Mozaik Peradaban Islam

Kisah Nabi Luth (8): Malaikat di Kota Sodom (2)

in Studi Islam

Last updated on October 11th, 2019 01:37 pm

Ketika umat Luth tahu ada tamu pria-pria tampan di rumah Luth, mereka datang dengan riang gembira karena hendak berhubungan seks dengan para tamu. Luth berkata, “Inilah putri-putriku, jika kamu hendak berbuat.”

Lukisan pahat karya Hans I Collaert (1525/30-1580) yang menggambarkan Luth sedang melindungi para tamunya dari penduduk kota Sodom.

Selanjutnya kami akan membahas kisah kedatangan para malaikat di kota Sodom berdasarkan ayat-ayat Alquran, bukan dari riwayat atau komentar dari para sahabat nabi atau ulama-ulama terdahulu sebagaimana sudah dipaparkan dalam artikel sebelumnya, demi menambah khazanah pengetahuan para pembaca yang budiman.

Bagi para pembaca yang sudah pernah menyimak kisah Nabi Luth di dalam Alquran, yang tersebar di berbagai surat, barangkali ada yang bertanya-tanya, atau bahkan kebingungan bagaimana sebenarnya urutan peristiwa yang terjadi pada masa itu.

Di dalam Surat Hud Ayat 77-81, dikatakan:

Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, “Ini adalah hari yang amat sulit.”

Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji.

Luth berkata, “Hai kaumku, inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?”

Mereka menjawab, “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.”

Luth berkata, “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).”

Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?” (Q.S Hud [11]: 77-81)

Di dalam ayat di atas, identitas “tamu-tamu” Luth itu tidak terungkap kecuali setelah kaum Nabi Luth datang untuk “mengganggu” para tamu dan setelah mereka menolak harapan dan permohonan Nabi Luth.

Sekarang mari kita simak ayat di bawah ini:

Maka ketika para utusan (malaikat) itu mendatangi keluarga Luth, dia berkata, “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.”

Para utusan menjawab, “Sebenarnya kami datang kepadamu dengan azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu dengan kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar.” (Q.S al-Hijr [15]: 61-64)

Quraish Shihab menjelaskan, ucapan para malaikat sebagaimana terbaca di atas, menunjukkan betapa Nabi Luth gelisah dengan kedatangan para “orang-orang” itu yang sampai saat itu beliau belum tahu bahwa mereka adalah para malaikat.

Keresahan dan rasa takut itu wajar, karena para malaikat tersebut datang dengan wujud yang tampan dan gagah, yang tentu saja akan mengundang kehadiran kaumnya yang tidak malu dan segan melakukan hubungan homoseksual.

Penekanan dan penguatan ucapan malaikat itu juga diperlukan karena sebentar lagi mereka akan meminta agar Nabi Luth meninggalkan lokasi pemukimannya sebagaimana diungkapkan dalam ayat berikutnya (Q.S al-Hijr [15]: 65).

Kemudian baca juga Surat al-Ankabut Ayat 33-35 yang berbunyi:

Dan begitu utusan-utusan Kami mendatangi Luth, dia merasa susah karena mereka, dan dia tidak mempunyai kemampuan untuk melindungi mereka. Dan mereka berkata, “Janganlah takut dan jangan (pula) bersedih. Sesungguhnya kami akan menyelamatkanmu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal. Sesungguhnya kami akan menurunkan azab dari langit atas penduduk kota ini, karena mereka berbuat fasik, dan sesungguhnya Kami tinggalkan darinya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal.” (Q.S al-Ankabut [29]: 33-35)

Lalu apa bedanya dengan keterangan di dalam Surat Hud sebagaimana telah disebutkan di atas? Pada surat Hud, identitas “tamu-tamu” Nabi Luth itu tidak terungkap kecuali setelah kaum Nabi Luth datang untuk “mengganggu” para tamu dan setelah mereka menolak harapan dan permohonan Nabi Luth.

Sedangkan di dalam ayat-ayat yang disebutkan belakangan, identitas para malaikat telah terungkap sejak semula, dan uraian tentang maksud buruk kaum Nabi Luth baru diuraikan kemudian.

Hal ini, menurut banyak ulama, karena tujuan pemaparan kisah Nabi Luth di sini bukan kronologis peristiwa, tetapi penekanannya pada pembuktian tentang kebenaran ancaman dan bahwa malaikat bila datang kepada kaum durhaka, maka kedatangan mereka membawa bencana, tanpa memberi tangguh.[1]

Sekarang mari simak ayat-ayat berikut ini:

Dia (Luth) berkata, “Inilah putri-putriku, jika kamu hendak berbuat.” (Q.S al-Hijr [15]: 71)

Luth berkata, “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku.” (Q.S Hud [11]: 78)

Ketika Luth berkata, “Inilah putri-putriku,” jika kalimat tersebut dipahami secara literal, barangkali kita akan mengerutkan kening, bagaimana mungkin seorang nabi akan menyerahkan putrinya untuk disetubuhi rombongan pria yang datang beramai-ramai, sebagai ganti atas pelampiasan syahwat mereka kepada para malaikat yang menyamar.

Untuk memahami makna sebenarnya dari kalimat Luth tersebut diperlukan pemahaman bahasa Arab yang mendalam. Namun kita tidak akan mengkajinya secara lebih jauh dari segi gramatika bahasa Arab, cukup dengan mengambil kesimpulan saja dari beberapa ulama tafsir yang menguasai bahasa Arab, utamanya bahasa Alquran secara mendalam.

Quraish Shihab menjelaskan, maksud dari kalimat di atas apabila diuraikan adalah, “Inilah putri-putri kaumku, kawinilah mereka jika kamu hendak berbuat, yakni melampiaskan dorongan seksual kamu, karena itulah cara yang halal, sehat, terhormat dan sesuai dengan fitrah manusia.”

Jadi maksudnya adalah, nikahi putri-putri kaumku, yakni wanita yang tinggal di pemukiman mereka. Memang, nabi atau pemimpin suatu masyarakat adalah bapak anggota masyarakat itu, sedang masyarakat umum – apalagi yang muda – adalah putra-putri bangsa.

Sementara, ada juga ulama yang berpendapat, kalimat tersebut memang secara spesifik menunjuk kepada para putri kandung Nabi Luth. Dan menurut penganut paham ini, walaupun putrinya hanya dua atau tiga orang, sedang yang datang menemui beliau banyak pria, tetapi yang beliau maksudkan adalah mengawinkan kedua atau ketiga putrinya itu dengan dua atau tiga tokoh masyarakatnya yang diharapkan dapat mempengaruhi dan mencegah yang lain.[2] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Tafsir Surat Al-Hijr Ayat 61-64 dalam Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Vol 7 (Jakarta : Lentera Hati, 2002), hlm 145-147.

[2] Tafsir Surat Al-Hijr Ayat 70-71 dalam Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Vol 7, Ibid., hlm 150-151.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*