Mozaik Peradaban Islam

Kisah Tentang Adam (15): Hubungan Iblis dengan Anak-anak Adam

in Studi Islam

Last updated on August 17th, 2018 01:21 pm

“Ketika Hawa menjadi berat dengan kehamilan pertamanya, Iblis mendatanginya dalam tidur dan berkata ‘Panggillah dia Abdul (hamba) Harits jika ingin dia selamat!’ Iblis sebelumnya memiliki nama al-Harits. Hawa menyetujuinya.”

–O–

Photo ilustrasi: Lukisan karya Henry Fuseli (1741 – 1825) yang berjudul “Mimpi Buruk”.

Dalam artikel sebelumnya telah disebutkan ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa manusia pertama yang mati di bumi adalah Adam, dan menyangkal bahwa dua orang yang dimaksud dalam firman Allah SWT ini: “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata Habil: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa,’” bukanlah keturunan langsung Adam.

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub dari Nabi Muhammad SAW mengatakan:

“Tak satu pun anak-anak Hawa selamat. Karena itu, dia bersumpah bahwa jika salah satu anaknya selamat, dia akan memanggilnya Abdul Harits. Ketika salah seorang anaknya selamat, dia memanggilnya Abdul Harits. Itu karena bisikan Setan.”[1]

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:

“Hawa melahirkan anak-anak dari Adam dan memerintahkan mereka menyembah Allah SWT, memanggil mereka ‘Abdullah, Ubaidillah (yang berarti Hamba Allah atau Hamba Kecil Allah), dan sejenisnya. Tetapi kemudian mereka akan mati. Sekarang, Iblis datang kepadanya dan kepada Adam, dan berkata: ‘Apabila kalian memberi mereka nama lain, mereka akan bertahan hidup.’ Kemudian, ketika dia melahirkan seorang anak laki-laki untuk Adam, mereka memanggilnya Abdul Harits.

Dalam hubungan ini, Allah mengungkapkan firman-Nya: ‘Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: ‘Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.’”[2]

Masih mengomentari ayat yang sama (Q.S Al-A’raf Ayat 189), Sa’id bin Jubair meriwayatkan:

“Ketika Hawa menjadi berat dengan kehamilan pertamanya, Setan datang kepadanya sebelum dia melahirkan, dan berkata: ‘Hawa, apa itu yang berada di dalam perutmu?’ Dia berkata: ‘Aku tidak tahu.’ Dia bertanya: ‘Dari mana itu akan keluar? Dari hidung, mata, atau telingamu?’ Dia kembali menjawab: ‘Aku tidak tahu.’ Dia berkata: ‘Tidakkah engkau berpikir, jika itu keluar dengan sehat, engkau harus mematuhiku dalam apa pun yang aku perintahkan kepadamu?’ Ketika dia berkata: ‘Ya,’ dia berkata: ‘Panggillah dia Abdul Harits!’ Iblis (semoga Allah mengutuknya!) sebelumnya dipanggil al-Harits. Dia (Hawa) setuju.

“Setelah itu, dia berkata kepada Adam: ‘Seseorang datang kepadaku dalam tidurku dan memberitahuku ini dan itu.’ Adam berkata: ‘Itu adalah Setan. Waspadalah terhadap dia, karena dia adalah musuh kita yang membuat kita keluar dari Surga. Kemudian Iblis (semoga Allah mengutuknya!) kembali lagi ke dia dan mengulangi lagi apa yang dia katakan sebelumnya, dan dia setuju. Ketika dia melahirkan anak itu, Allah SWT membuatnya keluar dengan sehat. Namun, dia memanggilnya Abdul Harits.

“Inilah yang dimaksud dengan firman Allah SWT: ‘Maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.’”[3]

Terkait riwayat-riwayat di atas, Jarir bin Abdul Hamid berpendapat bahwa ketika Hawa hamil besar dan dia merasa berat (kesulitan), dia menjadi sangat khawatir, sehingga Iblis dapat dengan mudah memperdayanya, “Jadi persekutuan Adam (dengan selain Allah SWT) hanya sebatas pada (pemberian) nama,” bukan dalam artian persekutuan yang sesungguhnya.

Sementara itu, dalam riwayat lain, kisahnya agak berbeda, sebagaimana disampaikan oleh al-Suddi:

“Dia (Hawa) melahirkan seorang anak laki-laki. Iblis mendatanginya dan berkata: ‘Panggil dia hambaku (‘abdi)! Jika engkau tidak, aku akan membunuhnya.’ Adam berkata kepadanya: ‘Aku mematuhimu (sebelumnya), dan kau membuatku diusir dari Surga.’ Jadi dia menolak untuk mematuhinya dan memanggil anaknya Abdurrahman (Hamba Yang Maha Pengasih). Setan (semoga Allah mengutuknya!) menguasai anak itu dan membunuhnya.

“Hawa melahirkan anak lain, dan ketika dia melahirkannya, Setan berkata: ‘Panggil dia hambaku! Jika tidak, aku akan membunuhnya.’ Adam berkata kepadanya (lagi): ‘Aku mematuhimu (sebelumnya), dan kau membuatku diusir dari Surga.’ Jadi dia menolak dan memanggil anaknya Salih, dan Setan membunuhnya.

“Untuk ketiga kalinya, Iblis berkata kepada Adam dan Hawa: ‘Jika kalian (ingin) mengatasiku (untuk tidak membunuh), panggil dia Abdul Harits!’ Nama Iblis sebelumnya adalah al -Harits. Dia disebut Iblis ketika dia berbuat buruk (ublisa, melakukan sesuatu yang kacau) . Ini (yang dimaksudkan oleh firman Allah) di mana Dia berkata: ‘Maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya,’[4] yang maksudnya adalah sehubungan dengan pemberian nama.”

Al-Tabari berkesimpulan, bahwa seluruh riwayat pada umumnya, baik itu kisah tentang Qabil dan Habil maupun tentang campur tangan Iblis dalam meninggalnya anak-anak Adam, menyatakan bahwa beberapa anak Adam meninggal terlebih dahulu sebelum Adam. Hal itu bertentangan dengan pernyataan al-Hasan al-Basri yang mengatakan bahwa manusia pertama yang mati di Bumi adalah Adam.(PH)

Bersambung ke:

Kisah Tentang Adam (16): Nabi Pertama dan Kedua

Sebelumnya:

Kisah Tentang Adam (14): Qabil dan Habil (4)

Catatan:

Seluruh artikel ini merupakan penceritaan ulang dari buku Al-Ṭabari, Taʾrīkh al-Rusūl wa al-Mulūk: Volume 1, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Franz Rosenthal (State University of New York Press: New York, 1989), hlm 317-322. Adapun informasi lainnya dicantumkan dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] Mengacu kepada penafsiran Q.S Al-A’raf Ayat 190 berdasarkan Tafsir Jalalayn, Al-Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih; Tirmizi mengatakan bahwa predikat hadis ini hasan gharib, dari laman  https://tafsirq.com/7-al-araf/ayat-190#tafsir-jalalayn, diakses 16 Agustus 2018.

[2] Q.S Al-A’raf Ayat 189.

[3] Lihat Q.S Al-A’raf Ayat 190.

[4] Lihat Q.S Al-A’raf Ayat 190.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*