Mozaik Peradaban Islam

Kisah Nabi Luth (1): Sodomi Pertama

in Studi Islam

Last updated on September 29th, 2019 11:19 am

Seorang anak laki-laki berwajah manis ditangkap karena melakukan pengrusakan. Malamnya, dia meratap, minta dipeluk oleh penjaga, dan melakukan gerakan-gerakan pengundang syahwat. Anak itu adalah Iblis.

Foto Ilustrasi: Lukisan karya Robert Rutman yang berjudul The Ruin of Sodom and Gomorrah.

Alkisah, dahulu kala ada sebuah wilayah yang bernama al-Mutafikah, di dalamnya terdapat lima kota, yaitu Sabah, Sarah, Amarah, Duma, dan Sodom. Kota yang terakhir disebutkan adalah kota yang paling besar di antara kelimanya. Ke wilayah inilah kelak Nabi Luth AS akan diutus.[1]

Al-Tabari menyebutkan, bahwa Sodom kini terletak di Yordania.[2] Sementara itu, Ibnu Katsir menyebut dengan lebih detail, menurut dia, lokasinya berada di pantai bagian barat Laut Mati, atau dalam bahasa Arab disebut Al-Bahr al-Mayyit.[3]

Penduduk di negeri ini dikenal ulet, pekerja keras, guyub, dan suka bergotong royong. Hingga suatu waktu, terjadilah sebuah peristiwa yang akan mengubah takdir mereka selamanya.[4] Peristiwa ini dituturkan oleh Muhammad Syahir Alaydrus dalam bukunya yang berjudul Perjumpaan dengan Iblis. Penulis melakukan beberapa editing minor terhadap kisahnya, selamat menyimak:

Umat Nabi Luth AS termasuk kaum yang banyak dikaruniai kelebihan. Mereka suka bersatu dan bergotong-royong, dan biasa berangkat kerja bersama-sama, meninggalkan istri dan anak-anak mereka di rumah. Iblis tidak menyukai hal itu, dan banyak upaya yang telah dilakukannya, namun kurang berhasil. Sungguh sulit menyesatkan kaum yang suka persatuan.

Akhirnya dia mendapatkan ide. Setiap kali mereka pulang kerja, hasil pekerjaan mereka dirusak dan dihancurkan oleh Iblis. Esok harinya mereka bertanya-tanya, siapa gerangan yang merusak pekerjaan mereka, membuat hari kemarin menjadi sia-sia, dan memperlambat produksi. Kerja mereka menjadi tidak efektif.

Mereka kesal sekali, sehingga mereka bersepakat bahwa jika pelakunya tertangkap, dia akan dijatuhkan hukuman berat. Pada hari-hari berikutnya Iblis menjelmakan dirinya menjadi seorang anak muda yang manis dan menawan sekali tampangnya.

Ketika kaum Luth pergi kerja keesokan harinya, mereka melihat anak itu, dan menyadari bahwa anak itulah pelakunya, maka langsung saja mereka mengejar dan menangkapnya. Dan setelah anak itu mengakui perbuatannya, mereka menjatuhinya hukuman mati.

Sambil pikir-pikir lebih jauh, mungkin supaya ketahuan siapa orangtua atau kerabatnya, atau supaya diadili lebih dahulu, mereka memutuskan untuk mengurung anak itu dan menggilir orang untuk menjaganya.

Malam itu juga, ketika sudah memasuki waktu tidur, anak itu pura-pura sedih dan berteriak meratap. Karena terganggu, dan mulai merasa kasihan, si penjaga menghampirinya sembari bertanya, “Ada apa denganmu?”

“Ayahku selalu memelukku saat aku hendak tidur,” jawabnya.

Si penjaga menjadi tidak tega, akhirnya dia berkata, “Ya sudah, sini kupeluk.”

Ketika sudah dipeluk, si anak membuat gerakan-gerakan yang membangkitkan syahwat orang itu, terus menerus hingga ketika hasratnya sudah terlihat, si anak mengajarkan apa yang harus dilakukannya, sampai akhinya perbuatan sodomi pertama dalam sejarah peradaban manusia pun terjadi.

Pagi harinya, ketika dia bangun, anak itu sudah tidak ada. Orang itu pun menceritakan segala sesuatu yang terjadi dengan berapi-api, dan mencontohkannya. Teman-temannya menjadi penasaran, hingga akhirnya mereka saling mencoba melakukannya juga.

Akhimya, hari demi hari, kerusakan moral itu menyebar luas dan menjadi kebiasaan. Iblis adalah yang pertama mengajarkan, lalu diteruskan oleh orang yang menggaulinya.

Tidak puas dengan itu, Iblis harus menyelesaikan misinya. Dia sekarang menjelma menjadi seorang wanita dan pergi mempengaruhi kaum wanita sambil mengabarkan, “Sesungguhnya laki-laki kalian sudah saling suka sama suka, kalian sudah tidak dibutuhkan lagi.”

Iblis lalu mengajarkan hal baru kepada kaum wanita, hingga mereka merasa bisa saling mencukupi kebutuhan biologis mereka satu dengan yang lainnya.[5]

Ibnu Katsir mengatakan, dari sinilah pada awalnya hubungan seksual yang dilakukan di antara sesama laki-laki disebut dengan sodomi, yang mana diambil dari nama sebuah kota, Sodom. Penduduk kota ini dilaporkan melakukannya secara terbuka dan tanpa malu-malu.[6] Bukan hanya itu, dalam sebuah riwayat dikatakan, mereka juga melakukannya dengan paksaan terhadap siapapun yang sedang melintasi kota tersebut.[7]

Untuk alasan inilah akhirnya kemudian Nabi Luth diutus untuk meluruskan mereka. (PH)

Bersambung ke:

Catatan Kaki:


[1] Keterangan tempat ini didapatkan dari riwayat yang disampaikan oleh Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi, seorang generasi kedua dari Tabiin yang tinggal di Kufah, riwayat selengkapnya dapat dilihat dalam Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk: Volume 2, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh William M. Brinner (State University of New York Press: New York, 1987), hlm 125.

[2] Al-Tabari, Op.Cit., hlm 112.

[3] Ibnu Katsir, Qisas Al-Anbiya, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Muhammad Mustapha Geme’ah (Darussalam: Riyadh, e-book version), Chapter 10, Prophet Lot (Lut).

[4] Muhammad Syahir Alaydrus, Perjumpaan dengan Iblis (Lentera, 2007), hlm 139. Pada tahun 2013, Penerbit Buku Mizan menerbitkan ulang kembali buku ini dengan judul yang sama.

[5] Ibid., hlm 139-142.

[6] Ibnu Katsir, Loc.Cit.

[7] Riwayat dari Ibnu Zaid, dalam Al-Tabari, Loc.Cit.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*