah dan bersiap untuk membangunnya kembali.

Mereka kemudian membagi-bagi setiap sudut Kabah untuk dibangun oleh masing-masing kabilah, sesuai dengan kekhususannya masing-masing. Setiap kabilah mengumpulkan batu-batu yang baik dan mulai membangun.[3]

Untuk pengerjaan struktur rancang bangun Kabah, mereka menggunakan jasa seorang arsitek berkebangsaan Romawi yang bernama Baqum.[4] Sementara itu, untuk bahan atap Kabah, mereka mengambil potongan-potongan kayu dari perahu rusak seorang pedagang Yunani di Jedah yang tidak bisa diperbaiki lagi. Untuk pengerjaan atap ini, mereka menggunakan jasa seorang Koptis dari Mesir yang ahli memahat kayu, yang kebetulan saat itu sedang berada di Makkah.[5]

Setelah dinding-dinding Kabah cukup tinggi, sampailah pada tahap peletakkan kembali Hajar Aswad (Batu Hitam) di pojoknya. Perdebatan pun pecah di antara mereka. Setiap kabilah ingin mendapatkan kehormatan untuk mengangkat Hajar Aswad dan meletakkannya pada tempat semula. Perdebatan ini berlangsung hingga empat sampai lima hari tanpa menghasilkan keputusan.[6]

Pada puncaknya, mereka bersumpah bahwa kehormatan meletakkan Hajar Aswad merupakan hak masing-masing kabilah dan tidak akan menyerahkannya kepada kabilah manapun, apapun akibatnya. Peperangan dan pertumpahan darah hampir-hampir saja terjadi di antara mereka.[7]

Hingga seorang sesepuh Quraisy tertua, Abu Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumi angkat bicara, “Wahai kaum Quraisy, untuk mengakhiri pertengkaran yang terjadi di antara kalian, tunjuklah seorang penengah dari orang pertama yang memasuki gerbang masjid pada hari ini.”[8]

Istilah “masjid” memang sudah digunakan pada masa itu, yaitu mengacu kepada tempat bersujud di sekitar Kabah. Akhirnya mereka semua setuju atas usulan orang tua itu. Ternyata, orang yang pertama kali masuk masjid adalah Muhammad yang baru saja kembali ke Makkah, waktu itu usianya sudah 35 tahun, dan dia sudah menikah dengan Khadijah.

Melihat Muhammad, mereka secara spontan dan serentak mengakui bahwa Muhammad adalah orang yang tepat untuk menjadi penengah. Kedatagannya disambut dengan ekspresi senang.

“Dialah al-Amin,” kata beberapa orang.

Yang lainnya berkata, “Kita rela menerima keputusannya, dia adalah Muhammad.”

Ketika dijelaskan duduk persoalannya, Muhammad lalu berkata, “Berikanlah kepadaku selembar selimut.”

Setelah mereka memberikannya, Muhammad membentangkan selimut itu di tanah, lalu mengambil dan meletakkan Hajar Aswad di tengahnya, lalu berkata, “Silakan setiap kabilah memegang ujung selimut itu.”

Mereka kemudian bersama-sama mengangkatnya menggunakan selimut sampai di depan lubang Hajar Aswad hendak disimpan. Muhammad mengambil batu itu, lalu memasukannya ke pojok di mana lubang berada. Semua kabilah merasa puas karena sama-sama merasa memiliki andil untuk meletakkan Hajar Aswad kembali. Pemugaran Kabah pun dilanjutkan hingga selesai.[9]

Suatu waktu, ketika mengingat peristiwa di atas, Abu Bakar bergumam di dalam hati, “Benarlah engkau wahai Ibnu Saidah (salah satu guru Abu Bakar yang telah wafat, penganut agama Ibrahim-pen), peristiwa itu (datangnya seorang nabi) pasti muncul pada saatnya.”[10] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Jalal ad-Din as-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dengan judul The History of the Khalifahs who took the right way oleh Abdassamad Clarke (Ta-Ha Publishers Ltd: Turki, 1995), hlm 11.

[2] Muhammad bin Saad, Kitab Ath-Thabaqat al-Kabir, dikutip oleh Martin Lings, Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, (Serambi, 2010), hal 51-52.

[3] Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm 84.

[4] Ibid., hlm 85.

[5] Martin Lings, Op.Cit., hlm 62.

[6] Ibid., hlm 64.

[7] Khalid Muhammad Khalid, Mengenal Pola Kepemimpinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah, diterjemahkan oleh Mahyuddin Syaf (CV. Diponegoro: Bandung, 1984), hlm 33.

[8] Ibnu Ishaq, Sirah Rasul Allah (edisi Wustenfeld), hlm 125, dalam Martin Lings, Loc.Cit.

[9] Martin Lings, Ibid., hlm 64-65.

[10] Khalid Muhammad Khalid, Op.Cit., hlm 34.

2 Comments

    • Ada banyak standar dan kaidah editing, mas Dilan. Biasanya kami pakai huruf depan kapital jika mengacu kepada sebuah tempat, misal: Jakarta Utara.

      Tapi jika mengacu kepada arah, kami memakai huruf kecil, misal: Di bagian utara Jakarta kami akan bertemu.

      Tapi ya silakan saja, masing-masing redaksi biasanya punya aturan/pedoman selingkung tersendiri.

Leave a Reply to Admin Cancel reply

Your email address will not be published.

*